Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bio Farma. Foto Ilustrasi: Istimewa.

Bio Farma. Foto Ilustrasi: Istimewa.

Bio Farma Kuasai Saham Kimia Farma dan Indofarma

Senin, 21 Oktober 2019 | 10:24 WIB
Farid Firdaus (farid.firdaus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – PT Bio Farma (Persero) resmi menjadi holding farmasi yang menaungi PT Kimia Farma Tbk (KAEF) dan PT Indofarma Tbk (INAF). Sementara itu, Kimia Farma tengah mematangkan rencana kerja sama di bisnis kosmetik dengan salah satu perusahaan asal Korea Selatan.

Presiden Joko Widodo telah menandatangani Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 76 Tahun 2019 tentang Penambahan Penyertaan Modal Negara Republik Indonesia ke dalam Bio Farma pada 15 Oktober 2019.

Tim Sekretariat Kabinet (Setkab) Republik Indonesia mengatakan, penambahan penyertaan modal negara sebagaimana dimaksud berasal dari pengalihan seluruh saham Seri B milik Negara Republik Indonesia pada Kimia Farma dan Indofarma.

“Penambahan penyertaan modal negara sebagaimana dimaksud sebanyak 4,99 miliar saham Seri B pada Kimia Farma dan sebanyak 2,49 miliar saham Seri B pada Indofarma yang telah ditempatkan dan disetor penuh oleh negara,” tulis Setkab dalam keterangan resmi, seperti dilaporkan Investor Daily, hari ini.

Nilai penambahan penyertaan modal negara sebagaimana dimaksud, menurut PP ini, ditetapkan oleh Menteri Keuangan berdasarkan usulan dari Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Pasal 3 PP ini menyebutkan, dengan pengalihan saham Seri B, negara mengendalikan Kimia Farma dan Indofarma melalui kepemilikan saham Seri A dwi warna dengan kewenangan sebagaimana diatur dalam anggaran dasar.

Penambahan penyertaan modal negara, menurut PP ini, mengakibatkan status Persero pada Kimia Farma dan Indofarma berubah menjadi perseroan terbatas yang tunduk sepenuhnya pada Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas.

Selain itu, Bio Farma otomatis menjadi pemegang saham Kimia Farma dan Indofarma. “Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan,” sesuai bunyi Pasal 6 Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2019, yang telah diundangkan oleh Plt. Menteri Hukum dan HAM, Tjahjo Kumolo, pada 17 Oktober 2010.

Seperti diketahui, September lalu, terjadi pertukaran direksi antara Kimia Farma dan Bio Farma. Pemegang saham Kimia Farma sepakat menunjuk Verdi Budidarmo sebagai direktur utama perseroan menggantikan Honesti Basyir.

Sementara itu, Honesti Basyir ditunjuk sebagai direktur utama Bio Farma per 13 September 2019, menggantikan Rahman Rustan. Selain itu, I Gusti Ngurah Suharta Wijaya juga ditunjuk sebagai direktur keuangan dan mitra bisnis Bio Farma, yang sebelumnya merupakan direktur keuangan Kimia Farma.

Sebagai informasi, Verdi Budidarmo sebelumnya menjabat sebagai direktur produksi & supply chain Kimia Farma sejak 20 April 2017. Sementara itu, direktur keuangan Kimia Farma yang kini dijabat oleh Pardiman, sebelumnya merupakan direktur keuangan Bio Farma.

Pada kesempatan sama, Honesti Basyir menerangkan, Bio Farma yang akan menjadi induk holding juga tidak berencana menyerap rights issue Kimia Farma.

Dengan demikian, jika pemerintah telah melakukan inbreng saham Kimia Farma kepada Bio Farma, maka Bio Farma akan membiarkan kepemilikan saham dalam Kimia Farma terdilusi. Adapun efek dilusi rights issue sekitar 22%. Alhasil, kepemilikan Bio Farma dalam Kimia Farma berpotensi menjadi 70%.

Adapun jumlah saham baru yang akan diterbitkan Kimia Farma mencapai 1,57 miliar saham atau setara 22,14%. Hingga saat ini, harga pelaksanaan rights issue belum ditetapkan.

Rencana Kimia Farma

Secara terpisah, Sekretaris Perusahaan Kimia Farma Ganti Winarno mengatakan, perseroan melakukan langkah-langkah antisipasi untuk menjaga cash flow perseroan dengan meningkatkan penjualan produk-produk di sektor reguler.

“Selain itu, perseroan juga melakukan ekspansi bisnis untuk memperluas pasar penjualan produk perseroan seperti produk obat bebas atau OTC dan kosmetika yang memiliki potensi pasar cukup besar,” jelas dia kepada Investor Daily.

Untuk kerja sama dengan mitra asal Korea Selatan, Ganti mengakui, hal tersebut masih dalam proses kajian, sehingga belum bisa ditetapkan model kerjasamanya. Perseroan menargetkan kesepakatan bisa dilakukan pada kuartal IV-2019.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN