Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Area penambangan batu bara PT Bukit Asam Tbk. Foto: Investor Daily/DEFRIZAL

Area penambangan batu bara PT Bukit Asam Tbk. Foto: Investor Daily/DEFRIZAL

Bukit Asam akan Fokus pada 3 Jenis Pengembangan Usaha

Selasa, 7 September 2021 | 06:07 WIB
Muawwan Daelami (muawwan@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – PT Bukit Asam Tbk (PTBA) menyatakan bahwa ke depan perseroan akan fokus pada tiga jenis pengembangan usaha, yaitu peningkatan kapasitas angkutan batu bara, bisnis pembangkit listrik, dan hilirisasi batu bara.

“Pada semester I-2021, kami berhasil meningkatkan kapasitas angkutan dari Tanjung Enim menuju Tarahan,” kata Direktur Pengembangan Usaha Bukit Asam Fuad Iskandar Zulkarnain Fachroeddin dalam Public Expose Live 2021, Senin (6/9).

Perseroan juga akan membangun pembangkit listrik energi baru terbarukan (EBT) bekerjasama dengan Angkasa Pura II di Bandara Soekarno-Hatta (Soetta), tepatnya di Gedung Airport Operation Control Center (AOCC).

Tidak hanya itu, perseroan tengah membangun PLTU mulut tambang terbesar di Indonesia dengan kapasitas 1.240 megawatt (MW). Progres konstruksi per Agustus 2021 sudah mencapai 89,4%, meskipun pembangunannya dikerjakan di tengah pandemi. “PLTU mulut tambang terbesar di Indonesia itu proyek Sumsel-8. Unit 1 akan selesai akhir tahun ini dan unit 2 selesai Maret 2022,” ungkap Fuad.

Bukit Asam juga sedang berdiskusi intensif dengan PT PLN (Persero) untuk memanfaatkan lahan pasca tambang perseroan yang pertama di Tanjung Enim, kedua di Ombilin Sumatera Barat, dan ketiga di Kalimantan Timur. “Jadi, kami akan membangun dengan kapasitas cukup besar. Mungkin kita bisa mulai 200 MW untuk ukuran EBT, khususnya pembangkit listrik tenaga surya,” tuturnya.

Terakhir, Bukit Asam dalam proses membangun Coal Dimethyl Ether (DME) untuk menggantikan LPG bekerjasama dengan Pertamina dan Air Products & Chemicals Inc (APCI). “Kami akan mengonversi 6 juta ton batu bara yang diubah menjadi syngas. Kemudian, diubah menjadi metanol, lalu diubah menjadi DME untuk menghasilkan 1,4 juta ton DME,” pungkasnya.

Sementara itu, Bukit Asam optimistis akan mencatatkan kinerja positif hingga tahun depan. Optimisme itu didorong oleh tingginya penjualan pada semester I-2021 dan meningkatnya permintaan batu bara. Termasuk, harga batu bara yang melonjak tajam.

“Dengan demand batu bara yang masih cukup tinggi tahun ini didukung dengan indeks harga yang kemungkinan masih menguat hingga tahun depan, maka kami sangat optimistis dapat mencapai bahkan melampaui target yang telah ditetapkan,” kata Direktur Keuangan & Manajemen Risiko Bukit Asam Farida Thamrin.

Pada semester I-2021, perseroan berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp 1,8 triliun, naik 38% dibandingkan periode yang sama tahun lalu senilai Rp 1,3 triliun. Pencapaian laba bersih tersebut didukung oleh pendapatan sebesar Rp 10,3 triliun atau meningkat 14% dari capaian sebelumnya Rp 9 triliun.

Perseroan juga menorehkan kenaikan 10% pada total aset hanya dalam tiga bulan dari Rp 24,5 triliun per 31 Maret 2021 menjadi Rp 27 triliun pada akhir semester I-2021. Disusul, produksi batu bara perseroan pada kuartal II-2021 yang meningkat signifikan sebesar 94%.

Farida menyebutkan, produksi batu bara pada Juni 2021 menjadi yang tertinggi sejak perseroan beroperasi. Alhasil, selama semester I-2021, produksi batu bara perseroan mencapai 13,3 juta ton, naik 11% secara year on year (yoy) dengan penjualan sebanyak 12,9 juta ton.

“Bahkan, hingga saat ini, 92% dari target penjualan full year 2021, kontraknya berhasil ditutup perseroan,” jelasnya. Tahun ini, perseroan menargetkan volume produksi batu bara sebanyak 30 juta ton dibandingkan tahun lalu sebanyak 25 juta ton.

Adapun Bukit Asam mampu membukukan laba bersih Rp 1,8 triliun atau naik 38% dan EBITDA yang naik signifikan pada semester I-2021 menjadi Rp 2,9 triliun, dengan rasio utang sebesar 0,03 kali. Ditambah, net cash dan equivalent cash serta deposito senilai Rp 5,4 triliun.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN