Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Karyawan menggunakan ponsel di main hall Bursa Efek Indonesia, Jakarta. Foto ilustrasi: Beritasatu Photo/Uthan AR

Karyawan menggunakan ponsel di main hall Bursa Efek Indonesia, Jakarta. Foto ilustrasi: Beritasatu Photo/Uthan AR

Big Tech Siap Kudeta Emiten Konvensional

Senin, 19 Juli 2021 | 11:05 WIB
Lona Olavia ,Muhammad Ghafur Fadillah (muhamad.ghafurfadillah@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – Kalangan analis dan pengamat pasar modal meyakini perusahaan teknologi bervaluasi besar atau big tech bakal ‘mengkudeta’ para emiten konvensional dari singgasana kapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Setelah PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) yang akan mencatatkan sahamnya pada 6 Agustus mendatang, tiga big tech yang bakal menyusul masuk BEI adalah GoTo, J&T Express, dan Traveloka.

Hingga 16 Juli 2021, Bank Central Asia (BBCA) memimpin market cap di BEI dengan nilai Rp 745,7 triliun, disusul Bank BRI (BBRI) di urutan kedua sebesar Rp 468,9 triliun, PT Telekomunikasi Indonesia (TLKM) Rp 314 triliun, Bank Mandiri (BMRI) Rp 271,4 triliun, Bank Jago (ARTO) Rp 218,1 triliun, Astra International (ASII) Rp 197,6 triliun, Unilever Indonesia (UNVR) Rp 196,5 triliun, Chandra Asri Petrochemical (TPIA) Rp 170,8 triliun, Elang Mahkota Teknologi (EMTK) Rp 153,6 triliun, dan DCI Indonesia (DCII) sebesar Rp 140,6 triliun.

Dari 10 emiten tersebut, hanya DCII yang masuk klasifikasi industri teknologi. Menurut perkiraan analis, jika jadi listing di BEI, market cap GoTo setelah IPO nanti akan sekitar Rp 560 triliun dan bakal menjadi yang terbesar kedua di BEI di bawah BBCA dan akan menyalip BBRI.

Kapitalisasi pasar emiten terbesar di BEI
Kapitalisasi pasar emiten terbesar di BEI

Sementara market cap J&T diperkirakan sebesar Rp 109 triliun berada di urutan ke- 13, Bukalapak Rp 88 triliun di urutan ke-18, dan Traveloka Rp 40 trliun di urutan ke-24. Berdasarkan perkembangan klasifikasi IDX Industrial Classification (IDXIC) yang diterapkan BEI, indeks pada klasifikasi industri teknologi (IDX Technology) terus mencatatkan penguatan hingga mencapai 884,4% secara year to date (ytd) pada 16 Juli 2021, disusul klasifikasi industri kesehatan yang naik 11,3% (ytd).

Masuknya perusahaan All Commerce Bukalapak di BEI akan menjadi perhatian para investor baik ritel maupun institusi. Pasalnya, perusahaan yang akan masuk pada sektor teranyar di BEI ini mampu memberikan prospek pertumbuhan yang tinggi.

Menurut Direktur PT Avrist Asset Management, Tubagus Farash Akbar Farich, rencana IPO para perusahaan teknologi seperti Bukalapak, GoTo, J&T Express, dan Traveloka akan menjadi daya tarik yang besar bagi para investor, sejalan dengan perusahaannya yang berkembang cukup pesat saat ini.

“Investor saat ini menyukai perusahaan yang sedang bertumbuh, hal ini selalu dilihat pada saat IPO,” kata Tubagus Farash kepada Investor Daily, akhir pekan lalu.

kapitalisasi pasar 20 emiten terbesar di BEI
kapitalisasi pasar 20 emiten terbesar di BEI

Selain itu, para investor juga berkaca dari bursa asing dimana tren perusahaan teknologi sedang meningkat dan menjadi pemimpin.  IPO menjadi salah satu cara investor untuk dapat memiliki saham teknologi yang sebelumnya hanya bisa dimiliki secara private.

Tingginya minat juga ditopang oleh investor baru yang lebih cenderung menyukai perusahaan teknologi.

“Di samping itu, kapitalisasi pasarnya juga cukup besar bobotnya di indeks. Sehingga investor yang menerapkan strategi portfolio indexing besar kemungkinan menambah saham-saham ini ke dalam portofolio mereka,” ujarnya.

Lebih lanjut, Tubagus menjelaskan, Bukalapak sebagai perusahaan teknologi pertama yang akan mencatatkan sahamnya di BEI, akan menjadi percontohan bagi perusahaan sejenis.

Diharapkan, rencana Bukalapak akan didukung oleh perusahaan lainnya agar dapat berjalan sukses. Dengan demikian, para investor yang berminat pada saham IPO selanjutnya semakin besar. Berdasarkan prospektus, Bukalapak menawarkan harga IPO sebesar Rp 750-850 per saham.

Menurut Tubagus, harga yang ditawarkan tersebut masih dalam taraf yang wajar. Bahkan para investor diproyeksikan short covering order yang berpeluang menaikkan harga saham Bukalapak pasca listing.

Analis Sucor Sekuritas Hendriko Gani
Analis Sucor Sekuritas Hendriko Gani

Hal senada juga diucapkan oleh Analis Sucor Sekuritas Hendriko Gani. Menurut dia, jika dibandingkan dengan bisnis sejenis seperti Shopify, Bukalapak ditawarkan pada valuasi yang hampir sama.

“Dari dalam negeri sendiri, harga saham Bukalapak agak sulit untuk dibandingkan, lantaran belum memiliki peers di Indonesia dan memiliki business model yang sedikit berbeda jika dibandingkan dengan e-commerce lain di negara lain,” kata Hendriko.

Tingginya minat masyarakat pada perusahaan emiten teknologi yang sedang booming, diproyeksikan akan meningkatkan harga saham Bukalapak secara jangka pendek.

Sedangkan untuk jangka panjang akan tergantung dari kinerja yang diberikan oleh Bukalapak.

“Dengan estimasi market cap sekitar Rp 87,6 triliun Bukalapak berpotensi mengisi 20 besar IHSG saat IPO. Diproyeksikan naik signifikan dalam beberapa hari pertama IPO, Bukalapak berpotensi mengisi 10 besar IHSG,” jelas Hendriko.

Valuasi Big Tech

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Hoesen dalam diskusi Tren Investasi Kekinian Berbasis ESG, Selasa (26/1).
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Hoesen

Sementara itu, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Hoesen saat meyampaikan keynote speech pada acara Investor Daily Summit 2021 sesi 9 dengan topik “Menanti IPO Perusahaan Big Tech,” Kamis (15/7),  mengatakan, saat ini ada tiga perusahaan rintisan (startup) bervaluasi unicorn dan decacorn yang siap melakukan penawaran umum perdana (IPO) saham di BEI.

Hoesen tidak merinci nama-nama perusahaan startup yang dimaksud, ia hanya menyebut total valuasi aset dari tiga perusahaan rintisan itu di atas US$ 21,5 miliar atau sekitar Rp 311,75 triliun (kurs Rp 14.500/US$). Unicorn mempunyai valuasi minimal US$ 1 miliar (Rp 14,4 triliun), sedangkan decacorn minimal US$ 10 miliar (Rp 145 triliun).

Pandu P Sjahrir, Komisaris BEI dan Ketua Umum AFTECH  dalam Investor Daily Summit 2021 hari ke-3 pada Sesi 9:  Menanti IPO Perusahaan Big Tech, Kamis (15/7/2021). Foto: Investor Daily/David Gita Roza
Pandu P Sjahrir, Komisaris BEI dan Ketua Umum AFTECH d Foto: Investor Daily/David Gita Roza

Pada kesempatan yang sama, Komisaris BEI Pandu Patria Sjahrir menjelaskan, Gojek-Tokopedia (GoTo) menjadi perusahaan rintisan dengan kapitalisasi pasar terbesar yakni US$ 18 miliar atau setara dengan Rp 261 triliun.

Kemudian, kapitalisasi pasar J&T Express sejumlah US$ 7,8 miliar atau Rp 113,1 triliun. Bukalapak US$ 6,05 miliar atau Rp 87,72 triliun, dan terakhir kapitalisasi pasar yang dimiliki oleh Traveloka mencapai US$ 2,75 miliar, setara dengan Rp 39,87 triliun.

“Bukalapak akan masuk urutan 15 dalam top 20 perusahaan dengan kapitalisasi pasar yakni sebanyak Rp 87,60 triliun bersama dengan perusahaan besar lainnya, seperti BBCA, BBRI, TLKM, BMRI dan saham lainnya,” kata Pandu. Dia menjelaskan lebih lanjut, BEI menyesuaikan beberapa regulasi agar perusahaan teknologi seperti Bukalapak, Gojek-Tokopedia atau GoTo, Traveloka, dan J&T Express lebih mudah untuk IPO. Salah satu di antaranya regulasi terkait multi voting share (MVS).

Sementara itu, Kepala Riset MNC Sekuritas Thendra Chrisnanda kepada Investor Daily, Sabtu (17/7), menyampaikan, asumsi valuasi GoTo setelah IPO sangat besar, yakni berkisar US$ 35-40 miliar atau sekitar Rp 420-560 triliun (asumsi kurs Rp 14.000 per dolar AS). Karena itu, lanjut dia, market cap GoTo nantinya akan menjadi yang terbesar kedua di BEI, di bawah PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) senilai Rp 742 triliun dan menyalip PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) sejumlah Rp 486 triliun.

Setelah rights issue, BBRI diproyeksinya akan memiliki market cap Rp 564,29 triliun. Nilai tersebut datang dari asumsi harga BBRI sebelum cum date dividend adalah Rp 3.800 dengan harga teoritis Rp 3.712 dan jumlah saham beredar BBRI setelah rights issue sebanyak 152,02 miliar lembar saham.

”Bandingkan saja BBRI setelah rights issue Rp 564,29 triliun versus GoTo US$ 40 miliar. Apabila asumsi nilai tukar Rp 14.500, maka nilai IPO GoTo sebesar Rp 507,5 triliun hingga Rp 580 triliun,” ujar Thendra.

Perkembangan klasifikasi industrial di BEI
Perkembangan klasifikasi industrial di BEI

Sementara itu, asumsi valuasi Bukalapak setelah IPO senilai US$ 3,5 miliar atau sekitar Rp 52,5 triliun. Secara total, valuasi GoTo dan Bukalapak setelah IPO mencapai US$ 43,5 miliar atau sekitar Rp 609 triliun, sekitar 12% dari kapitalisasi pasar IHSG saat ini.

“Sedangkan sebagai acuan nilai valuasi Traveloka saat ini pre-IPO itu sekitar US$ 5 miliar sedangkan J&T sekitar US$ 7,8 miliar,” sebut Thendra.

GoTo yang didukung investor kakap penyandang dana seperti Alibaba Group, Astra International, BlackRock, Capital Group, DST, Facebook, Google, JD.com, KKR, Northstar, Pacific Century Group, PayPal, Provident, Sequoia Capital, SoftBank Vision Fund 1, Telkomsel, Temasek, Tencent, Visa, dan Warburg Pincus, jika nantinya IPO di BEI maka akan mendongkrak market cap secara signifikan, karena market cap GoTo diprediksi mencapai US$ 35-40 miliar Dengan nilai tersebut, maka GoTo disinyalir akan menduduki peringkat kedua market cap terbesar menyalip posisi BBRI. “Market cap GoTo diperkirakan mencapai Rp 579 triliun,

Bukalapak dengan harga penawaran tertinggi Rp 850 maka ada di Rp 87-88 triliun. Meski setelah rights issue harga saham BBRI ada kemungkinan rebound dari penurunan yang sampai sekarang masih terjadi, tapi GoTo  akan melampaui market cap BBRI,” kata Kepala Riset Henan Putihraib Sekuritas Robertus Yanuar Hardy.

Kepala Riset Henan Putihrai Sekuritas Robertus Yanuar Hardy. Foto: IST
Kepala Riset Henan Putihrai Sekuritas Robertus Yanuar Hardy. Foto: IST

Menurut Henan, meskipun valuasi cukup mahal, namun antusiasme investor ritel dan institusi cukup tinggi untuk menyambut datangnya emiten yang bergerak di bidang teknologi.

Sehingga, IPO unicorn teknologi bakal menjadi darah segar bagi BEI dan membuat likuiditas bursa domestic lebih bergairah di tengah pandemi, serta meningkatkan pamor dan reputasi BEI di regional dan global. Terkait antusias investor terhadap IPO emiten big technology, Thendra menuturkan, apabila berdasarkan survei internal, terlihat ketertarikan dari investor institusi dan ritel terhadap IPO teknologi cukup besar.

“Tetapi validasi atas antusiasme tersebut dapat terlihat dari hasil bookbuilding dari Bukalapak,” ucapnya.

Lanskap startup Asean
Lanskap startup Asean

Senada, Analis PT Sucor Sekuritas Edward Lowis menyebutkan adanya rights issue berpotensi besar mengangkat market cap BBRI mendekati Rp 600 triliun. Sebab, market cap BBRI saat ini sudah Rp 480 triliun dan ditambah dengan potensi danayang bisa diambil dari rights issue sebesar Rp 96 triliun.

Sementara itu, BBCA masih bertengger sebagai emiten dengan market cap terbesar, yakni mencapai Rp 746 triliun. Selain peningkatan market cap tersebut, hal lain yang perlu dicermati dari rights issue ini adalah dampak positifnya terhadap perkembangan bisnis BRI.

Pasalnya, rights issue ini bisa memberikan manfaat bagi BRI berupa perluasan jaringan dan layanan ke segmen ultra mikro serta usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Namun, setelah GoTo melakukan IPO dengan perkiraan valuasi sekitar Rp 580 triliun atau US$ 40 miliar, maka ada kemungkinan GoTo akan mengungguli market cap BBRI.

Emiten teknologi mendominasi bursa AS
Emiten teknologi mendominasi bursa AS

“Masih terlalu dini ya sepertinya, tapi ada kemungkinan GoTo bisa lebih tinggi setelah IPO nanti. Terutama kalau kita melihat antusiasme investor terhadap IPO big tech sekelas GoTo,” ujar Edward.

Hinga 9 Juli 2021 atau year to date (ytd), ada 84 emisi baru, di antaranya 23 IPO senilai Rp 6,45 triliun. Ditambah rights issue, obligasi, dan sebagainya, raihan dananya Rp 92,68 triliun. Jumlah investor juga melonjak, dan sudah mencapai 5,6 juta per Juni 2021 dibandingkan Desember 2020 sebanyak 3,88 juta.

“Tahun 2021 hingga 9 Juli, sudah terdapat 23-25 emiten baru IPO dengan nilai penawaran umum tak kurang dari Rp 6,45 triliun. Selama tahun 2020 hingga 30 Desember, ada 54 emiten baru IPO,” tutur Hoesen.

Perlu Metode Valuasi

Analis CSA Research Institute. Foto: IST
Analis CSA Research Institute. Foto: IST

Secara terpisah, Analis Senior CSA Research Institute Reza Priyambada menilai, untuk saham Bukalapak diperlukan metode valuasi yang berbeda dibandingkan dengan harga saham perusahaan pada umumnya. Pasalnya, sejumlah beban yang dimiliki oleh perusahaan teknologi sebagai bentuk dari operasional promosi yang menjadi andalan dari perusahaan All Commerce untuk bersaing dengan konvensional.

“Terlebih, apabila menggunakan metode price to earning (PER), Bukalapak sendiri masih minus. Harusnya ada metode valuasi tambahan yang lebih sesuai untuk diterapkan pada perusahaan seperti ini, semisal revenue per user atau per tenant seperti itu,” kata Reza.

Apabila berjalan sukses, diharapkan perusahaan start-up lainnya juga dapat mengikuit jejak Bukalapak dalam mencari alternatif pendanaan melalui pasar modal. Bahkan bukan tidak mungkin perusahaan seperti Ruang Guru dan sejenis bisa melantai di BEI ataupun menerbitkan obligasi.

Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI) I Gede Nyoman Yetna. Foto: IST
Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI) I Gede Nyoman Yetna. Foto: IST

Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna Setia menilai, dengan masuknya PT Bukalapak. com Tbk (BUKA) ke pasar modal Indonesia, diharapkan dapat menarik masuknya perusahaan-perusahaan unicorn lainnya di pasar domestic dan menarik minat investor untuk berinvestasi.

Para investor tentunya memiliki referensi dan portofolio investasi masing-masing termasuk dari saham perusahaan yang akan IPO. Referensi tersebut baik didasarkan oleh pilihan sektor, prospek usaha ke depan ataupun ukuran perusahaan yang bisa terdiversifikasi dari perusahaan yang tercatat di papan utama, pengembangan, dan akselerasi.

“Kami yakin bahwa IPO dari perusahaan- perusahaan dengan berbagai jenis, sektor usaha dan ukuran akan mendapatkan apresiasi baik oleh para investor,” ungkap dia. (jn)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN