Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Suasana di lantai New York Stock Exchange (NYSE) pada 5 Agustus 2019 di Wall Street, New York City, Amerika Serikat (AS). AFP / Johannes EISELE

Suasana di lantai New York Stock Exchange (NYSE) pada 5 Agustus 2019 di Wall Street, New York City, Amerika Serikat (AS). AFP / Johannes EISELE

Cemaskan Dampak Korona, Wall Street Jatuh Dipimpin Sektor Teknologi

Gora Kunjana, Jumat, 21 Februari 2020 | 08:19 WIB

NEW YORK, investor.id - Wall Street jatuh pada akhir perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB), dipimpin oleh penurunan saham-saham teknologi kelas berat, setelah laporan kasus virus korona baru di Tiongkok dan negara-negara lain meningkatkan kekhawatiran tentang penyebaran dan dampaknya terhadap ekonomi global.

Indeks Dow Jones Industrial Average turun 128,05 poin atau 0,44%, menjadi ditutup di 29.219,98 poin. Indeks S&P 500 turun 12,92 poin atau 0,38%, menjadi berakhir di 3.373,23 poin. Indeks Komposit Nasdaq ditutup turun 66,21 poin atau 0,67%, menjadi 9.750,96 poin.

Tujuh dari 11 sektor utama S&P 500 berakhir lebih rendah, dengan teknologi turun 1,01%, memimpin kerugian sektoral. Saham raksasa teknologi AS, kelompok FAANG dari Facebook, Apple, Amazon, Netflix, hingga induk perusahaan Google, Alphabet, semuanya mundur.

Investor terkejut oleh penurunan tajam pagi yang membuat S&P 500 turun lebih dari satu persen pada hari itu, dengan beberapa pedagang menghubungkan ke laporan Global Times bahwa rumah sakit pusat Beijing telah melaporkan 36 kasus baru. Ini meningkatkan kekhawatiran tentang potensi peningkatan infeksi di ibu kota Tiongkok.

Investor sudah gelisah setelah Jepang melaporkan dua kematian baru dan Korea Selatan melaporkan peningkatan infeksi baru. Penelitian menunjukkan virus itu menyebar lebih cepat daripada yang diperkirakan sebelumnya.

"Pertanyaan yang mendasari adalah ketidakpastian mengenai virus korona dan apakah itu akan menyebar lebih lanjut dan berdampak pada kegiatan ekonomi global sebelum semuanya stabil dan akhirnya menjadi lebih baik," kata Michael Sheldon, direktur eksekutif dan CIO di RDM Financial Group di Hightower di Westport, Connecticut.

Dia mengatakan tampaknya investor mengambil untung dalam beberapa saham teknologi tinggi dan membeli saham kelompok lain, termasuk yang berkapitalisasi kecil. Indeks Russell 2000 berakhir naik 0,2% pada Kamis (20/2).

Pelonggaran kebijakan baru-baru ini oleh Tiongkok, musim laporan laba kuartal keempat yang jauh lebih baik dari perkiraan dan berharap bahwa sentakan ekonomi dari virus korona akan berumur pendek telah mendorong indeks utama Wall Street ke ketinggian baru dalam beberapa pekan terakhir.

“Menurut saya, apa yang terjadi adalah pasar menjadi baik. Masalah virus korona belum berakhir,” kata Ken Polcari, ahli strategi pasar senior di SlateStone Wealth LLC di Jupiter, Florida.

Volume transaksi di bursa saham AS mencapai 8,36 miliar saham, dibandingkan dengan rata-rata 7,63 miliar untuk sesi penuh selama 20 hari perdagangan terakhir.

Sumber : ANTARA

BAGIKAN