Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Salah satu proyek PT Ciputra Development Tbk. Foto: Perseroan.

Salah satu proyek PT Ciputra Development Tbk. Foto: Perseroan.

Ciputra Development Tebus 'Global Bond' Senilai Rp 1,6 Triliun

Minggu, 21 Maret 2021 | 21:32 WIB
Farid Firdaus (farid.firdaus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – PT Ciputra Development Tbk (CTRA) menyelesaikan pembiayaan kembali (refinancing) surat utang global senilai Sin$ 150 juta atau setara Rp 1,6 triliun, yang jatuh tempo 2021 dan memiliki bunga 4,85%. Perseroan menebus global bond 2021 dengan global bond baru Sin$ 150 juta, yang akan jatuh tempo pada 2026 dengan bunga 6%.

Sejak Februari, perseroan menerbitkan global bond 2026 secara bertahap sebanyak tiga kali. Rinciannya, tranche 001 senilai Sin$ 100 juta pada 2 Februari, tranche 002 senilai Sin$ 25 juta pada 11 Februari, dan tranche 003 senilai Sin$ 25 juta pada 5 Maret.

Direktur Ciputra Development Tulus Santoso mengatakan, proses penebusan global bond 2021 tuntas pada 19 Maret. Dengan jatuh tempo global bond yang lebih panjang, perseroan bisa mencermati kewajiban-kewajiban lain yang berpotensi dilunasi kembali. Perseroan akan mempertahankan diversifikasi sumber-sumber pembiayaan, yang terdiri atas pinjaman bank serta global bond pada tahun ini.

“Dari total utang perseroan yang sekitar Rp 10 triliun, sekitar 15% dalam denominasi mata uang asing dan 85% dalam rupiah. Kami berharap perbandingan tersebut bisa berubah menjadi 30% dan 70%,” kata dia kepada Investor Daily, Minggu (21/3).

Tulus menegaskan, perubahan rasio tersebut tidak spesifik ditargetkan terjadi tahun ini. Namun, apabila ada kesempatan di pasar, perseroan berharap mengecilkan porsi utang rupiah supaya meraih tingkat bunga yang lebih rendah. Pada akhirnya, perseroan bisa berangsur-angsur menurunkan beban bunga.

Dari sisi operasional, Tulus menambahkan, perseroan berupaya mengendalikan biaya pengeluaran di tengah pandemi yang masih berlangsung. Kemudian, perseroan menaruh harapan pada pemerintah yang memberikan insentif pajak pertambahan nilai (PPN) dalam hal kepemilikan rumah.

Seperti diketahui, insentif PPN diluncurkan pemerintah dengan tujuan meningkatkan kemampuan masyarakat kelas menengah dalam membeli rumah. Insentif ini berlaku pada masa pajak Maret 2021 hingga Agustus 2021. Insentif paling besar adalah pembebasan 100% PPN untuk pembelian rumah di bawah harga jual Rp 2 miliar.

“Semoga ini bisa mendukung target pra penjualan (marketing sales) kami yang sekitar Rp 5,7 triliun pada tahun ini, karena kami memang konsentrasi pada penjualan, yang mayoritas di bawah Rp 2 miliar,” jelas dia.

Target marketing sales 2021 tersebut lebih tinggi dibanding realisasi 2020 yang sekitar Rp 5 triliun. Marketing sales perseroan tercatat didominasi oleh first home buyer.

Pada segmen recurring revenue yang cenderung terdampak pandemi, kata Tulus, prioritas utama perseroan adalah menjaga likuiditas dan memastikan inisiatif penghematan biaya, terutama dalam bisnis perhotelan dan pusat belanja.

Sebelumnya, lembaga pemeringkat Fitch Ratings menyematkan prospek stabil untuk Ciputra Development, dengan keyakinan perseroan dapat mempertahankan pra-penjualan yang dapat diatribusikan lebih dari Rp 4 triliun selama periode 2021-2022.

Penjualan perseroan dinilai akan didukung oleh diversifikasi produk dan cadangan lahan perseroan, serta permintaan yang sehat terhadap produk rumah tapak di bawah harga Rp 1,5 miliar. Outlook stabil juga mengasumsikan Ciputra akan mempertahankan profil utang yang moderat.

Fitch memperkirakan Ciputra Development akan membukukan pra-penjualan yang dapat diatribusikan sebesar Rp 4,3 triliun pada 2021 dan Rp 4,9 triliun pada 2022. Fitch memprediksi penjualan rumah tapak akan menjadi mayoritas pada 2020-2021. Perseroan diharapkan bisa mempertahankan fokus pada rumah di bawah harga Rp 2 miliar per unit.

Sementara itu, Fitch memperkirakan longgarnya aturan pemerintah yang memungkinkan orang asing memiliki high-rise property tidak akan memberikan dampak yang signifikan terhadap pra-penjualan Ciputra Development selama satu hingga dua tahun ke depan. Hal ini dengan perhitungan, selama krisis kesehatan belum terselesaikan dan perjalanan bisnis internasional belum dinormalisasi.

“Namun, secara jangka panjang, jika peraturan bisa diterapkan tanpa ambiguitas, maka hal ini bisa meningkatkan penjualan pada sektor tersebut. Ciputra tercatat memiliki lebih dari 200 ribu meter persegi area yang tengah dikembangkan di Jabodetabek dan berpotensi menarik bagi investor asing,” jelas Fitch.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN