Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Panel surya Chandra Asri. (ist)

Panel surya Chandra Asri. (ist)

Chandra Asri Tertarik Ikuti Jejak Japfa Terbitkan Obligasi Berkelanjutan

Jumat, 15 Oktober 2021 | 06:05 WIB
Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) dan PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) menunjukkan komitmen dalam pembangunan berkelanjutan. Dalam hal ini, Japfa sudah menerbitkan obligasi global (global bond) dalam format Sustainability-Linked Bond (SLB) dan Chandra Asri akan mengikuti jejak tersebut.

Head of Corporate Finance Japfa Comfeed Indonesia Yulius Putut Djagiri mengatakan, perseroan sudah lama melakukan kegiatan yang mendukung ramah lingkungan. "Sustainability dari produksi itu sudah berlangsung lama dan ini memerlukan komitmen dari seluruh pihak internal," kata dia dalam acara Capital Market Summit & Expo (CMSE) 2021, Kamis (14/10).

Namun, perseroan berkeinginan agar komitmen dalam pelestarian lingkungan ini bisa meluas, yakni juga bisa menjangkau investor. Karenanya, dalam menerbitkan obligasi, perusahaan tidak sekedar memperhatikan tingkat bunga, tetapi juga prinsip keberlanjutan.

Penerbitan obligasi dalam format SLB senilai US$ 350 juta yang telah dilaksanakan perseroan pada Maret 2021 adalah salah satu bentuk komitmen tersebut. Menurut Putut, obligasi ini diterbitkan untuk mendukung pengolahan air limbah sehingga bisa digunakan lagi.

"Kami ingin mengolah air buangan menjadi bersih dan bisa digunakan lagi. Itu target kami dalam beberapa tahun ke depan," kata dia.

Adapun obligasi ini bernilai US$ 350 juta tersebut ditawarkan dengan tingkat kupon 5,37%. Obligasi yang jatuh tempo pada 2026 dan dicatatkan di Bursa Efek Singapura (SGX) ini berhasil mencatatkan kelebihan permintaan (oversubscribed) sebanyak tiga kali.

Obligasi global ini juga telah meraih peringkat sementara BB- oleh Standard & Poor's dan BB- oleh Fitch. Sedangkan Credit Suisse dan DBS Bank Ltd bertindak sebagai pihak yang menangani penerbitan surat utang ini. SLB ini merupakan yang pertama pada industri agribisnis makanan dan penerbitan SLB dalam denominasi dolar Amerika Serikat (AS) pertama dari Asia Tenggara.

Sementara itu, Direktur HR dan Corporate Affairs Chandra Asri Suryandi mengungkapkan, Chandra Asri juga menjadikan aspek lingkungan, sosial dan tata kelola (environment, social and governance/ESG) sebagai prioritas usaha.

Komitmen dalam penerapan ESG itu adalah dengan memanfaatkan 7,1 juta lembaran campuran sampah plastik menjadi aspal seluas 39 ribu meter persegi. Aktivitas ini dilakukan bersama Grup Djarum di kawasan Kudus.

"Chandra Asri juga memanfaatkan 5,37 ton sampah plastik untuk menerapkan aspal bersama campuran sampah plastik di kawasan BSD City untuk area seluas 15.518 meter persegi," kata dia.

Suryandi melanjutkan, Chandra Asri juga memproses sampah rumah tangga untuk menghasilkan bahan bakar di Cilegon. Bahan bakar ini yang kemudian digunakan oleh para nelayan yang juga mendapatkan bantuan mesin kapal dari Chandra Asri.

Kemudian, Chandra Asri juga tertarik mengikuti jejak Japfa yang sudah terlebih dahulu menerbitkan obligasi dalam format SLB. "Kami juga tertarik mengikuti jejak Japfa untuk menerbitkan obligasi (format SLB) karena kami menyadari perhatian investor dan shareholder berkaitan dengan ESG," ungkap dia.

Dampak Pandemi

Adapun pandemi yang terjadi lebih dari satu tahun belakangan turut mempengaruhi Japfa dan Chandra Asri. Financial Controller Japfa Comfeed Erwin Djohan menjelaskan, adanya pandemi Covid-19 membuat Japfa menunda belanja modal untuk menjaga likuiditas.

Erwin mengungkapkan, pada awal 2020, Japfa menganggarkan belanja modal yang cukup besar karena perseroan awalnya ingin bergerak ekspansif. Namun kemudian terjadi pandemi sehingga menyebabkan perseroan memprioritaskan penggunaan belanja modal.

Hal yang menjadi prioritas dalam penggunaan belanja modal Japfa adalah biaya pemeliharaan rutin, modal kerja untuk proyek yang sudah direncanakan sebelum pandemi dan belanja modal untuk proyek yang sudah bisa memberikan hasil untuk perusahaan.

"Kami juga melakukan review belanja operasional dengan tetap memastikan operasional tidak terganggu dan ada korelasi positif dengan operasional," ujar dia.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN