Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pegawai Kantor Cabang PT Bank Syariah Indonesia Jakarta Barat menunjukkan kartu pembiayaan BSI Hasanah Card di outlet PT Bank Syariah Indonesia KC Jakarta Barat, Kebon Jeruk Jakarta. Foto: Beritasatu Photo/Uthan AR

Pegawai Kantor Cabang PT Bank Syariah Indonesia Jakarta Barat menunjukkan kartu pembiayaan BSI Hasanah Card di outlet PT Bank Syariah Indonesia KC Jakarta Barat, Kebon Jeruk Jakarta. Foto: Beritasatu Photo/Uthan AR

BSI (BRIS) Akuisisi BTN Syariah, Berikut Sejumlah Keuntungannya

Minggu, 12 Juni 2022 | 14:05 WIB
Novy Lumanauw (novy@investor.co.id)

JAKARTA, Investor.id – Akuisisi unit usaha syariah (UUS) PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) oleh PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BBSI) akan memberikan banyak manfaat bagi kedua bank. Aksi ini juga akan memperkuat ekosistem syariah di dalam negeri.

“Aksi korporasi ini memberikan manfaat nyata bagi masing-masing bank. Bagi BSI, masuknya BTN Syariah akan memperbesar skala bisnis perusahaan,” kata Senior Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan di Jakarta, Minggu (12/6/2022).

Advertisement

Baca juga: Soal Akuisisi Unit Syariah BTN oleh BSI (BRIS), Ada Info Barunya nih!

Dia mengatakan, BTN Syariah memiliki fokus pada segmen KPR, sehingga memberikan manfaat nyata bagi kedua pihak. “BTN Syariah akan semakin besar, lebih efisien, dan dapat saling memanfaatkan ekosistem bisnis dari masing-masing perusahaan,” kata Trioksa.

Sementara itu, BTN Syariah dalam dua tahun terakhir mencetak kinerja baik, dengan pertumbuhan pembiayaan selalu berada di atas industri. Pada kuartal I-2022, aset dan pembiayaan BTN Syariah, masing-masing tumbuh 11,08% secara tahunan dan 10,88% yoy. Dua komponen utama kinerja bank ini tercatat sebesar Rp 37,35 triliun dan Rp28,24 triliun.

Di sisi lain BTN Syariah mencatatkan pengetatan likuiditas. Per Maret 2022, rasio pembiayaan terhadap simpanan atau financing to deposit ratio (FDR) bank mencapai 100,89%, dibandingkan Desember 2021 level 94,14%. “Bergabung dengan BSI, pendanaan perusahaan akan semakin baik dan bisa berdampak pada FDR yang stabil dan bisa mengatasi mismatch pembiayaan KPR,” katanya.

Dia menyatakan, akuisisi BTN Syariah oleh BSI merupakan langkah yang rasional. Alasannya, pada 2023 bank umum konvensional (BUK) yang memiliki UUS harus spin off atau pemisahan unit usaha, sesuai amanat Undang-Undang No. 21 tahun 2008 tentang Perbankan Syariah. Di sisi lain, spin off pun memerlukan permodalan yang kuat, karena induknya mesti menyediakan modal untuk anak usaha agar UUS berdiri sendiri menjadi bank umum syariah.

Pada 2020 lalu, OJK telah mengeluarkan POJK 59/POJK.03/2020 tentang Persyaratan dan Tata Cara Pemisahan UUS. Pemisahan UUS dari bank konvensional dapat dilakukan dalam tiga cara yaitu pertama, mendirikan bank syariah baru. Kedua, mengalihkan hak dan kewajiban UUS kepada bank syariah yang telah ada. Ketiga, mengalihkan hak dan kewajiban kepada bank konvensional yang melakukan perubahan kegiatan usaha menjadi bank syariah.

Kewajiban itu akan membuat bank umum syariah di Indonesia bertambah dan meningkatkan persaingan. Dengan demikian mempunyai induk yang memiliki nafas bisnis sama dan permodalan kuat merupakan sebuah keuntungan.

Perubahan Status

Secara terpisah, peneliti ekonomi syariah dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Fauziah Rizki Yuniarti mengatakan BSI memiliki potensi sangat besar dengan adanya rencana perubahan status menjadi bank BUMN dan akuisisi BTN Syariah.

Dengan menjadi perusahaan pelat merah, BSI akan lebih lincah menjadi bank syariah yang kuat di pasar domestik maupun global. Pasalnya BSI akan memiliki akses kerja sama dengan berbagai pihak, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Sementara itu, dengan integrasi BTN Syariah BSI akan lebih mudah merealisasikan visi menjadi raksasa bank syariah di Tanah Air.

Baca juga: BSI (BRIS) akan Jadi Bank BUMN dan Akuisisi BTN Syariah, Ini Tanggapan Manajemen 

“Membeli UUS BTN Syariah juga bisa menjadi langkah yang baik karena memperluas portofolio BSI untuk pembiayaan KPR yang merupakan core business UUS BTN Syariah,” katanya.

Melalui sejumlah aksi korporasi tersebut, bisa diasumsikan pertumbuhan aset BSI mencapai 11–13% per tahun, sehingga pada 2024, BSI akan memiliki aset lebih dari Rp 430 triliun dan berpeluang menjadi bank dengan aset terbesar ke-5 di Indonesia. Hal ini pada akhirnya dapat memacu kapitalisasi pasar BSI dan melanggengkan misi menjadi 10 besar bank syariah dunia.

Aksi Strategis

Wakil Ketua Komisi XI DPR RI Fathan Subchi mengatakan akuisisi BTN Syariah oleh BSI sebagai langkah strategis, karena tren bank-bank berkonsolidasi.

"Skenario ambil alih BTN syariah juga diharapkan dapat membuat pasar syariah ke depan semakin berkembang. Oleh sebab itu saya mengimbau, akuisisi ini harus bisa dilakukan dengan lancar, dan sesuai Good Corporate Governance," ujar Fathan Subchi.

Dia menilai langkah tersebut perlu dilakukan guna memperkuat kapasitas bank berkode saham BRIS itu di kancah global. “Saya juga melihat upaya BSI ini bisa mendorong rencana BSI yang mau menjadi bank 10 besar bank syariah di dunia," jelas Fathan.

Sebelumnya, Menteri BUMN Erick Thohir sedari awal BSI terbentuk, menargetkan bank hasil merger tiga anak usaha BUMN ini masuk daftar 10 bank syariah terbesar di dunia. Bahkan, Erick ingin BSI sejajar dengan bank syariah terbesar di dunia, seperti Al-Rajhi hingga Albilad Bank.

Editor : Parluhutan (parluhutan@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN