Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bukit Asam. Foto: UTHAN

Bukit Asam. Foto: UTHAN

Bukit Asam Estimasi Serapan "Capex" Berkisar Rp 2,7-3 Triliun

Rabu, 30 September 2020 | 16:15 WIB
Thereis Love Kalla (thereis.kalla@beritasatumedia.com)

JAKARTA, Investor.id - PT Bukit Asam Tbk (PTBA) memproyeksikan serapan anggaran belanja modal (capital expenditure/capex) hanya sebesar Rp 2,7-3 triliun tahun ini, dibandingkan anggaran tahun ini sebesar Rp 4 triliun. Hal ini dipengaruhi atas mundurnya waktu pengerjaan beberapa proyek perseroan.

Direktur Utama Bukit Asam Arviyan Arifin mengatakan, terdapat keterlambatan dari beberapa proyek, baik proyek pembangunan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Sumsel 8, gasifikasi, maupun angkutan sebagai dampak dari pandemi Covid-19.

“Ada perlambatan pengerjaan beberapa proyek ini, mungkin perseroan tidak bisa mencapai target awal anggaran yang disiapkan Rp 4 triliun, melihat perkembangan Covid ini. Kami hanya bisa memastikan serapan belanja modala berkisar antara Rp 2,7 triliun sampai Rp 3 triliun, karena ada kemunduran dari beberapa projek tadi,” jelas Arviyan dalam konferensi pers secara virtual, pada Rabu (30/9).

Dia menambahkan, pihaknya berharap pada semester II-2020 dapat menggenjot penggunaan capex agar dapat mengejar target realisasi pengerjaan proyek perseroan. Salah satunya proyek PLTU Sumsel 8 yang baru mencapai 43% dari progres pembangunan pada semester I-2020.

Sementara itu, perseroan memutuskan untuk membangun proyek gasifikasi batu bara di Tanjung Enim, Muara Enim, Sumatera Selatan. Adapun melalui pabrik ini gasifikasi batu bara akan menjadi dimetil eter (DME), sehingga produk yang dihasilkan lebih downstream dan memiliki nilai lebih.

Adapun Pasokan DME untuk memenuhi kebutuhan LPG, PT Pertamina yang selama ini masih dominan impor. Adapun, proyek ini juga bekerja sama dengan Air Products and Chemical Inc sebagai penyedia teknologi sekaligus investor, yang nantinya akan berinvestasi sebesar US$ 2,4 miliar.

“Yang membangun pabrik nantinya Air Product, mereka akan menjadi investor yang akan membawa dana sebesar US$ 2,4 miliar, kita hanya menyiapkan infrastruktur, serta supply batubara,” ujar Arviyan.

Menurut Arviyan, dengan adanya pandemi Covid-19, strategi perseroan akan terus melakukan langkah efisiensi konsumsi biaya, kemudian efisiensi yang terkait dengan organisasi pekerjaan dan lainnya. Adapun langkah-langkah efisiensi ini, tanpa melakukan pengurangan jumlah maupun kesejahteraan karyawan.

Beberapa strategi efisiensi yang telah dilakukan perseroan pada semester pertama 2020 adalah terus melakukan upaya penurunan biaya usaha dan biaya pokok produksi melalui penerapan berbagai optimasi biaya penambangan seperti pemangkasan jarak angkut dan penurunan stripping ratio. Langkah efisiensi tersebut tercermin pada beban pokok penjualan perseroan hingga semester I 2020 turun 8% menjadi Rp 6,4 triliun dibanding periode sama tahun lalu sebesar Rp 6,9 triliun.

Hingga semester I-2020, Bukit Asam membukukan pendapatan sebesar Rp 9,01 triliun atau turun 15,08% dibanding periode sama tahun lalu sebesar Rp 10,61 triliun. Laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat sebesar Rp 1,28 triliun terkoreksi 35,85% dibandingkan dengan semester I-2019 sebesar Rp 2,08 triliun.

Arviyan menjelaskan, turunnya kinerja keuangan perseroan seiring dengan melemahnya permintaan batu bara yang diikuti juga turunnya harga batu bara. “Kalau dalam krisis sebelumnya, cuma harga yang jatuh tapi permintaan masih ada, kalau sekarang dua-dua nya ikutan jatuh,” ungkapnya.

Dari sisi produksi, Bukit Asam mampu menghasilkan 12 juta ton hingga Juni 2020 diiringi dengan kinerja angkutan batu bara yang juga menunjukkan performa positif. Selama semester pertama tahun ini, kapasitas angkutan batu bara tercatat mencapai 11,7 juta ton.

Perseroan melakukan penyesuaian angka produksi batu bara di tahun 2020 setelah mempertimbangkan kondisi pasar global di tengah pandemi Covid-19 yang masih berlangsung, dari target awal 30,3 juta ton menjadi 25,1 juta ton.

Editor : Parluhutan (parluhutan@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN