Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bank BNI

Bank BNI

SEGERA KUASAI 63,92% TOTAL SAHAM

BNI bakal Sulap Bank Mayora Jadi Bank Digital UMKM

Senin, 24 Januari 2022 | 14:01 WIB
Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id) ,Gita Rossina

JAKARTA, investor.id – PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI siap mengakuisisi sekitar 1,2 miliar saham PT Bank Mayora, sehingga tak lama lagi bank BUMN ini bakal tercatat sebagai pemegang saham mayoritas dengan penguasaan hingga 63,92% dari total saham. Selanjutnya, BNI akan mentransformasi Bank Mayora menjadi bank digital yang fokus pada segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).  

“Layanan keuangan kepada segmen (UMKM) ini harus dilakukan dengan efektif dan efisien, di mana pendekatan digitalisasi merupakan solusi yang paling relevan,” ujar Sekretaris Perusahaan BNI Mucharom kepada Investor Daily pada Minggu (23/1/2022).

Sesuai rencana, BNI bakal mengambil alih sekitar 1,02 miliar saham baru yang diterbitkan oleh Bank Mayora. Kemudian, BNI juga akan membeli sebanyak 169,07 juta saham Bank Mayora yang dimiliki International Finance Corporation (IFC), unit usaha dari Bank Dunia.

Beberapa bank besar

Untuk menuntaskan proses akuisisi tersebut, BNI akan menggelar rapat umum pemegang saham (RUPS) guna meminta persetujuan pemegang saham pada 15 Maret 2022. Di hari yang sama, RUPS Bank Mayora secara sirkuler dilakukan untuk meminta persetujuan pengambilalihan.

“Pengambilalihan Bank Mayora oleh BNI akan dibiayai oleh pendanaan internal BNI, yakni dari dana yang tersimpan sebagai laba ditahan atau kekayaan BNI,” ungkap manajemen BNI dalam publikasinya, Sabtu (22/1).

Bank plat merah ini menargetkan pengambilalihan Bank Mayora efektif pada Mei 2022. Selanjutnya, struktur kepemilikan saham Bank Mayora bakal terdiri atas BNI (63,92%) dan PT Mayora Inti Utama (36,08%).

Saat ini, Mayora Inti Utama menguasai 80% saham Bank Mayora. Sisanya 20% saham dimiliki IFC.

Solusi Terintegrasi

Kinerja BNI

Rencana BNI mentrasformasi Bank Mayora sebagai bank digital dilakukan seiring maraknya kemungculan bank digital di Tanah Air. Bank-bank itu menawarkan berbagai kemudahan bagi masyarakat dalam melakukan transaksi finansial.

Sebab itu, BNI tengah melakukan program transformasi, yang salah satu inisiasinya adalah memperkuat kapabilitas digital guna memenuhi kebutuhan dan ekspektasi pelanggan, sehingga akan membawa BNI menjadi penyedia solusi finansial terintegrasi berbasis digital dengan keunggulan internasional.

Pembentukan suatu bank digital melalui strategi anorganik adalah strategi perseroan untuk dapat mendukung transaksi digital masyarakat dan sejalan dengan transformasi BNI.

“Karenanya, perseroan akan mengambil alih Bank Mayora yang selanjutnya akan ditransformasi menjadi bank digital,” sebut BNI.

Mucharom menambahkan, kehadiran bank digital menjadi satu dari banyaknya solusi digital yang dikembangkan oleh BNI yang nantinya berbasis ekosistem.

“Ke depan, (Bank Mayora) fokus melayani UMKM dalam memenuhi segala kebutuhan layanan finansial mereka,” ucap dia.

Menurut Mucharom, segmen UMKM hingga kini memegang peranan penting dalam perekonomian Indonesia. Segmen ini menyerap hampir 97% tenaga kerja Indonesia dan berkontribusi lebih dari 60% terhadap total produk domestik bruto (PDB) Indonesia.

“Dengan demikian, segmen ini merupakan mesin pertumbuhan ekonomi masa depan,” tandas dia.

Di sisi lain, kerja sama antara BNI dan Mayora Group, salah satu grup usaha fast-moving consumer goods (FMCG) terkemuka di Indonesia, akan mendatangkan berbagai keunggulan.  Salah satunya adalah pengembangan ekosistem FMCG, baik domestic maupun mancanegara, yang merupakan target pasar potensial.

Pengembangan Organik

Bank Mayora. Foto: Perseroan.
Bank Mayora. Foto: Perseroan.

Selain mengakuisisi mayoritas saham Bank Mayora, BNI juga akan melakukan pengembangan secara organik, yaitu menghadirkan beragam inovasi untuk memperkuat produk dan layanan dengan memanfaatkan kemajuan teknologi.

“BNI tengah menjalankan sejumlah inisiatif untuk bertransformasi menjadi lembaga keuangan yang terunggul dalam layanan kinerja, dengan DNA yang akan BNI miliki nantinya sebagai penyedia solusi finansial terintegrasi berbasis digital dengan keunggulan internasional,” jelas Mucharom.

Sementara itu, Bank Mayora akan menghadirkan solusi digital berbasis ekosistem, khususnya untuk membantu UKM dalam mengakomodasi kebutuhan layanan perbankan dan bisnis UKM. Melalui pelaksanaan rencana pengambilalihan dan sinergi dengan BNI melalui optimalisasi jaringan yang tersebar di seluruh Indonesia, diharapkan layanan digital Bank Mayora dapat menjangkau lebih banyak pelanggan.

“Bank Mayora berpotensi untuk tumbuh dan beroperasi secara efisien melalui dukungan kekuatan dan peranan penting dari pemegang saham,” jelas BNI.

Hormati Hak Karyawan

Nasabah berada di kantor cabang Bank BNI, cabang Pondok Indah Mall, Jakarta. Foto ilustrasi: Investor Daily/David Gita Roza
Nasabah berada di kantor cabang Bank BNI, cabang Pondok Indah Mall, Jakarta. Foto ilustrasi: Investor Daily/David Gita Roza

Dalam publikasinya BNI menyatakan, tidak ada perubahan status, hak, dan kewajiban direksi dan dewan komisaris PT Bank Mayora sampai dengan penyelesaian transaksi akuisisi.

“Namun, sewaktu-waktu setelah penyelesaian transaksi pengambilalihan, bisa terdapat perubahan terhadap komposisi direksi dan dewan komisaris Bank Mayora,” tulis manajemen BNI. BNI menegaskan, setiap perubahan tersebut—apabila ada—akan dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Syarat dan ketentuan hubungan kerja karyawan Bank Mayora tidak akan dipengaruhi oleh pengambilalihan dan Bank Mayora akan tetap menghormati hak karyawan.

“Seluruh hak dan kewajiban karyawan akan diselesaikan dan dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku termasuk Undang -Undang Ketenagakerjaan,” sebut BNI.

Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira
Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira

Terkait rencana akusisi Bank Mayora oleh BNI tersebut, Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira berpendapat, langkah yang diambil BNI cukup tepat karena bank kecil relatif lebih murah untuk dijadikan bank digital dibanding harus buat dari nol.

Disamping itu, Bank Mayora punya basis kredit ke korporasi yang cukup kuat sehingga menambah portfolio BNI juga. “Dari segi produk, selama ini Bank Mayora mengembangkan wealth management dengan berbagai varian produk investasi. Artinya, infrastruktur Bank Mayora tidak bisa diremehkan,” kata Bhima kepada Investor Daily, Minggu (23/1/2022) malam.

Menurut dia, transformasi Bank Mayora ke bank digital jelas akan untungkan BNI karena biaya operasional Bank Mayora akan menurun. “Hal tersebut juga dinilai akan sangat menarik prospeknya apabila bisa menggabungkan antara pinjaman dunia usaha secara digital, ditambah dengan penetrasi ke pinjaman online jangka pendek plus layanan investasi,” pungkas Bhima.

Kiswoyo Adi Joe. Foto: BSTV
Kiswoyo Adi Joe. Foto: BSTV

Head of Investment PT Reswara Gian Investa Kiswoyo Adi Joe juga memiliki pandangan yang sama. Rencana BNI mengakuisisi Bank Mayora merupakan langkah yang tepat untuk melengkapi bisnis perbankan perseroan, melalui pengembangan bank digital.

“Bank BRI sudah punya Bank Agro, Bank Mandiri sudah punya BRIS (PT Bank Syariah Indonesia Tbk), tapi Bank BNI belum punya sama sekali. Dan bank-bank besar ini memang perlu bank-bank kecil yang lebih lincah untuk menyaingi bank digital atau bank kecil lainnya,” ujar dia.

Kiswoyo menambahkan, akuisisi ini juga menguntungkan kedua pihak. Bagi Mayora Group, masuknya BNI ke Bank Mayora akan meringankan beban untuk meningkatkan modal sesuai ketentuan Bank Indonesia.

Sementara bagi BNI, bank BUMN tersebut juga berpeluang menjalin kolaborasi bisnis dengan Grup Mayora, terutama dalam hal layanan perbankan di jaringan bisnis Mayora.

Kinerja Saham

Jadwal akuisisi bank
Jadwal akuisisi bank

 

Dengan diakuisisinya Bank Mayora, menurut Kiswoyo, BNI bisa mengimbangi bank-bank besar lainnya yang telah lebih dulu memulai untuk masuk ke bank digital. “Bisa jadi, BNI bisa ikut bersaing juga. Artinya, BNI akan berusaha mengimbangi seperti Bank Mandiri, BRI, atau BCA,” tutur dia.

Aksi korporasi ini, diyakini Kiswoyo, akan berdampak positif ke kinerja harga saham BNI. Langkah akuisisi ini juga diprediksi akan berjalan mulus dan mendapat persetujuan dari pemegang saham BNI.

“Memang kalau dilihat harga saham BNI masih mahal, tapi itu karena dia belum stock split. Kalau dilihat dari PBV (price to book value), dia yang paling murah,” kata Kiswoyo.

Dia meyakini, saham PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) masih dalam tren naik saat ini dan akan menguji level resistance Rp 7.200-7.500 dalam jangka pendek. Sementara untuk tahun ini, BBNI akan mencoba menembus level Rp 10.000.

Tiga Aksi Korporasi

Royke Tumilaar,  Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia Tbk dalam Economy Outlook 2022 yang digelar Beritasatu Media Holding (BSMH), Senin (22/11/2021). Foto: Investor Daily/David Gita Rosa
Royke Tumilaar, Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia Tbk  . Foto: Investor Daily/David Gita Rosa

Direktur Utama BNI Royke Tumilaar mengungkapkan, pada tahun ini pihaknya akan memuluskan tiga rencana aksi korporasi sebagai strategi ekspansi bisnis. Dengan merampungkan aksi korporasi tersebut, diharapkan akan mendorong pertumbuhan kinerja perseroan. Tiga aksi korporasi tersebut adalah mengakuisisi bank untuk dijadikan sebagai bank digital, menerbitkan obligasi berwawasan lingkungan (green bond), serta meningkatkan permodalan melalui rights issue.

Menurut Royke, untuk rencana akuisisi bank sebenarnya telah berlangsung sejak tahun lalu dan diharapkan bisa diselesaikan awal tahun ini.

“Akuisisi bank yang dalam proses finalisasi, mudah-mudahan dapat persetujuan di RUPS (rapat umum pemegang saham) tahun ini. Kalau akuisisi pada kuartal I kami harusnya sudah selesai, tidak bisa sebutkan nama, pasti harus selesai kuartal I,” terang dia dalam acara Money Talks, Kamis (20/1). Sebagai salah satu bank besar di Indonesia, kata Royke, kebutuhan untuk mempunyai bank digital menjadi penting bagi BNI. Ia mengaku, BNI memiliki banyak segmen dan tidak bisa hanya fokus pada satu segmen dengan teknologi yang dimilikinya saat ini.

“Ada segmen tertentu yang kami tidak bisa tumbuh dengan teknologi yang sekarang, karena cost mahal, harus murah tapi bisa meningkatkan scale transaksi lebih besar. Dengan teknologi sekarang sudah multi segmen, terlalu banyak,” imbuh dia.

Adapun segmen usaha kecil dan menengah (UKM) memiliki volatilitas yang cukup tinggi dan biaya akuisisi yang juga mahal. Selain itu, lanjut Royke, monitoring UKM sulit dilakukan. Oleh karena itu, dia melihat urgensi untuk mempunyai bank digital yang fokus pada segmen tersebut.

“Kalau dilakukan lewat digital bisa jadi segmen potensial cukup besar, dan kami punya top client value chain juga dan ekosistem dari dua partner akan jadi penyumbang di ekosistem ini. Jadi bisnis yang bagus untuk ke depan,” jelas Royke.

Rencana aksi korporasi kedua BNI adalah menerbitkan green bond. Hal tersebut sejalan dengan komitmen perseroan terkait implementasi environmental, social, and corporate governance (ESG).

Kemudian, aksi korporasi ketiga adalah melakukan penambahan modal melalui rights issue. Langkah tersebut selain memperkuat modal BNI, juga untuk mendukung anak usaha bank digital baru nanti untuk ekspansi bisnis.

“Kalau tumbuhnya agak kencang, digital bank kami akan konversi, untuk tumbuh kencang butuh tambahan dana, nanti inject ke anak usaha digital. Siap-siap likuiditas untuk pertumbuhan lebih baik. Kami akan rights issue kuartal III, mudah-mudahan sesuai rencana,” kata Royke.

Ia memaparkan, pertumbuhan kredit BNI tahun ini akan di atas rata-rata industri. Sebagai bank BUMN yang mendapat penugasan ekspansi bisnis global, BNI fokus mendorong nasabah meningkatkan penetrasi bisnis internasional. Ia pun optimistis kinerja tahun ini akan lebih baik dari tahun lalu.

“Terlebih proyeksi pertumbuhan ekonomi berada di kisaran 5% hingga 5,5% pada tahun ini. Ini saatnya untuk pemulihan ekonomi. Ini saatnya kita ambil momentum ekonomi agar tidak ketinggalan dari recovery-nya Negara lain,” jelas dia. (epa/ris/nid)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN