Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN). Foto ilustrasi: Perseroan.

PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN). Foto ilustrasi: Perseroan.

Charoen Pokphand Jajaki Pinjaman Sindikasi US$ 307,9 Juta

Kamis, 9 Juli 2020 | 22:27 WIB
Farid Firdaus (farid.firdaus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) menjajaki pinjaman hingga US$ 307,9 juta dalam denominasi dolar Amerika Serikat (AS) dan rupiah. Citi dan DBS Bank bertindak sebagai mandated lead arrangers and bookrunners (MLAB) yang menangani pencarian pinjaman sindikasi tersebut.

Pinjaman dalam rupiah direncanakan sebanyak Rp 3 triliun atau setara US$ 207,9 juta, sedangkan bagian sindikasi dalam dolar AS ditargetkan sebanyak US$ 100 juta. Perseroan diperkirakan hanya melibatkan bank yang pernah ambil bagian dalam sindikasi perseroan sebelumnya. Sementara, tenor sindikasi yang diharapkan adalah satu tahun, dengan tambahan opsi satu tahun. “Perseroan mencari tenor yang pendek karena lebih murah dan pasar dalam kondisi ketidakpastian tahun ini,” kata sumber Global Capital Asia, Kamis (9/7).

Charoen Pokphand akan menggunakan pinjaman sindikasi anyar ini untuk membayar (refinancing) pinjaman yang diraih pada 2015. Para kreditur harus menunggu hingga akhir Juli ini untuk membuat komitmen terlibat pada pinjaman sindikasi tersebut. Namun, hingga berita ini diturunkan, Presiden Direktur Charoen Pokphand Indonesia Tjiu Thomas Effendy dan Sekretaris Perusahaan Charoen Pokphand Indonesia Hadijanto Kartika tidak dapat dikonfirmasi.

Sebagai informasi, perseroan mengantongi pinjaman senilai Rp 4,3 triliun, yang terbagi atas Rp 3 triliun dan US$ 100 juta pada 11 November 2015. Sindikasi ini memiliki tenor lima tahun. Ketika itu, perseroan juga menarik pinjaman untuk kebutuhan refinancing utang.

Para kreditur yang mengucurkan pinjaman sindikasi ini adalah Citibank NA, PT Bank ANZ Indonesia, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA), PT Bank DBS Indonesia, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dan Sumitomo Mitsui Bank Corp.

Sementara itu, hingga kuartal I-2020, Charoen Pokphand membukukan kenaikan laba bersih sebesar 13,64% menjadi Rp 922,26 miliar dibandingkan periode sama tahun lalu Rp 811,54 miliar. Meski laba terangkat, manajemen perseroan menyebutkan penjualan bersih justru turun 3,94% menjadi Rp 13,88 triliun dibandingkan kuartal I-2019 senilai Rp 14,45 triliun.

Secara rinci, penurunan ini disebabkan oleh beberapa segmen usaha yang mengalami penurunan dibandingkan dengan kuartal I-2019. Pendapatan usaha segmen pakan turun menjadi Rp 6,56 triliun dibandingkan kuartal I-2019 senilai Rp 7,05 triliun, segmen ayam pedaging turun tipis dari Rp 3,96 triliun menjadi Rp 3,96 triliun, segmen anak ayam usia sehari (DOC) turun menjadi Rp 1,5 triliun dibandingkan kuartal I-2019 mencapai Rp 1,86 triliun. Sedangkan pendapatan bisnis ayam olahan naik menjadi Rp 1,39 triliun dari sebelumnya Rp 1,11 triliun, dan lain-lain sejumlah Rp 462,07 miliar dari semula Rp 449,36 miliar.

Adapun beban pokok penjualan perseroan mengalami penurunan 6,27% menjadi Rp 11,94 triliun pada kuartal I-2020 dari periode sama tahun lalu yang mencatatkan Rp 12,74 triliun. Hal ini mendorong laba bruto naik menjadi Rp 1,94 triliun, dari Rp 1,71 triliun. Sedangkan laba usaha perseroan mencatatkan peningkatan sejumlah 21,15% menjadi Rp 1,26 triliun pada kuartal I-2020 dibandingkan kuartal I-2019 yang memperoleh Rp 1,04 triliun.

Total aset sepanjang per akhir Maret 2020 mencapai Rp 30,75 triliun atau naik 4,77% dari periode 31 Desember 2019 yang memperoleh Rp 29,35 triliun. Total liabilitas perseroan naik 5,79% menjadi Rp 8,76 triliun dari semula Rp 8,28 triliun, dan total ekuitas meningkat 4,36% menjadi Rp 21,99 triliun dari sebelumnya Rp 21,07 triliun.

Manajemen menilai terjadi pelemahan penjualan walaupun tidak di semua bidang usaha selama pandemi Covid-19. Gangguan penjualan utamanya tidak berasal dari Covid-19 melainkan hal di luar virus tersebut.

Sejak tahun lalu, perseroan telah menerapkan strategi yang diharapkan meningkatkan kinerja di masa mendatang. Strategi tersebut adalah meningkatkan kapasitas produksi pakan ternak dan mendirikan pabrik baru.

Selain itu, perseroan fokus bergerak ke arah hilir, seperti mengembangkan pengolahan daging ayam, yang telah dilakukan pada merek dagang Golden Fiesta. Tak ketinggalan, perseroan juga berupaya menekan biaya bahan baku.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN