Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bukit Asam. Foto: UTHAN

Bukit Asam. Foto: UTHAN

Bukit Asam Kantongi Dana Rp 2,17 Triliun dari Penjualan Saham

Farid Firdaus, Kamis, 5 Desember 2019 | 19:06 WIB

JAKARTA, investor.id – PT Bukit Asam Tbk (PTBA) mengantongi dana senilai total Rp 2,17 triliun dari penjualan sebanyak 649,98 juta saham simpanan (treasury stock) selama periode 2 April-4 Desember 2019. Rata-rata penjualan treasury stock tersebut sebesar Rp 3.347 per saham.

Sekretaris Perusahaan Bukit Asam Suherman mengatakan, perseroan telah melepas saham treasury sebanyak tiga kali sepanjang tahun ini. Tahap pertama pada 2 April 2019 sebanyak 63,17 juta saham, disusul pelepasan 490,72 juta saham pada 8 Mei 2019, dan terbaru 96,09 juta saham pada 4 Desember 2019. Untuk aksi yang terakhir, harga pelepasan sebesar Rp 2.500 per saham.

“Harga jual tersebut merupakan harga penutupan sehari sebelum tanggal perdagangan, dimana harga ini tidak lebih rendah dari Rp 2.436 per saham, atau harga rata-rata penutupan selama 90 hari terakhir sebelum tanggal penjualan,” jelas Suherman dalam keterangan resmi, Kamis (5/12).

Pada penjualan teranyar, Bukit Asam menghimpun dana sebesar Rp 240,23 miliar. Pihak yang menjadi pembeli treasury stock adalah PT BNI Sekuritas dan PT Danareksa Sekuritas.

Setelah aksi ini, lanjut Suherman, perseroan masih memiliki sisa treasury stock sejumlah 330,29 juta saham atau setara 2,89% dari seluruh total saham yang telah ditempatkan dan disetor penuh.

Sebagai informasi, saham-saham ini merupakan hasil buyback yang dilakukan perseroan sebanyak tiga kali, antara lain 21 Mei 2012 hingga 23 Mei 2013 di tahap pertama, 4 November-13 Desember 2013 di tahap kedua, dan 2 September-1 Desember 2015 di tahap ketiga.

Tahun depan, Bukit Asam mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp 4 triliun. Dana ini akan digunakan untuk mendukung produksi dan penjualan batubara tahun depan sebesar 30 juta ton.

Sebelumnya, Suherman mengatakan, perseroan berencana menggunakan belanja modal untuk sejumlah proyek. Perseroan akan menggarap proyek gasifikasi batubara, pengembangan angkutan batubara, dan PLTU Sumsel-8 pada 2020. "Belanja modal juga akan digunakan untuk investasi di anak perusahaan dan pengembangan yang lain," jelas dia, baru-baru ini.

Adapun saat ini, perseroan sedang memproses pembangunan dua proyek pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) di kawasan Muara Enim dan Halmahera Timur. Kedua proyek tersebut menelan investasi sebesar US$ 2,03 miliar.

Suherman menjelaskan, PLTU pertama yang sedang dibangun adalah PLTU Mulut Tambang Sumsel 8 di Muara Enim. PLTU ini dibangun oleh PT Huadian Bukit Asam Power (HBAP) yang merupakan konsorsium Bukit Asam dengan China Huadian Hongkong Company Ltd. Proyek ini menelan investasi sebesar US$ 1,68 miliar yang didanai oleh Exim Bank of China.

"Konstruksi PLTU ini telah dimulai sejak Juni 2018 yang memerlukan waktu 42 bulan untuk Unit I dan 45 bulan untuk Unit II. Commercial operation date (COD) ditargetkan pada 2021 untuk Unit I dan untuk unit II pada 2022," ujar dia.

Selain itu, Bukit Asam juga bekerjasama dengan PT Antam Tbk (ANTM) untuk membangun PLTU Feni di Halmahera Timur. Proyek pembangkit listrik ini memiliki kapasitas PLTU 3x60 MW dan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) 3x17 MW.

Pembangkit listrik tersebut sudah selesai menjalani feasibility study. Selanjutnya akan dibentuk joint venture company antara Bukit Asam dengan Antam untuk membangun pembangkit listrik tersebut. Proyek PLTU ini menelan investasi US$ 350 juta yang pendanaannya bisa dari perbankan.

Selain proyek pembangkit listrik, Bukit Asam juga menyiapkan proyek hilirisasi batubara di Peranap, Riau dan Tanjung Enim, Sumatera Selatan. Bukit Asam menggandeng Pertamina selaku offtaker dimethyl ether (DME) dan Air Products selaku pemilik teknologi gasifikasi batubara untuk proyek hilirisasi di Peranap.

Sedangkan untuk proyek hilirisasi di Tanjung Enim, Bukit Asam bekerjasama dengan Pertamina, PT Pupuk Indonesia (Persero) dan PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA).

Untuk menunjang angkutan batubara, perseroan mengembangkan proyek angkutan batubara jalur kereta api dengan PT Kereta Api Indonesia (Persero). Melalui proyek pengembangan ini, perseroan berharap bisa mengangkut batubara hingga 60 juta ton per tahun pada 2023.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA