Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta.Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta.Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Bukalapak 'Listing' Hari Ini, Traveloka Incar Dana US$ 400 Juta

Jumat, 6 Agustus 2021 | 06:02 WIB
Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Perusahaan penyedia tiket pesawat dan hotel, Traveloka mengincar dana sebesar US$ 400 juta atau sekitar Rp 5,7 triliun dari pencatatan saham (listing) di bursa efek Amerika Serikat (AS). Pencatatan saham ini dilakukan melalui merger dengan special purpose acquisition company (SPAC), Bridgetown Holdings Ltd.

Berdasarkan laporan Bloomberg, melalui merger dengan SPAC, valuasi Traveloka akan meningkat menjadi US$ 5 miliar. “Penghimpunan dana melalui PIPE (private placement in public entity) merupakan bagian dari kesepakatan merger antara Traveloka dan Bridgetown. Nilainya bisa mencapai US$ 200-400 juta, bisa berubah,” ujar sumber.

Adapun Bridgetown Holdings merupakan SPAC yang disokong oleh taipan Richard Li dan Peter Thiel. Pada Oktober 2020, Bridgetown berhasil menggalang dana sebesar US$ 595 juta dari IPO di AS. Penggalangan dana ini membuat Bridgetown menjadi SPAC terbesar di Asia Tenggara.

Sementara itu, Dealstreet Asia melaporkan, Traveloka mencatat valuasi sebesar US$ 4 miliar sebelum pandemi. Namun, valuasi ini menurun menjadi US$ 2,75 miliar ketika dilakukan negosiasi dengan investor.

Saat ini, valuasi Traveloka diperkirakan sudah kembali sebesar US$ 5 miliar atau di level sebelum terjadi pandemi. Valuasi tersebut bisa menguntungkan para investor Traveloka seperti Expedia, GIC, East Ventures, Sequoia Capital, dan Global Founders Capital.

Di tengah pandemi, Traveloka masih bisa menghimpun dana sekitar US$ 250 juta. Traveloka sudah melakukan ekspansi ke tujuh negara dan mengakuisisi tiga perusahaan yang merupakan kompetitor langsung seperti Pegipegi di Indonesia, Mytour di Vietnam, dan TravelBook di Filipina.

Dengan dilakukannya merger tersebut, Traveloka akan bersaing dengan Grab Holdings untuk menjadi unicorn terbesar di Asia Tenggara yang melakukan IPO melalui SPAC. Adapun Grab Holdings berencana mencatatkan sahamnya di bursa AS pada tahun ini melalui merger dengan Altimeter Growth. Merger yang disokong oleh Altimeter Capital Management ini berpotensi menghasilkan valuasi sekitar US$ 39,6 miliar.

Listing Bukalapak

Sementara itu, PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) akan listing di Bursa Efek Indonesia (BEI), hari ini. Perseroan meraup dana Rp 21,9 triliun dari IPO. Adapun jumlah saham yang dilepas ke publik sebanyak 25,76 miliar saham atau setara 25%. Harga IPO sebesar Rp 850 per saham.

Sebelumnya, Bukalapak dikabarkan memperbesar porsi investor ritel dalam penjatahan terpusat (pooling allotment) menjadi 5-7,5% dari semula 2,5%. Dengan demikian, investor ritel mendapat jatah pembelian sekitar Rp 1-1,6 triliun dari sebelumnya Rp 547,5 miliar.

“Penyesuaian penjatahan pooling itu dilakukan sejalan dengan penawaran yang kelebihan permintaan (oversubscribed),” kata sumber Investor Daily.

Sumber lainnya menambahkan, selama penawaran umum pada 27-30 Juli lalu, mengalami oversubscribed hampir 4 kali dari jumlah saham yang ditawarkan melalui pooling. Dengan total perolehan dana Rp 21,9 triliun, maka porsi fix allotment (penjatahan pasti) sekitar Rp 20,2-20,8 triliun.

Sementara itu, GoTo, perusahaan hasil merger Gojek dan Tokopedia, juga dikabarkan akan listing di Bursa Efek Indonesia dan Amerika Serikat (AS). GoTo membidik dana US$ 2 miliar dari IPO saham.

GoTo berencana mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia pada tahun ini. Namun, sebelum itu, GoTo akan menggalang dana dari bursa AS terlebih dahulu. GoTo sudah memulai proses penggalangan dana sekitar US$ 1-2 miliar dengan valuasi sekitar US$ 25-30 miliar.

GoTo merupakan salah satu perusahaan teknologi yang berkembang di kawasan Asia Tenggara. Hingga akhir 2020, GoTo mencatat total gross transaction value (GTV) lebih dari US$ 22 miliar. GoTo juga memiliki lebih dari dua juta pengendara dan 11 juta mitra merchant per Desember 2020. Sementara, pengguna aktif bulanan mencapai 100 juta orang.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN