Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Chandra Asri. Foto: IST

Chandra Asri. Foto: IST

Chandra Asri Percepat Pembayaran Utang, Ini Dampaknya

Selasa, 28 Juli 2020 | 11:13 WIB
Farid Firdaus (farid.firdaus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) mempercepat pembayaran pinjaman berjangka yang dijamin senilai US$ 125 juta pada Juli 2020. Selain mengurangi beban utang, perseroan juga menjaga likuiditas tetap kuat selama pandemi Covid-19, yang per 30 Juni 2020 sebesar US$ 931 juta.

Direktur Keuangan Chandra Asri Petrochemical Andre Khor mengatakan, pelunasan lebih cepat pinjaman dilakukan dengan menggunakan kas internal. Upaya ini dinilai membuat perseroan lebih fleksibel dalam mengelola biaya ke depan.

“Percepatan pelunasan mendemonstrasikan kepercayaan diri perusahaan. Ini mencerminkan kami punya balance sheet yang kuat, sekaligus kepercayaan bank serta investor pasar modal,” jelas Andre saat paparan kinerja kuartal II-2020, Senin (27/7).

Per 30 Juni 2020, total likuiditas Chandra Asri mencapai US$ 931 juta, yang terdiri atas kas dan setara kas US$ 649 juta, revolving credit facility US$ 250 juta, dan investasi surat berharga US$ 32 juta.

Adapun liabilitas perseroan berkurang menjadi US$ 1,6 miliar per 30 Juni 2020 dari sebelumnya sebesar US$ 1,69 miliar pada 31 Desember 2019. Perseroan memiliki total utang US$ 950,4 juta terhadap saldo kas dan setara kas, sehingga posisi utang bersih keseluruhan sebesar US$ 301,4 juta. Rasio utang bersih terhadap EBITDA mencapai 4,9 kali hingga semester I-2020.

Sedangkan kas bersih yang digunakan dalam aktivitas operasi mencapai US$ 86,9 juta hingga semester I-2020, naik dibandingkan periode sama tahun lalu US$ 42,1 juta. Direktur dan Sekretaris Perusahaan Chandra Asri Petrochemical Suryandi menambahkan, kas bersih yang digunakan dalam aktivitas investasi menurun 62,6% menjadi US$ 53,7 juta hingga Juni 2020 dari US$ 143,5 juta pada periode sama tahun lalu.

Sebagian besar proyek belanja modal telah diselesaikan dan hanya disalurkan untuk ekspansi pabrik MTBE-B1 yang sedang berlangsung. Perceroan tercatat menyerap belanja modal sebesar US$ 70 juta sepanjang semester I-2020 dari total anggaran tahun ini US$ 135 juta.

“Stratagi ke depan kami terus menjalan tiga strategi yang sudah dilaksanakan sejak awal tahun dengan melihat kondisi pandemi, yakni business continuityoperational excellence, dan financial resilience,” jelas Suryandi.

Dalam hal penggalangan dana untuk modal kerja, perseroan  dalam proses Penawaran Umum Berkelanjutan (PUB) III tahap I senilai Rp 1 triliun.  Perseroan belum menentukan kupon lantaran terlebih dahulu melakukan penawaran awal atas obligasi ini selama 15-30 Juli.

Sementara itu, untuk mencari dana segar lewat rights issue, kata Suryandi, perseroan terlebih dahulu melihat perkembangan pasar ke depan. Proses pendekatan dengan investor strategis untuk ekspansi pabrik CAP II juga masih berlanjut. Namun, proses kesepakatan dengan investor disesuaikan atau mundur dari jadwal semula lantaran faktor pandemi.  

Menurut dia, pihaknya lebih optimistis pada kinerja pada semester II-2020 lantaran mulai pulihnya aktivitas industri Tiongkok. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan permintaan polymer. Pada kuartal II-2020, perseroan memiliki spread margin di kisaran 20%-30% yang didukung oleh harga bahan baku nafta yang rendah.

Chandra Asri membukukan pendapatan US$ 841,4 juta hingga semester I-2020, turun 20,1% dibandingkan semester I-2019 yang sebesar US$ 1,05 miliar. Penurunan penjualan ini sebagai akibat dari harga penjualan rata-rata produk yang lebih rendah menjadi US$ 777 per ton dari sebelumnya pada kisaran US$ 996 per ton pada semester I-2019. Volume penjualan perseroan cenderung stabil, yaitu sebesar 1.082 kilo ton pada semester I-2020, naik tipis dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar 1.058 kilo ton.

Beban pokok pendapatan turun 7,4% menjadi US$ 852,6 juta dari sebelumnya US$ 920,6 juta pada semester I-2019. Sebagian besar karena harga nafta yang lebih rendah menjadi rata-rata US$ 422 per metrik ton (MT) dari US$ 547 per MT, yang mencerminkan harga minyak mentah Brent yang lebih rendah.

Permintaan yang lemah untuk produk polymer akibat perang dagang Amerika Serikat (AS), serta perlambatan ekonomi Tiongkok karena timbulnya pandemi Covid-19 menekan EBITDA perseroan. Chandra Asri membukukan EBITDA US$ 4,5 juta hingga semester I-2020, turun 96,3% dari periode sama tahun lalu. Alhasil, perseroan membukukan rugi bersih US$ 29,8 juta dari posisi laba bersih US$ 32,9 juta.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN