Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bank BRI. Foto: DAVID

Bank BRI. Foto: DAVID

BRI Buyback Saham Rp 3 Triliun

Selasa, 25 Januari 2022 | 15:01 WIB
Eva Fitriani (eva_fitriani@investor.co.id) ,Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id  - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) berencana melakukan pembelian kembali saham sebesar Rp 3 triliun, pada 1 Maret 2022 hingga 31 Agustus 2023. Saham hasil buyback akan dialokasikan sebagai insentif lewat program kepemilikan saham untuk karyawan, direksi, dan komisaris perusahaan.

Buyback emiten berkode saham BBRI ini akan dilakukan paling lambat 18 bulan sejak pelaksanaan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan 2022 (RUPST).

“Buyback dilaksanakan setelah memperoleh persetujuan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dengan memperhatikan kondisi likuiditas serta permodalan perseroan dan peraturan yang berlaku,” kata Corporate Secretary BRI Aestika Oryza Gunarto dalam keterbukaan informasi pada Senin (24/1).

Corporate Secretary BRI Aestika Oryza Gunarto
Corporate Secretary BRI Aestika Oryza Gunarto

Aestika menjelaskan, pemberitahuan mengenai buyback akan dilakukan pada 21 Januari 2022. Kemudian, RUPST bank BUMN ini dilakukan pada 1 Maret 2022 dan buyback akan dilakukan pada 1 Maret 2022 hingga 31 Agustus 2023.

Berdasarkan data BEI, total jumlah saham Bank BRI per Januari 2022 sebanyak 151,99 miliar unit. Yang terbanyak milik Republik Indonesia 53,04% atau 80,61 miliar unit, berikutnya masyarakat 46,65% (70,90 miliar unit), saham treasury 0,30% (0,46 miliar unit), serta komisaris dan direksi BRI 0,01%(0,02 miliar unit).

Sebelumnya, pada 2015 dan 2020, perseroan sudah melakukan buyback saham, dengan berpedoman pada Peraturan OJK No 2/POJK.04/2013 tentang Pembelian Kembali Saham yang Dikeluarkan oleh Emiten atau Perusahaan Publik dalam Kondisi Pasar yang Berfluktuasi Secara Signifikan.

Hampir seluruh saham yang diperoleh dari buyback tersebut telah dialihkan melalui program kepemilikan saham pekerja. Aestika mengatakan, program di atas berhasil meningkatkan engagement pekerja.

Program tersebut diimplementasikan dalam bentuk insentif maupun reward, sehingga pekerja terdorong berkontribusi lebih optimal terhadap pencapaian target perseroan.

Bank anggota Himbara ini ingin meningkatkan aspirasi pekerja dengan meningkatkan kepemilikan saham BBRI.

“Mempertimbangkan hal itu, BRI akan kembali melakukan buyback saham. Selain pekerja, program kepemilikan saham dapat pula diperuntukan bagi direksi dan dewan komisaris,” papar manajemen.

Namun, pelaksanaan buyback saham akan dilakukan dengan memperhatikan kondisi likuiditas serta permodalan perseroan dan peraturan yang berlaku. Buyback diyakini tidak berpengaruh negatif terhadap kondisi keuangan, selain itu modal kerja perusahaan memadai untuk membiayai kegiatan usaha.

“Pelaksanaan buyback diyakini tidak akan berdampak negatif yang material terhadap kegiatan usaha perseroan. Dalam hal ini, modal kerja, cash flow dan capital adequacy ratio (CAR) cukup untuk pembiayaan buyback bersamaan dengan kegiatan usaha,” ungkap dia.

Market Cap Rp 618 T

Harga saham BBRI dalam satu dekade terakhir
Harga saham BBRI dalam satu dekade terakhir

Sementara itu, harga saham BBRI sudah bergerak naik 106,7% dari titik terendah tahun 18 Mei 2020 sebesar Rp 1.993 ke Rp 4.120 per unit pada 24 Januari 2022. Market cap kini menembus Rp 618 triliun atau di posisi kedua terbesar di Bursa Efek Indonesia, setelah PT Bank Central Asia Tbk yang sekitar Rp 952 triliun.

Direktur Utama BRI Sunarso menuturkan sebelumnya, perusahaan tahun lalu telah melakukan aksi korporasi penambahan modal melalui rights issue dalam rangka pembentukan ekosistem ultramikro.

Total nilai rights issue BRI mencapai Rp 95,9 triliun, yang terdiri dari Rp 54,7 triliun dalam bentuk partisipasi nontunai pemerintah berupa inbreng saham Pegadaian dan PNM, serta Rp 41,2 triliun dalam bentuk cash proceed dari pemegang saham public  

Pencapaian tersebut menjadikan rights issue BRI menorehkan sejarah sebagai yang terbesar di kawasan Asia Tenggara, menduduki peringkat ke-3 di Asia, dan nomor 7 di seluruh dunia hingga tahun itu. Konsolidasi dengan entitas usaha diperkuat untuk mewujudkan visi BRI menjadi champion of financial inclusion pada 2025.

Laba Melesat

Komposisi pemegang saham BRI

Sementara itu, BBRI mencatatkan laba bersih senilai Rp 19,07 triliun hingga kuartal ketiga 2021. Realisasi ini melesat 34,74% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Perolehan laba bersih BRI ini ditopang oleh net interest income atau pendapatan bunga bersih perusahaan yang tumbuh 26,88% menjadi Rp 72,42 triliun di periode Januari-September 2021.

BBRI telah menyalurkan kredit secara konsolidasi senilai Rp 1.026,42 triliun hingga September 2021. Nilai itu tumbuh 9,74% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

“Kredit ini ditopang oleh kredit UMKM yang tumbuh 12,5% yoy menjadi Rp 848,6 triliun. Sehingga, porsi kredit UMKM di BRI terus naik menjadi 82,67% terhadap total portofolio kredit,” ucap Sunarso sebelumnya.

Dirut BRI Sunarso
Dirut BRI Sunarso

BRI juga bisa menjaga rasio non performing loan (NPL) di level 3,28%. Dengan pencadangan NPL atau NPL coverage mencapai 252,94%. Pencadangan itu ditetapkan dengan pertimbangan restrukturisasi yang terus melandai.

Adapun himpunan dana pihak ketiga (DPK) BRI mencapai Rp 1.135,31 triliun dalam sembilan bulan pertama 2021. Raihan itu ditopang oleh dana murah atau current account saving account (CASA) sebanyak 59,60%. Biaya murah ini membuat biaya dana atau cost of fund turun menjadi 2,14%, nilai ini paling rendah sejak BRI berdiri.

BRI juga memiliki anak usaha PT Bank Raya Indonesia Tbk (AGROyang sebelumnya bernama PT Bank Rakyat Indonesia Agroniaga Tbk. Perubahan nama itu seiring transformasi menjadi bank digital.

Strategi Tepat

Head of Investment PT Reswara Gian Investa Kiswoyo Adi Joe. Foto: IST
Head of Investment PT Reswara Gian Investa Kiswoyo Adi Joe. Foto: IST

Head of Investment PT Reswara Gian Investa Kiswoyo Adi Joe mengatakan, buyback yang dilakukan Bank BRI merupakan strategi yang tepat.

“Manajemen tentu memiliki pertimbangan terkait harga wajar saham perusahaan. Dan kalau dia berani melakukan buyback, berarti di mata direksi BBRI, sahamnya masih murah, sehingga mereka memutuskan untuk menggunakan kas yang dimiliki untuk dibelikan saham,” ujar dia.

Selanjutnya, tutur Kiswoyo, saat harga saham BBRI sudah lebih tinggi bisa dijual kembali. Pasalnya, saham dari buyback itu paling lama tiga tahun harus dijual kembali ke pasar.

“Sehingga, otomatis mereka akan mendapat keuntungan dari kenaikan harga sahamnya. Selain itu, aksi buyback saham akan memperbesar porsi dividen yang diberikan, pasalnya jumlah lembar saham akan berkurang. Jadi, sinyalnya positif sekali, dan menunjukkan kepada publik bahwa saham BBRI saat ini masih sangat murah, sehingga sangat layak untuk dikoleksi,” ungkap Kiswoyo.

Dalam perhitungan Kiswoyo, harga saham BBRI saat ini sangat murah, karena saham emiten bank BUMN tersebut seharusnya sudah bisa mencapai level 5.000 tahun ini. Pada penutupan perdagangan Senin (24/1), BBRI ditutup pada level 4.120, terkoreksi 1,2% dibanding hari sebelumnya.

Kiswoyo menjelaskan, PBV BBRI saat ini di posisi 2,17 kali, sementara PER-nya 24 kali. “Tapi, kan laporan keuangan (2021) belum keluar, jadi harusnya tahun ini BBRI sudah bisa normal. Tahun ini sahamnya bisa ke level Rp 5.000,” ujar dia.

Dia merekomendasikan beli untuk saham BBRI. Apalagi, harga saham-saham bank besar lain sudah naik.

“Karena memang kalau kita lihat, BBCA sudah naik, BMRI sudah naik, tapi BBRI masih cenderung stabil di bawah. Dengan ekspektasi EPS bisa di kisaran 197-200 pada tahun ini, harusnya minimal bisa Rp 4.500, dan kalau itu sudah tembus, maka selanjutnya ke Rp 5.000, karena ini market mover juga,” ujar dia.

Mesin Pertumbuhan Baru

Ikhtiar kinerja keuangan

Sejumlah analis lain juga menilai BBRI menjadi saham sektor perbankan dengan prospek cerah yang menarik untuk dikoleksi tahun ini.

Perseroan memiliki sejumlah mesin pertumbuhan baru untuk memperbesar aset, dengan tetap menyasar pembiayaan mikro.

Equity Analyst Sinarmas Sekuritas Aryana Paramita mengungkapkan, pihaknya meningkatkan rekomendasi beli pada saham BBRI dengan target harga Rp 4.800 selama tahun 2022. Ini dengan potensi kenaikan sebanyak16,8% atau berdasarkan price to book value (PBV) sebanyak 2,3 kali.

Selain itu, publik masih menanti keberhasilan sinergi Holding Ultra Mikro (UMi) -- yang terdiri atas BRI, PNM, dan Pegadaian -- untuk menghasilkan kekuatan aset dan efisiensi biaya yang lebih baik. Return on equity (ROE) dan return on asset (ROA) diproyeksikan masing-masing 12% dan 2% pada 2022.

Rekomendasi tersebut, lanjut dia, sejalan dengan kinerja positif dari BRI yang mampu mencapai pertumbuhan kredit sekitar 6,1% pada sembilan bulan pertama di 2021. Ditambah dengan konsolidasi Holding UMi sejak 21 September 2021.

Diharapkan, konsolidasi pertumbuhan pinjaman selama tahun 2022 dapat kembali meningkat hingga 10,2% secara tahunan.

“Hal ini mendukung tesis kami, bahwa saham BBRI akan tetap memiliki prospek yang baik. Kami memperkirakan secara konservatif laba bersih BRI tumbuh 21% di sepanjang 2022, dengan angka kredit berisiko (NPL) flat di 3,2%,” paparnya dalam riset, baru-baru ini.

Sebagai bank pemberi pinjaman mikro terbesar di Indonesia, lanjut dia, BRI mampu mempertahankan asetnya dengan terus meningkatkan pinjaman mikro. Diharapkan kredit sektor ini dapat meningkat 12,5% pada tahun ini. Sedangkan imbal hasil aset selama tahun 2022 secara keseluruhan diperkirakan mencapai 9,5% (+30 bps yoy).

“BRI memiliki net interest margin (NIM) tertinggi di antara bank-bank besar lainnya. Kami pun merevisi perkiraan NIM menjadi 6,8% seperti yang kami harapkan dari efek konsolidasi dengan Pegadaian dan PNM,” ujar Aryana.

Di sisi lain, adanya konsolidasi efek dari BRI, Pegadaian, dan PNM akan berdampak pada rasio Cost to Income (CIR) yang meningkat selama periode 9 bulan 2021. Namun, hal ini tidak akan menjadi masalah yang besar bagi BRI, asalkan operasionalnya bisa kembali normal.

Kinerja perseroan juga akan ditopang oleh digitalisasi yang dilakukan oleh BRI, yang dinamakan BRISPOT, sebagai sarana untuk meningkatkan pinjaman produktif dan efisiensi. Integrasi Holding UMi, memungkinkan sinergi cross selling dan akuisisi bersama melalui UMi Corner.

“Adanya holding dapat dimanfaatkan oleh BBRI untuk mengutilisasi database yang tersedia. Dengan demikian, ekosistem ultramikro akan terbangun dengan baik,” imbuhnya.

Potensi Upside

Rasio keuangan
 

Sedangkan Research Analyst MNC Sekuritas Tirta Widi Gilang Citradi mempertahankan rekomendasi beli dengan target harga Rp 4.800, sebelum mempertimbangkan faktor aksi peleburan yang dilakukan BRI dan Pegadaian. “Apabila mempertimbangkan dampak dari adanya aksi peleburan, saham BBRI menjanjikan potensi upside, sejalan dengan peningkatan penyaluran kredit mikro,” ucap dia.

Holding UMi resmi didirikan pada 21 September 2021. Dengan aksi itu, jalan BRI menuju ekosistem ultramikro akan lebih besar dan menjanjikan profitabilitas yang lebih tinggi.

“Meski begitu, margin bunga bersih (NIM) yang lebih tinggi yakni Pegadaian 19%, PNM 17%, BRI 6,7% akan menjadi tantangan bagi BRI ke depan. Namun, keberhasilan transaksi rights issue bernilai sekitar Rp 96 triliun akan memperkuat posisi modal BRI. Per September 2021, rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/ CAR) BRI tercatat sebesar 24,37%.

Dengan posisi permodalan yang kuat, BRI dapat meningkatkan penyaluran kredit khususnya untuk mikro,” ujar Tirta. (fur/en)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN