Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
GoTo Gojek Tokopedia

GoTo Gojek Tokopedia

Bukan Kenaikan Harga Saham, Lalu Keuntungan Apa Yang Dikejar Telkom dari GOTO?

Rabu, 25 Mei 2022 | 08:07 WIB
Parluhutan Situmorang (redaksi@investor.id)

JAKARTA, Investor.id -  PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) melalui anak usahanya, PT Telkomsel, telah menggelontorkan dana hingga Rp 6,4 triliun untuk berinvestasi di PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO). Angka tersebut merefleksikan kepemilikan sebanyak 23,7 miliar saham GOTO di harga Rp 270 per saham.

Nilai investasi tersebut tergolong besar, dibandingkan dengan prospek kinerja keuangan GOTO untuk beberapa tahun mendatang yang diprediksi masih merugi. Lalu, keuntungan apa yang dikejar Telkom dari GOTO sampai menggelontorkan dana yang besar ke perusahaan super aplikasi tersebut?

Baca juga: Pengamat: Investasi di GOTO Bukan Cari Cuan Harian tapi Prospek ke Depan

Direktur Avere Investama Teguh Hidayat mengatakan, keuntungan terbesar investasi Telkom di GOTO bukan datang dari pertumbuhan kinerja keuangan maupun kenaikan harga saham GOTO. Meskipun, penurunan kinerja keuangan dan harga saham GOTO berimbas terhadap unrealized loss dalam laporan kinerja keuangan Telkom.

“Dalam laporan keuangan Telkom terungkap bahwa investasi di GOTO sebagai penyertaan jangka panjang pada instrumen keuangan yang ditempatkan di bagian aset tidak lancar. Artinya, Telkom membeli saham GOTO bukan untuk tujuan dijual kembali, melainkan untuk dimiliki seterusnya dalam jangka panjang,” tulisnya dalam ulasan berjudul Ternyata Telkom Juga Rugi di Saham GOTO? Yang diterbitkan melalui kanal teguhhidayat.com, Selasa (24/5).

Lalu, keuntungan apa yang dikejar Telkom dari GOTO? Teguh menyebutkan, kolaborasi Telkomsel dengan ekosistem GOTO jauh lebih menguntungkan, dibandingkan dengan dividen maupun kenaikan harga saham GOTO. “Manajemen Telkom pasti sudah tahu persis bahwa uang Rp 6,4 triliun yang disetor akan terus menyusut, bahkan mungkin habis dibakar GOTO. Tapi dalam jangka panjang melalui berbagai kolaborasi, keuntungan yang diraih Telkom bakal sesuai harapan. Bahkan, aksi aksi bakar duit Rp 6,4 triliun itu akan menjadi biaya yang setimpal,” terangnya.

Berdasarkan data, Telkom melalui Telkomsel telah membentuk banyak kolaborasi dengan GOTO yang akan menambah sumber pendapatan Telkom. Di antaranya, Telkomsel menyediakan layanan korporasi prabayar bagi karyawan GOTO, dari situ Telkomsel bisa memperoleh tambahan pendapatan yang kemudian dicatat sebagai pendapatan milik Telkomsel. “Jadi bukan dicatat sebagai pendapatan dari hasil investasi di GOTO,” terangnya.

Telkomsel juga menyediakan layanan korporasi prabayar atas produk Telkomsel bagi karyawan GOTO, Tokopedia bersama dengan Telkomsel menggelar program loyalty customers dalam bentuk penyediaan e-voucher, GOTO melalui anak usahanya Midtrans menyediakan layanan payment gateway bagi Telkomsel.

Tidak hanya itu, Telkomsel yang memiliki aplikasi MyAds sudah diintegrasikan ke dalam platform GoBiz milik GOTO untuk menjangkau para mitra pedagang Gojek. Telkomsel dan GOTO mendirikan perusahaan patungan dengan nama PT Games Karya Nusantara yang bergerak di bidang produksi konten video game. Dan masih banyak lagi perjanjian kerjasama dan kolaborasi Telkom dengan GOTO.

Butuh Waktu

Teguh melanjutkan, dampak positif sejumlah kolaborasi Telkomsel dan GOTO akan mulai terefleksi terhadap fundamental Telkom dalam rentang 4 – 5 tahun mendatang. “Hasilnya tidak akan langsung kelihatan bagi Telkom, melainkan masih butuh waktu setidaknya 4 – 5 tahun ke depan,” terangnya.

Yang jelas, ungkap dia, posisi Telkom mirip dengan investor-investor strategis lainnya di GOTO, seperti Google, Tencent, KKR, Facebook, dan Visa, yang tidak mengincar keuntungan langsung dalam bentuk bagian laba tunai ataupun dividen, melainkan keuntungan tidak langsung berupa kolaborasi-kolaborasi.

Baca juga: Telkom (TLKM) Pastikan Investasi Telkomsel di Gojek Bukan Transaksi Afiliasi

Sebelumnya, Senior Vice President, Corporate Communication & Investor Relation Telkom, Ahmad Reza mengungkapkan, pergerakan harga saham GOTO maupun saham lainnya yang diperdagangkan di bursa selalu bergerak dinamis. Bisa turun, dan bisa juga melonjak cukup tinggi, sesuai dengan kondisi pasar baik itu global maupun regional.

"Dinamika harga saham merupakan suatu yang lazim terjadi. Seperti misalnya tahun lalu, kami mencatatkan unrealized gain atas investasi GOTO sebesar Rp2,5 triliun. Namun kini bisa terjadi unrealized loss," ujar Reza.

Sementara itu, Direktur Utama Telkom Ririek Adriansyah juga menegaskan, kebijakan Grup Telkom berinvestasi di GoTo, tidak hanya mempertimbangkan aspek capital gain atau loss, tetapi juga mempertimbangkan aspek yang lebih luas lagi, seperti sinergi.

Salah satu contoh sinergi Telkom dengan GOTO, yaitu Telkom meraih pendapatan senilai Rp 473 miliar dari pelanggan baru mitra pengemudi Gojek melalui pembelian paket data Telkomsel untuk mitra tahun 2021. "Potensi sinergi value dengan GoTo justru lebih besar dari nilai yang sudah diinvestasikan Telkom," tutur Ririek.

Editor : Parluhutan (parluhutan@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN