Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Gedung BNI.

Gedung BNI.

BNI Siapkan Rencana 'Rights Issue' Rp 11,7 Triliun

Jumat, 9 Juli 2021 | 06:05 WIB
Muawwan Daelami (muawwan@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) atau BNI menyiapkan rencana penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue senilai Rp 11,7 triliun. Aksi korporasi itu diharapkan terlaksana pada semester I-2022.

Dari rights issue Rp 11,7 triliun tersebut, pemerintah mesti menyuntikkan dana Rp 7 triliun dalam bentuk Penyertaan Modal Negara (PMN) untuk mempertahankan kepemilikan saham di BNI sekitar 60%.

“Kami sampaikan rasio kecukupan modal (CAR) BNI saat ini mengalami tekanan. Kalau kita bandingkan, posisi CAR saat ini terendah di kisaran 16% karena memang pertumbuhan aset maupun pinjaman BNI selama beberapa tahun terakhir tidak didukung dengan pembentukan laba atau returning earning yang memadai,” kata Wakil Menteri BUMN II Kartika Wirjoatmodjo dalam rapat kerja bersama Komisi VI DPR, Kamis (8/7).

Karena itu, sesuai dengan status BNI sebagai bank sistemik ditambah anjuran dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), maka perlu dilakukan penguatan modal tier 1 BNI. Selain itu, ia juga meyakini, BNI sedang dalam proses transformasi dan restrukturisasi yang diharapkan satu sampai dua tahun mendatang berbagai persoalan seperti non-performing loan (NPL) dapat diselesaikan. Seiring dengan penyelesaian NPL, BNI juga diharapkan dapat melakukan pertumbuhan optimal pada 2022.

Untuk pemenuhan modal dan pengembangan bisnis BNI, Kartika menerangkan bahwa telah disiapkan opsi pertama dengan menerbitkan perpetual bond senilai US$ 500 juta atau setara Rp 7 triliun pada kuartal III-2021. Selanjutnya, menyiapkan opsi kedua dengan mengajukan rights issue senilai Rp 11,7 triliun pada semester I-2022. Opsi kedua ini dinilai sebagai solusi ideal dalam menaikkan modal BNI.

“Jadi, ini yang kita harapkan bisa dilakukan bertahap. Namun, sekali lagi ini memang termasuk satu program yang penting karena sebagai bank sistemik, CAR tier 1 BNI bisa kembali ke kisaran 19-20%. Sehingga mempunyai stabilitas untuk menjaga kontinuitas equity risk management ke depan,” ucap Kartika.

BNI merupakan satu di antara 12 BUMN lain yang pada 2022 direncanakan mendapatkan injeksi pendanaan. Menteri BUMN Erick Thohir menyebutkan, total PMN yang akan dikucurkan pada 2022 senilai Rp 72 triliun yang ditujukan untuk keberlanjutan penyelesaian penugasan dan restrukturisasi.

“Jadi, dari rapat bulanan kami dengan Kementerian Keuangan, angka Rp 72 triliun ini belum ketemu. Tapi, sudah kurang lebih 90% dan kami tetap memberanikan diri meminta dukungan kepada anggota Komisi VI DPR RI agar angka ini bisa didukung dan kami tetap bekerja keras serta bersosialisasi dengan Kemenkeu,” tutur Erick.

Prospek Saham

Kalangan analis menilai, pemulihan kinerja operasional dan keuangan BNI sudah sesuai harapan yang ditunjukkan dari realisasi laporan keuangan pada kuartal I-2021. Meski demikian, perseroan diperkirakan tetap mengeluarkan biaya pencadangan (provisi) yang besar tahun ini.

Analis BRI Danareksa Sekuritas Eka Savitri mengungkapkan, perbaikan tersebut terlihat dari peningkatan laba operasional sebelum provisi BNI menjadi Rp 7,83 triliun pada kuartal I-2021 dibandingkan kuartal I-2020 yang sebesar Rp 7,4 trililun dan kuartal IV-2020 yang senilai Rp 7,72 triliun.

Sedangkan provisi perseroan tetap besar mencapai Rp 4,81 triliun pada kuartal I-2021 dibandingkan kuartal I-2020 yang sebesar Rp 2,11 triliun. Namun, nilainya jauh di bawah provisi kuartal IV-2020 yang sebanyak Rp 8,44 triliun. Masih tingginya provisi membuat laba bersih perseroan turun menjadi Rp 2,38 triliun pada kuartal I-2021 dibandingkan periode sama tahun lalu Rp 4,25 triliun. Meski demikian, perolehan laba tersebut melonjak dari realisasi pada kuartal IV-2020 yang mencatat rugi bersih Rp 914 miliar.

“Realisasi kinerja BNI pada kuartal I-2021 tersebut telah melampaui ekspektasi kami. Hal ini didukung oleh penurunan biaya kredit lebih besar dibandingkan ekspektasi kami semula. Lonjakan laba bersih juga didukung oleh peningkatan marjin bunga bersih,” tulis Eka dalam risetnya.

BRI Danareksa Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham BBNI dengan target harga Rp 8.000. Target tersebut mengimplikasikan perkiraan PBV sekitar 1,3 kali tahun ini. Target tersebut mengasumsikan CoE sekitar 11,4%.

Adapun laba bersih BNI tahun ini diproyeksikan meningkat menjadi Rp 7,08 triliun dibandingkan tahun lalu Rp 15,38 triliun. Laba operasional sebelum provisi (PPOP) diproyeksikan naik dari Rp 27,82 triliun menjadi Rp 30,83 triliun.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN