Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Cikarang Listrindo. Sumber: listrindo.com.

Cikarang Listrindo. Sumber: listrindo.com.

Cikarang Listrindo Siap Ekspansi di Asia Tenggara

Farid Firdaus, Selasa, 12 November 2019 | 21:44 WIB

JAKARTA, investor.id – PT Cikarang Listrindo Tbk (POWR) membuka peluang untuk ekspansi pembangkit listrik di Asia Tenggara. Perseroan melirik tender-tender pembangkit yang visible dan menjanjikan pada masa mendatang.

Investor Relation dan Corporate Finance Rani Maheswari Miraza mengatakan, perseroan selalu mempertimbangkan untuk turut serta pada tender-tender pembangkit listrik baru di dalam maupun luar negeri. Namun, pihaknya belum dapat memastikan kapan ekspansi di seputar Asia Tenggara bisa dieksekusi.

“Kami buka opportunity itu sebesar-besarnya. Apapun itu, baik PLTGU maupun biomassa. Kalau memang di luar negeri ada yang memungkinkan, kami akan masuk,” jelas Rani di Jakarta, Selasa (12/11).

Sejauh ini, Cikarang Listrindo masih beroperasi di seputar wilayah Jawa, Indonesia. Perseroan memiliki pembangkit listrik tenaga gas dan uap (PLTGU) berkapasitas 755 megawatt (MW) di kawasan industri Jababeka, Cikarang. Kemudian, site kedua yakni PLTG berkapasitas 109 MW di kawasan industri MM2100, Cikarang Barat, dan site ketiga PLTU berkapasitas 280 MW di Babelan, Bekasi.

Sebanyak 74% kontribusi pendapatan Cikarang Listrindo berasal dari pelanggan kawasan industri, sementara sisanya 26% dari PT Perusahaan Listrik Negara (PLN). Perseroan bersama PLN telah melakukan perjanjian pembelian listrik (PPA) jangka panjang sejak 1996.

Direktur Keuangan Cikarang Listrindo Christanto Pranata mengatakan, PPA dengan PLN dilakukan dengan skema take or pay untuk daya listrik sebesar 300 MW, dan terbagi dalam dua bagian. Pertama, penyaluran daya 150 MW kepada PLN akan berakhir di penghujung tahun ini. Kedua, penyaluran daya sebanyak 150 MW bakal berakhir pada Juni 2031.

“Untuk yang pertama karena berakhir pada Desember tahun ini, kami sekarang terus bernegosiasi dengan PLN terkait diperpanjangnya kontrak PPA tersebut atau tidak,” kata dia.

Hingga akhir tahun ini, lanjut Christanto, pihaknya tetap optimistis pertumbuhan kinerja masih mengalami tren positif. Hingga kuartal III-2019, perseroan mmebukukan laba tahun berjalan sebesar US$ 79 juta atau naik 30,1% dibanding periode sama tahun lalu US$ 60,6 juta. Seiring itu, penjualan bersih perseroan naik 3,2% menjadi US$ 440 juta dibanding periode sama tahun lalu.

Selama Januari-September 2019, perseroan mencatat arus kas kuat dengan penambahan arus kas dari aktivitas bisnis perseroan sebesar US$ 20,3 juta atau melonjak 13,7% dibanding periode sama tahun lalu.

Menurut Christanto, posisi keuangan yang sehat ini dibuktikan dengan tingkat rasio kemampuan membayar biaya tetap (FCCR) berada di level 7,9 kali, dan tingkat utang neto dibandingkan EBITDA berada di posisi 1,6 kali. Sementara posisi laba bersih yang diraih perseroan menghasilkan dividen yield per 30 September 2019 sebesar 5,7%.

Andalkan Kas

Lantaran belum ada ekspansi pembangkit baru, perseroan masih mengandalkan kas internal untuk keperluan pemeliharaan mesin-mesin pembangkit. Setiap tahunnya, kata Christanto, anggaran rutin perseroan untuk keperluan tersebut berkisar US$ 20-25 juta.

“Sejauh ini, kami masih mengandalkan kas internal untuk keperluan ekspansi, belum ada rencana penggalangan dana dari eksternal, seperti penerbitan surat utang,” jelas dia.

Perseroan, lanjut dia, juga belum berencana menggalang dana untuk keperluan buyback obligasi global, meskipun perseroan telah mengambil alih utang global bond anak usaha perseroan senilai US$ 547 juta. Aksi ini dinilai berdampak lebih efisien kepada struktur utang perseroan. “Memang ada opsi buyback atau dipercepat, tapi belum ada keputusan,” imbuhnya.

Arus kas yang stabil beserta kinerja solid perseroan sebelumnya telah diapresiasi oleh dua lembaga pemeringkat internasonal. Pada Juni 2019, Standar & Poor (S&P) menaikkan peringkat utang perseroan menjadi BB+ dari sebelumnya BB. Rating tersebut mencerminkan satu peringkat menuju investment grade.

Sementara pada 1 November 2019, Moody’s menaikkan outlook peringkat perseroan menjadi Ba2 positif dari sebelumnya Ba2 stabil. Peningkatan outlook tersebut dipicu oleh pertumbuhan positif atas penjualan listrik perseroan kepada pelanggan kawasan industri dan PLN menjadi 5.108 GWh pada 2018 dari 4.801 GWh pada 2016.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA