Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Salim Ivomas Pratama

Salim Ivomas Pratama

Bisnis Hilir CPO Topang Salim Ivomas

Parluhutan Situmorang, Jumat, 15 Mei 2020 | 07:00 WIB

JAKARTA, investor.id - PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP) diproyeksikan mulai membukukan laba bersih tahun ini. Hal itu didukung oleh penjualan divisi minyak dan lemak nabati (edible oils and fats/EOF). Perseroan juga diperkirakan mendapatkan dukungan dari bisnis perkebunan kelapa sawit yang cenderung membaik tahun ini. Analis Sinarmas Sekuritas Andrianto Saputra mengungkapkan, perolehan laba bersih tersebut didukung oleh hampir seluruh lini bisnis Salim Ivomas, seperti perkebunan kelapa sawit serta minyak dan bisnis EOF.

Penjualan minyak nabati diharapkan menjadi faktor utama penopang perseroan untuk mulai meraup laba bersih tahun ini.

Andrianto memproyeksikan Salim Ivomas mulai membukukan laba bersih senilai Rp 45 miliar tahun ini dibandingkan rugi bersih tahun lalu mencapai Rp 546 miliar. Pendapatan diperkirakan hanya turun tipis dari Rp 13,65 triliun pada 2019 menjadi Rp 13,25 triliun sepanjang 2020.

Dia menegaskan, integrasi bisnis dari hulu sampai hilir menjadi kunci utama bisnis perseroan. Berdasarkan data perseroan terungkap bahwa sebesar 75% volume penjualan berasal dari hilirisasi produk minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO). “Sejak perseroan memfokuskan bisnis di hilirisasi produk minyak sawit, tingkat pertumbuhan penjualan perseroan lebih stabil, sehingga bisa berimbas terhadap terjaganya pendapatan perseroan ke depan,” ungkap Andrianto dalam risetnya, baru-baru ini.

Minyak nabati dari GIMNI. Foto: gimni.org
Minyak nabati. Foto: gimni.org

Terkait penjualan divisi minyak dan lemak nabati selama masa pandemi Covid-19, dia mengakui memang cenderung turun akibat pelemahan tingkat konsumsi masyarakat, penutupan sementara sejumlah ritel makanan dan minuman, serta hotel.

“Berdasarkan hal tersebut, kami memperkirakan penjualan lemak dan minyak nabati perseroan bakal turun sebesar 3,15%. Namun, margin laba operasional diharapkan bertambah sekitar 1,7% tahun ini,” jelas dia.

Adapun margin laba operasional Salim Ivomas diproyeksikan mencapai 4,7% tahun ini atau jauh di atas rata-rata tahunan sejak tahun 2015 hanya mencapai 2,9%. Sedangkan margin laba operasional divisi perkebunan kelapa sawit diharapkan mencapai 3,3% tahun ini atau turun akibat rendahnya harga jual CPO.

Berbagai faktor tersebut mendorong Sinarmas Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham SIMP dengan target harga Rp 292. Target harga tersebut mempertimbangkan peluang perseroan mulai membukukan laba bersih perseroan tahun ini.

Bisnis CPO

Panenan sawit siap diproses di pabrik. Foto ilustrasi: Investor Daily/Gora Kunjana
Panenan sawit siap diproses di pabrik. Foto ilustrasi: Investor Daily/Gora Kunjana

Salim Ivomas Pratama merupakan induk usaha PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) atau Lonsum, perusahaan perkebunan kelapa sawit dan CPO. Mengenai bisnis CPO ini, Andrianto mengungkapkan sejumlah tantangan sepanjang tahun ini. Tantangan tersebut berasal dari penurunan permintaan CPO di tengah pandemi Covid-19. Penurunan harga minyak dunia juga berimbas negatif terhadap bisnis CPO tahun ini.

“Sejak pandemi Covid-19, saham sektor perkebunan sawit dan CPO telah anjlok cukup dalam atau melampaui kondisi sebenarnya. Harga saham sektor CPO turun sekitar 37% terhitung sejak awal tahun 2020 hingga kini dibandingkan dengan penurunan IHSG yang mencapai 26,5%,” jelas Andrianto.

Dia menegaskan, penurunan harga saham sektor perkebunan telah mencapai titik terendah dan semua berita negatif sudah tercermin pada harga sekarang, sehingga kecil kemungkinan penurunan lebih lanjut. Faktor tersebut mendorong Sinarmas Sekuritas untuk merekomendasikan netral saham perkebunan dan CPO.

Terkait prospek bisnis CPO, menurut Andrianto, cenderung melemah setelah pandemi Covid- 19 melanda dunia. Produksi turun seperti yang diumumkan Pemerintah Malaysia bahwa produksi CPO negara tersebut telah turun sekitar 25% hingga akhir Maret 2020. Sedangkan permintaan juga melemah akibat lockdown sejumlah Negara bersamaan dengan penurunan konsumsi domestik.

“Penurunan konsumsi domestik dipengaruhi faktor pelarangan bepergian atau penutupan sejumlah wilayah yang berdampak terhadap bisnis kuliner dan hotel. Penurunan juga dipicu oleh lockdown sejumlah Negara sehingga ekspor CPO terganggu,” jelas dia.

Dia juga mengkhawatirkan bahwa program mandatori biodiesel 30 tertunda akibat penurunan harga minyak dunia. “Sejak pandemi Covid-19, kami khawatir bahwa mandatory B30 di Indonesia dan B20 di Malaysia kemungkinan diundur. Sebab, program tersebut menjadi tidak efisien, apabila dibandingkan dengan harga pasar minyak dunia saat ini,” ungkap dia.

Berdasarkan data GAPKI bahwa permintaan CPO untuk program B20 mencapai 5,8 juta ton. Apabila program tersebut dinaikkan menjadi B30 diperkirakan penyerapan CPO untuk B30 mencapai 8,8 juta ton tahun ini. Jika diasumsikan harga jual minyak Brent US$ 30 per berel atau US$ 220 per ton dan CPO mencapai MYR 2.300 per ton atau US$ 523 per ton, pemerintah harus mengeluarkan dana tambahan dana senilai US$ 2,9 miliar untuk membiayai implementasi B30 tersebut.

“Hal ini kemungkinan membuat pemerintah untuk berpikir ulang dalam menerapkan program B30 tahun ini atau setidaknya selama pandemi Covid-19,” sebut Andrianto.

Meski industri CPO menghadapi tantangan berat, harga jual CPO tahun ini diproyeksikan lebih baik dibandingkan tahun lalu. Hal itu didukung oleh ekspektasi lonjakan permintaan CPO setelah pandemic Covid-19 berakhir. Sedangkan penurunan produksi tandan buah segar (TBS) diharapkan menjadi faktor pendorong peningkatan harga jual CPO.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN