Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Chandra Asri

Chandra Asri

Chandra Asri Raih Pinjaman US$ 195 Juta dari Bank DBS

Selasa, 21 Juli 2020 | 13:56 WIB
Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

JAKARTA, Investor.id - PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) meraih pinjaman sebesar US$ 195 juta atau setara dengan Rp 2,9 triliun dari PT Bank DBS Indonesia. Pinjaman dalam bentuk trade financing dan revolving credit facility (RCF) ini akan digunakan untuk membiayai modal kerja.

Direktur Keuangan Chandra Asri Andre Khor mengatakan, perseroan mengapresiasi pinjaman yang diberikan Bank DBS tersebut. Pinjaman ini akan digunakan untuk mendukung upaya pemerintah dalam mereaktivasi pertumbuhan industri.

"Kami senang bermitra dengan DBS untuk menerapkan sistem RAPID sebagai bagian dari program transformasi digital agar bisa melayani pemangku kepentingan dengan lebih baik, efisien dan inovatif," ujar dia dalam keterangan tertulis yang diterima Investor Daily pada Selasa, (21/7).

Sementara itu, Corporate Banking Director Bank DBS Indonesia Kunardi Lie menjelaskan, pinjaman ini adalah bentuk dukungan kepada Chandra Asri sebagai nasabah korporasi Bank DBS sejak 2005. Chandra Asri telah menggunakan berbagai layanan perbankan mulai dari manajemen kas, fasilitas perdagangan, treasury, pasar modal utang, hingga pinajman perbankan.

Chandra Asri pun sudah menggunakan layanan perbankan korporasi digital milik DBS, yakni RAPID (Real Time Application Programming Interface). Layanan ini diharapkan memenuhi kebutuhan keuangan nasabah melalui digitalisasi.

Di tengah pandemi saat ini, permintaan domestik Chandra Asri tetap tinggi. Pasalnya, perseroan merupakan salah satu produsen bahan baku peralatan medis, seperti masker dan Alat Pelindung Diri (APD). Untuk tetap dapat memenuhi permintaan tersebut, Chandra Asri masih mengoperasikan pabrik secara normal. Pengoperasian tersebut dilakukan dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat, termasuk hanya mempekerjakan staf penting di lokasi pabrik, dan menerapkan split team bagi staf pendukung.

Tahun ini, Chandra Asri menggelar Penawaran Umum Berkelanjutan (PUB) III tahap I senilai Rp 1 triliun. Namun kupon surat utang ini belum ditetapkan sebelum merampungkan penawaran awal obligasi ini selama 15-30 Juli. Chandra Asri secara konsisten menggelar PUB sejak 2016. Februari lalu, perseroan telah menyelesaikan PUB II tahap III senilai Rp 750 miliar. Penawaran tersebut sekaligus menggenapi rangkaian PUB II dengan total emisi Rp 2 triliun yang dimulai sejak 2018.

Dari sisi ekspansi, manajemen Chandra Asri memastikan negosiasi dengan calon mitra strategis untuk pabrik CAP II tetap berjalan. Namun, proses persetujuan final investment decision (FID) diperkirakan mundur menjadi 2022 dari target semula 2021 lantaran pandemi Covid-19.

Sebelumnya, Direktur Chandra Asri Petrochemical Suryandi mengatakan, perseroan memutuskan untuk memangkas target belanja modal (capital expenditure/capex) tahun ini menjadi US$ 135 juta, dari alokasi semula US$ 430 juta. Hal ini dikarenakan sejumlah proses pada ekspansi pabrik CAP II mengalami kemunduran.

Seperti diketahui, CAP II diperkirakan bakal menelan investasi sekitar US$ 4-5 miliar. Salah satu sumber pendanaan pabrik berasal dari aksi penambahan modal melalui hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue. Saham baru yang diterbikan maksimal 7,16 miliar saham. Rencana rights issue sudah melewati persetujuan pemegang saham pada 5 Februari 2020. Namun, sampai saat ini manajemen Chandra Asri masih menimbang waktu yang tepat untuk mengeksekusi aksi korporasi tersebut.

Hingga kuartal I-2020, Chandra Asri telah menyerap capex sebanyak US$ 46,2 juta. Perseroan juga tercatat mengantongi total likuiditas hingga US$ 880 juta. Suryandi menjelaskan, total likuiditas tersebut terdiri dari US$ 624 juta kas dan setara kas, US$ 225 juta dalam bentuk fasilitas kredit yang bisa dicairkan setiap saat, dan US$ 31 juta dalam bentuk marketable securities. Likuiditas ini dinilai cukup menopang ekspansi dan melewati ketidakpastian ekonomi akibat pandemi.

Dari sisi kinerja, hingga kuartal I-2020, perseroan mengalami penurunan pendapatan 13,7% menjadi US$ 476,8 juta dari US$ 552,2 juta di kuartal I-2019. Hal ini sebagai akibat dari harga penjualan rata-rata produk yang lebih rendah terutama untuk olefins dan polyolefins dengan volume penjualan yang relatif stabil.

Editor : Parluhutan (parluhutan@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN