Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kegiatan tambang di Bukit Asam. Foto ilustrasi: DEFRIZAL

Kegiatan tambang di Bukit Asam. Foto ilustrasi: DEFRIZAL

Bukit Asam Tetap Atraktif di Tengah Pandemi

Parluhutan Situmorang, (elgor)  Selasa, 28 April 2020 | 04:54 WIB

JAKARTA, investor.id - Pandemi Covid-19 yang melanda dunia mulai berimbas terhadap volume penjualan PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA) dalam beberapa bulan terakhir. Pandemi tersebut juga akan mengakibatkan pelemahan daya serap pasar hingga beberapa kuartal mendatang.

Danareksa Sekuritas menilai, meski terdampak pandemic Covid-19, Bukit Asam tetap memiliki kekuatan dan keunggulan yang bisa menjadi sentimen positif terhadap pergerakan harga saham PTBA ke depan. Semisal, berlanjutnya investasi pembangkit listrik dan upaya perseroan untuk efisiensi dengan memangkas stripping ratio.

“Hal ini mendorong kami untuk tetap mempertahankan rekomendasi beli saham PTBA dengan target harga Rp 3.200, meskipun pandemi Covid-19 masih melanda dunia yang berimbas terhadap penurunan harga jual batu bara ke depan,” tulis analis Danareksa Sekuritas Stefanus Darmagiri dalam risetnya, baru-baru ini.

Dia menegaskan, pandemi Covid-19 mulai berimbas terhadap penjualan batu bara Bukit Asam sejak pertengahan Maret 2020 akibat lockdown di India. Namun, perseroan mulai menjajaki tujuan ekspor baru sebagai antisipasi penurunan penjualan ke India dengan menyasar Taiwan, Korea Selatan, dan Jepang.

Area penambangan batu bara PT Bukit Asam Tbk. Foto: Investor Daily/DEFRIZAL
Area penambangan batu bara PT Bukit Asam Tbk. Foto: Investor Daily/DEFRIZAL

Pandemi Covid-19 juga akan berakibat terhadap penurunan permintaan batu bara di dalam dan luar negeri dalam beberapa kuartal mendatang.

“Hal ini kemungkinan membuat perseroan memangkas target  volume produksi batu bara tahun ini dibandingkan target semula 30,3 juta ton,” jelas Stefanus.

Namun, upaya perseroan memangkas stripping ratio atau perbandingan antara volume masa batuan yang dibongkar dengan batu bara yang diambil menjadi 4,2-4,3 kali dibandingkan proyeksi semula yang mencapai 4,6 kali, diharapkan menjadi sentimen positif.

Langkah tersebut bisa menjaga perseroan tetap mencetak laba bersih tahun ini. Selain faktor usaha manajemen, menurut Stefanus, Bukit Asam telah mendiversifikasi bisnis ke pembangkit listrik.

Diversifikasi bisnis tersebut merupakan investasi yang bersifat jangka panjang dan layak dicermati pemodal. Perseroan juga didukung kebijakan kewajiban menjual sebagian produksi batu baranya untuk pasar domestik.

Dia menambahkan, Bukit Asam juga memiliki keunggulan melalui pembagian dividen yang atraktif atau rasio dividen berkisar 75-80%.

“Berdasarkan keputusan final manajemen Bukit Asam terungkap bahwa perseroan bakal menetapkan rasio dividen berkisar 75-80% dari raihan laba bersih tahun lalu. Dengan demikian nilai dividen per saham berkisar Rp 272-290 per saham atau setara dengan imbal hasil sekitar 14,3- 15,3%,” ungkap Stefanus.

Aktivitas di tambang Bukit Asam. Foto: IST
Aktivitas di tambang Bukit Asam. Foto: IST

Terkait kinerja keuangan Bukit Asam, Stefanus menyebutkan, laba bersih diperkira an turun tipis menjadi Rp 3,95 triliun tahun ini dibandingkan raihan tahun lalu senilai Rp 4,05 triliun. Sedangkan penjualan diperkirakan naik dari Rp 21,78 triliun menjadi Rp 22,53 triliun.

Danareksa Sekuritas memperkirakan volume produksi dan penjualan batu bara Bukit Asam masing-masing menjadi 30 juta ton pada 2020. Volume tersebut diharapkan naik menjadi 33 juta ton dan 34 juta ton pada 2021. Sedangkan rata-rata harga jual tahun ini diharapkan mencapai US$ 72 per ton dan diprediksi turun menjadi US$ 70 per ton pada 2021.

Sementara itu, analis Maybank Kim Eng Sekuritas Isnaputra Iskandar menyebutkan bahwa realisasi laba bersih Bukit Asam senilai Rp 4,05 triliun pada 2019 telah melampaui perkiraan. Pencapaian yang baik tersebut didukung oleh kenaikan rata-rata harga jual dan volume penjualan jauh lebih baik dari harapan semula.

“Raihan laba bersih tersebut setara dengan 113,6% dari target yang kami tetapkan awal tahun 2019. Sedangkan penjualan pendapatan perseroan setara dengan 103,8% dari target yang telah ditetapkan Maybank Kim Eng Sekuritas,” tulis Isnaputra dalam risetnya.

Walaupun perseroan mampu menghasilkan kinerja keuangan cenderung lebih baik dari harapan, Bukit Asam masih menghadapi tantangan berat tahun ini, khususnya perkiraan penurunan rata-rata harga jual batu bara.

Tambang batu bara Bukit Asam. Foto: UTHAN
Tambang batu bara Bukit Asam. Foto: UTHAN

Kondisi ini mendorong Maybank Kim Eng Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi hold saham PTBA dengan target harga Rp 2.500.

Sebelumnya, Direktur Keuangan Bukit Asam Mega Satria mengatakan bahwa Bukit Asam berkeinginan untuk mengusulkan rasio pembagian dividen sekitar 75% dari laba bersih tahun 2019 sebesar Rp 4,1 triliun. Dengan angka tersebut, total dividen perseroan tahun ini bakal mencapai Rp 3,07 triliun.

Menurut dia, dalam dua tahun terakhir, rasio dividen perseroan selalu berada di level 75%. Nilai itu terbilang tinggi dan menjadi koridor pemegang saham perseroan.

Sedangkan untuk kebutuhan ekspansi, perseroan akan mengandalkan kas internal. Per 31 Desember 2019, kas dan setara kas serta deposito dengan jangka waktu di atas 3 bulan perseroan sebesar Rp 7,3 triliun.

Adapun tahun ini, perseroan mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp 4 triliun. Perseroan mengalokasikan dana capex sebesar Rp 3,8 triliun untuk kebutuhan investasi pengembangan dan sisanya Rp 200 miliar untuk investasi rutin.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN