Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Direktur Pemberitaan Beritasatu Media Holdings (BSMH) Primus Dorimulu bersama COO BSMH Group Anthony Wonsono serta tim berfoto bersama Direktur Utama PT Bursa Berjangka Jakarta atau Jakarta Futures Exchange (JFX) Stephanus Paulus Lumintang, Direktur JFX Hamdi Hassyarbaini, Direktur JFX Andreas Tanadjaya dan Staf JFX Luthfi Deriananda saat media visit secara virtual di Jakarta, Senin (1/3/2021). Foto: Beritasatu Photo/Uthan AR

Direktur Pemberitaan Beritasatu Media Holdings (BSMH) Primus Dorimulu bersama COO BSMH Group Anthony Wonsono serta tim berfoto bersama Direktur Utama PT Bursa Berjangka Jakarta atau Jakarta Futures Exchange (JFX) Stephanus Paulus Lumintang, Direktur JFX Hamdi Hassyarbaini, Direktur JFX Andreas Tanadjaya dan Staf JFX Luthfi Deriananda saat media visit secara virtual di Jakarta, Senin (1/3/2021). Foto: Beritasatu Photo/Uthan AR

Bursa Kripto Segera Beroperasi

Selasa, 2 Maret 2021 | 07:30 WIB
Lona Olavia

JAKARTA, Investor.id – PT Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) memastikan bursa kripto pertama di Indonesia, Digital Future Exchange (DFX), beroperasi mulai kuartal III-2021. Bursa yang akan memperdagangkan aset kripto, seperti Bitcoin, Doge, dan Litecoin itu merupakan hasil kolaborasi BBJ dengan 11 perusahaan calon pedagang fisik aset kripto yang telah terdaftar di Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti).

"Kehadiran DFX akan memberikan banyak pilihan investasi bagi masyarakat dan turut memberikan nilai tambah terhadap perekonomian nasional," kata Direktur Utama BBJ atau Jakarta Future Exchange (JFX), Stephanus Paulus Lumintang saat berkunjung secara virtual ke redaksi BeritaSatu Media Holdings (BSMH) di Jakarta, Senin (1/3).

Paulus Lumintang menjelaskan, BBJ berkolaborasi dengan 11 perusahaan calon pedagang fisik aset kripto yang telah terdaftar di Bappebti. Dari 11 perusahaan, empat di antaranya merupakan perusahaan berstatus penanaman modal asing (PMA), yakni PT Indodax Nasional Indonesia, PT Upbit Exchange Indonesia, PT Zipmex Exchange Indonesia, dan PT Pintu Kemana Saja.

"PT Kliring Berjangka Indonesia (KBI) akan menjadi infrastruktur pendukung bagi operasional DFX," tutur dia.

Direktur Pemberitaan Beritasatu Media Holdings (BSMH) Primus Dorimulu bersama COO BSMH Group Anthony Wonsono serta tim berfoto bersama Direktur Utama PT Bursa Berjangka Jakarta atau Jakarta Futures Exchange (JFX) Stephanus Paulus Lumintang, Direktur JFX Hamdi Hassyarbaini, Direktur JFX Andreas Tanadjaya dan Staf JFX Luthfi Deriananda saat media visit secara virtual di Jakarta, Senin (1/3/2021). Foto: Beritasatu Photo/Uthan AR
Direktur Pemberitaan Beritasatu Media Holdings (BSMH) Primus Dorimulu bersama COO BSMH Group Anthony Wonsono serta tim berfoto bersama Direktur Utama PT Bursa Berjangka Jakarta atau Jakarta Futures Exchange (JFX) Stephanus Paulus Lumintang, Direktur JFX Hamdi Hassyarbaini, Direktur JFX Andreas Tanadjaya dan Staf JFX Luthfi Deriananda saat media visit secara virtual di Jakarta, Senin (1/3/2021). Foto: Beritasatu Photo/Uthan AR

DFX, menurut Paulus, sedang memproses perizinan di Bappebti. Jika Maret ini tercapai kesepakatan di antara perusahaan-perusahaan tersebut, berarti pada kuartal III-2021 Indonesia bakal memiliki bursa berjangka yang khusus memperdagangkan aset kripto.

“Sebagai bursa digital aset pertama di Indonesia, DFX diharapkan turut membantu masyarakat untuk lebih melek investasi," ujar dia.

Paulus menambahkan, keberadaan bursa kripto di dalam negeri juga bisa mencegah terjadinya arus modal keluar (capital outflow) untuk bertransaksi di bursa sejenis di luar negeri. Dengan demikian, DFX bisa ikut memperkuat fundamental ekonomi nasional.

"Ini terobosan yang sangat signifikan. Ini juga akan membantu mempercepat perputaran ekonomi di Indonesia, baik secara langsung maupun tidak langsung. Pada era digital ini, permintaan instrumen investasi berupa aset kripto akan terus berkembang," papar dia.

Direktur Pemberitaan Beritasatu Media Holdings (BSMH) Primus Dorimulu bersama COO BSMH Group Anthony Wonsono serta tim berfoto bersama Direktur Utama PT Bursa Berjangka Jakarta atau Jakarta Futures Exchange (JFX) Stephanus Paulus Lumintang, Direktur JFX Hamdi Hassyarbaini, Direktur JFX Andreas Tanadjaya dan Staf JFX Luthfi Deriananda saat media visit secara virtual di Jakarta, Senin (1/3/2021). Foto: Beritasatu Photo/Uthan AR
Direktur Pemberitaan Beritasatu Media Holdings (BSMH) Primus Dorimulu bersama COO BSMH Group Anthony Wonsono serta tim berfoto bersama Direktur Utama PT Bursa Berjangka Jakarta atau Jakarta Futures Exchange (JFX) Stephanus Paulus Lumintang, Direktur JFX Hamdi Hassyarbaini, Direktur JFX Andreas Tanadjaya dan Staf JFX Luthfi Deriananda saat media visit secara virtual di Jakarta, Senin (1/3/2021). Foto: Beritasatu Photo/Uthan AR

Paulus Lumintang optimistis kehadiran BBJ sebagai anggota komite bursa di DFX bakal meningkatkan jumlah investor ritel BBJ secara signifikan. Apalagi, BBJ juga akan aktif dalam kegiatan edukasi dan sosialisasi. “Akan terjadi cross selling yang sangat baik nantinya,” tandas dia.

BBJ, kata Paulus, mengalami kenaikan jumlah investor yang signifikan pada 2020. Di tengah pandemi Covid-19, investor di BBJ berjumlah sekitar 300 ribu, lebih dari 95%-nya merupakan investor ritel.

"Investor dari kalangan Milenial, seperti halnya di bursa efek, juga terdongkrak signifikan. Di bursa komoditas, kenaikan itu secara spesifik didorong oleh kontak-kontrak kecil yang mulai diminati kalangan Milenial," ujar dia.

Direktur Pemberitaan Beritasatu Media Holdings (BSMH) Primus Dorimulu bersama COO BSMH Group Anthony Wonsono serta tim berfoto bersama Direktur Utama PT Bursa Berjangka Jakarta atau Jakarta Futures Exchange (JFX) Stephanus Paulus Lumintang, Direktur JFX Hamdi Hassyarbaini, Direktur JFX Andreas Tanadjaya dan Staf JFX Luthfi Deriananda saat media visit secara virtual di Jakarta, Senin (1/3/2021). Foto: Beritasatu Photo/Uthan AR
Direktur Pemberitaan Beritasatu Media Holdings (BSMH) Primus Dorimulu bersama COO BSMH Group Anthony Wonsono serta tim berfoto bersama Direktur Utama PT Bursa Berjangka Jakarta atau Jakarta Futures Exchange (JFX) Stephanus Paulus Lumintang, Direktur JFX Hamdi Hassyarbaini, Direktur JFX Andreas Tanadjaya dan Staf JFX Luthfi Deriananda saat media visit secara virtual di Jakarta, Senin (1/3/2021). Foto: Beritasatu Photo/Uthan AR

Dia mengungkapkan, DFX didirikan dengan tujuan menyediakan sistem yang memfasilitasi perdagangan aset digital dan derivatifnya untuk anggota yang telah mendapatkan persetujuan Bappebti sesuai ketentuan peraturan dan aturan perilaku (rules of conduct) DFX.

Paulus yakin dengan kombinasi keahlian antara bisnis aset digital yang terdaftar, serta bursa berjangka dan lembaga kliring terbesar di Indonesia, DFX bakal mempercepat perkembangan ekosistem aset digital secara bertanggung jawab.

Dia menegaskan, sesuai ketentuan Bank Indonesia (BI) dan UU Mata Uang, aset kripto dilarang digunakan sebagai alat pembayaran. Aset tersebut

Perusahaan yang Sudah Memperoleh  Tanda Daftar dari Bappebti  sebagai Calon Pedagang Fisik Aset Kripto.
Perusahaan yang Sudah Memperoleh Tanda Daftar dari Bappebti sebagai Calon Pedagang Fisik Aset Kripto.

hanya digunakan sebagai investasi komoditi yang dapat diperdagangkan di bursa berjangka. Faktor-faktor yang memungkinkan aset kripto dapat menjadi suatu komoditi antara lain memiliki harga fluktuatif, tidak adanya intervensi pemerintah, banyaknya permintaan dan penawaran, serta memiliki standar komoditi.

 

229 Jenis Kripto

Sebelumnya, pada November 2020, DFX resmi meluncurkan sistem pengawasan bursa aset kripto untuk pasar komoditi berjangka Indonesia. Sistem itu digunakan untuk mempermudah pengawasan transaksi aset kripto, termasuk Bitcoin, ketika nanti kelas aset baru itu resmi diperdagangkan di pasar komoditi berjangka di Indonesia.

Kementerian Perdagangan (Kemendag) melalui Bappebti, menyatakan akan terus meningkatkan kepastian dan perlindungan hukum, serta kepastian berusaha di sektor komoditas digital atau aset kripto. Salah satunya melalui Peraturan Bappebti Nomor 7 Tahun 2020 tentang Penetapan Daftar Aset Kripto yang dapat Diperdagangkan di Pasar Fisik Aset Kripto.

Menurut Kepala Bappebti, Sidharta Utama, peraturan tersebut bertujuan meningkatkan kredibilitas industri perdagangan berjangka komoditi (PBK) dan menciptakan iklim investasi yang kondusif, terutama dalam menghadapi persaingan global dalam era ekonomi digital.

Direktur Pemberitaan Beritasatu Media Holdings (BSMH) Primus Dorimulu bersama COO BSMH Group Anthony Wonsono serta tim berfoto bersama Direktur Utama PT Bursa Berjangka Jakarta atau Jakarta Futures Exchange (JFX) Stephanus Paulus Lumintang, Direktur JFX Hamdi Hassyarbaini, Direktur JFX Andreas Tanadjaya dan Staf JFX Luthfi Deriananda saat media visit secara virtual di Jakarta, Senin (1/3/2021). Foto: Beritasatu Photo/Uthan AR
Direktur Pemberitaan Beritasatu Media Holdings (BSMH) Primus Dorimulu bersama COO BSMH Group Anthony Wonsono serta tim berfoto bersama Direktur Utama PT Bursa Berjangka Jakarta atau Jakarta Futures Exchange (JFX) Stephanus Paulus Lumintang, Direktur JFX Hamdi Hassyarbaini, Direktur JFX Andreas Tanadjaya dan Staf JFX Luthfi Deriananda saat media visit secara virtual di Jakarta, Senin (1/3/2021). Foto: Beritasatu Photo/Uthan AR

Sidharta menerangkan, dalam regulasi tersebut, dari 8.472 aset kripto yang beredar di seluruh dunia, Bappebti menetapkan 229 jenis aset kripto yang dapat diperdagangkan di pasar fisik aset kripto. Dengan demikian, produk yang tidak masuk daftar tersebut wajib dilakukan delisting.

“Ini untuk memberikan kepastian hukum bagi nasabah dan menciptakan perdagangan aset kripto yang teratur, wajar, efisien, efektif, dan transparan, serta dalam suasana persaingan yang sehat,” tegas dia.

Regulasi tersebut, kata Sidharta, juga diberlakukan guna mencegah penggunaan aset kripto untuk tujuan ilegal, seperti pencucian uang (money laundering), pendanaan terorisme, serta pengembangan senjata pemusnah massal.

"Hal itu sesuai rekomendasi standar internasional Financial Action Task Force (FATF) untuk melindungi pelanggan serta memfasilitasi inovasi dan pertumbuhan aset kripto di Indonesia," tutur dia.

Dia mengemukakan, perdagangan pasar fisik aset kripto terus meningkat dan segmentasi pasarnya pun semakin luas. Hal tersebut ditandai oleh naiknya harga aset kripto yang diperdagangkan oleh calon pedagang, salah satunya Bitcoin.

Sejak awal 2020, harga Bitcoin meningkat sekitar 570%. Harga 1 bitcoin pada awal 2020 tercatat US$ 8.440, kemudian pada akhir 2020 melonjak menjadi US$ 29.000, dan pada Februari 2021 melesat menjadi US$ 53.000 per Btc. Alhasil, pamor Bitcoin terus meningkat, mendominasi transaksi aset kripto sebagai salah satu pilihan investasi.

Direktur Pemberitaan Beritasatu Media Holdings (BSMH) Primus Dorimulu bersama COO BSMH Group Anthony Wonsono serta tim berfoto bersama Direktur Utama PT Bursa Berjangka Jakarta atau Jakarta Futures Exchange (JFX) Stephanus Paulus Lumintang, Direktur JFX Hamdi Hassyarbaini, Direktur JFX Andreas Tanadjaya dan Staf JFX Luthfi Deriananda saat media visit secara virtual di Jakarta, Senin (1/3/2021). Foto: Beritasatu Photo/Uthan AR
Direktur Pemberitaan Beritasatu Media Holdings (BSMH) Primus Dorimulu bersama COO BSMH Group Anthony Wonsono serta tim berfoto bersama Direktur Utama PT Bursa Berjangka Jakarta atau Jakarta Futures Exchange (JFX) Stephanus Paulus Lumintang, Direktur JFX Hamdi Hassyarbaini, Direktur JFX Andreas Tanadjaya dan Staf JFX Luthfi Deriananda saat media visit secara virtual di Jakarta, Senin (1/3/2021). Foto: Beritasatu Photo/Uthan AR

Rekor Tertinggi

Di sisi lain, Direktur Utama BBJ/JFX, Stephanus Paulus Lumintang menjelaskan, pihaknya menaikkan target transaksi tahun ini, dari 10 juta lot menjadi 11,1 juta lot.

Dia menuturkan, 2020 adalah tahun pencapaian tertinggi BBJ sejak bursa berjangka itu berdiri dan beroperasi selama 21 tahun. Tahun lalu, transaksi di BBJ mencapai 9,43 juta lot, memecahkan rekor 7,95 juta lot yang dicapai pada 2019 dan 7,2 juta lot pada 2011. Atas perkembangan itu, pemerintah melalui Bappebti meningkatkan target transaksi yang diberikan kepada BBJ menjadi 11,1 juta lot.

Untuk mencapai target tersebut, menurut Paulus Lumintang, BBJ bakal merevitalisasi kontrak-kontrak primer. BBJ pun tengah menyiapkan beberapa kontrak baru. "Itu kami lakukan karena pada beberapa jenis kontrak lainnya terjadi kejenuhan," ucap dia.

Dia menambahkan, tahun ini, BBJ juga akan fokus pada pelayanan kepada anggota bursa dan pemangku kepentingan (stakeholders) lainnya, serta meningkatkan kegiatan sosialisasi, edukasi, serta inovasi produk.

"Kami pun akan melakukan transformasi di bidang produk, SDM, teknologi hingga peningkatan kerja sama dengan bursa luar negeri. Bahkan, rencananya, setiap dua bulan BBJ akan memberikan kuliah di universitas-universitas untuk memperkenalkan produk bursa berjangka," papar dia.

Paulus menegaskan, pihaknya tetap optimistis secara terukur dalam mengkaji setiap kontrak untuk pencapaian target yang diberikan pemerintah, meski dalam masa pandemi yang berkepanjangan.

Berdasarkan data BBJ, tahun lalu, total transaksi di BBJ mencapai 9,43 juta lot. Dari jumlah itu, 7,75 juta lot berasal dari transaksi bilateral, sisanya 1,68 juta lot berasal dari transaksi multilateral. Padahal, tahun lalu, BBJ menargetkan transaksi 8,25 juta lot, dengan rincian 6,50 juta lot dari transaksi bilateral dan 1,75 juta lot berasal dari transaksi multilateral. 

Perkembangan transaksi di BBJ.
Perkembangan transaksi di BBJ.

Pajak Final

Stephanus Paulus Lumintang mengemukakan, untuk meningkatkan perdagangan komoditi primer di Tanah Air, langkah tepat yang dapat ditempuh pemerintah adalah memberlakukan pajak final dengan tarif lebih terjangkau terhadap perdagangan berjangka komoditi melalui bursa berjangka.

"Pemberlakuan pajak final yang terjangkau akan sangat membantu semua investor di Indonesia, baik ritel maupun korporasi. Sebab, pajak yang masih berlaku sebagai tarif pajak umum saat ini masih lebih tinggi dibanding negara-negara lain," ujar dia.

Kebijakan fiskal yang lebih akomodatif dan ramah komiditi, menurut dia, akan semakin meningkatkan minat investor untuk berinvestasi di bursa berjangka. Itu pun secara langsung bakal meningkatkan kepastian bagi pelaku pasar, sehingga akan berimbas pada naiknya transaksi dan jumlah investor.

“Sudah kami usulkan, sekarang dalam tahap finalisasi di Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan. Kalau nantinya pemerintah memberikan stimulus, seperti pemotongan pajak pertambahan nilai (PPN), pajak penghasilan (PPh), dan pajak-pajak lainnya, tentu akan sangat menarik,” tegas Paulus.

Dia sangat optimistis industri perdagangan berjangka komoditi pada 2021 tumbuh lebih baik lagi dibandingkan 2020. Setidaknya ada beberapa faktor pendorong terjadinya rekor baru transaksi ini.

Paulus menjelaskan, dari dalam negeri, pandemi Covid-19 yang mengharuskan masyarakat melakukan kegiatan dari rumah, turut mendorong kenaikan transaksi. Hal itu didukung oleh berbagai perangkat dan sistem teknologi yang disiapkan BBJ untuk mendukung transaksi secara online.

Direktur Pemberitaan Beritasatu Media Holdings (BSMH) Primus Dorimulu bersama COO BSMH Group Anthony Wonsono serta tim berfoto bersama Direktur Utama PT Bursa Berjangka Jakarta atau Jakarta Futures Exchange (JFX) Stephanus Paulus Lumintang, Direktur JFX Hamdi Hassyarbaini, Direktur JFX Andreas Tanadjaya dan Staf JFX Luthfi Deriananda saat media visit secara virtual di Jakarta, Senin (1/3/2021). Foto: Beritasatu Photo/Uthan AR
Direktur Pemberitaan Beritasatu Media Holdings (BSMH) Primus Dorimulu bersama COO BSMH Group Anthony Wonsono serta tim berfoto bersama Direktur Utama PT Bursa Berjangka Jakarta atau Jakarta Futures Exchange (JFX) Stephanus Paulus Lumintang, Direktur JFX Hamdi Hassyarbaini, Direktur JFX Andreas Tanadjaya dan Staf JFX Luthfi Deriananda saat media visit secara virtual di Jakarta, Senin (1/3/2021). Foto: Beritasatu Photo/Uthan AR

Faktor global, kata Paulus, juga mendukung, seperti pemilu di AS, membaiknya harga minyak dan emas, serta meningkatnya pemahaman dan kepercayaan investor dalam negeri untuk berinvestasi pada perdagangan berjangka. Faktor-faktor tersebut bakal turut menjadi stimulus bagi kenaikan transaksi di bursa berangka.

Paulus memaparkan, kinerja perdagangan berjangka tahun ini juga akan diwarnai beberapa sentimen, termasuk dampak keluarnya Inggris dari Uni Eropa (Brexit).

"Meskipun tidak akan secara signifikan memengaruhi volatilitas harga komoditi, sentimen tersebut diperkirakan bakal memengaruhi mata uang yang dipasangkan atau pairing dengan poundsterling," kata dia.

Paulus mengakui, tujuan dasar bursa berjangka komoditi, yaitu sebagai sarana pembentukan harga (price discovery), acuan harga (price reference), dan sarana lindung nilai (hedging) komoditas belum tercapai, antara lain karena transaksi bilateral masih dominan.

Padahal, sebagai penghasil komoditas utama dunia, seperti minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO), timah, nikel, batu bara, karet, tembaga, kopi, dan teh, Indonesia idealnya menjadi rujukan harga komoditas global. "Karena itu, kami akan terus berupaya meningkatkan transaksi multilateral," ujar dia.

Editor : Abdul Aziz (abdul_aziz@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN