Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Covid-19 Kembali Picu Ketidakpastian di Pasar Saham

Minggu, 2 Mei 2021 | 21:55 WIB
Ghafur Fadillah

JAKARTA, investor.id – Indeks harga saham gabungan (IHSG) diperkirakan bergerak bervariasi dengan kecenderungan melemah dalam sepekan ke depan. Level support IHSG diprediksi pada 5.889 dan resistance 6.122. Peningkatan kasus Covid-19 di India dan Indonesia berpengaruh besar terhadap pasar.

Analis Sucor Sekuritas Hendriko Gani menjelaskan, selain Covid-19, data mengenai ekonomi seperti gross domestic product (GDP) pada kuartal-I 2021 juga menjadi hal yang dipertimbangkan oleh para pelaku pasar.

“Investor juga perlu mencermati hasil laporan keuangan emiten. Saat ini, para emiten sedang menyampaikan laporan keuangan kuartal I,” kata Hendriko kepada Investor Daily.

Dia menyarankan kepada pemodal untuk mengakumulasi beli saham-saham yang tengah terkoreksi, dengan catatan emiten memiliki laporan keuangan yang stabil. Menurutnya, hal itu bisa jadi kesempatan di tengah sepinya perdagangan di bursa.

“Dari sisi fundamental, investor dapat memperhatikan saham BBNI dengan target harga Rp 8.000, BNGA Rp 1.800, BBTN Rp 2.300. Kemudian, UNTR dengan target harga Rp 28.000 juga dapat menjadi pilihan investor,” jelas dia.

Hal senada juga disampaikan oleh analis Pilarmas Sekuritas Maximilianus Nico Demus. Menurut dia, IHSG cenderung melemah dengan rentang pergerakan 5.980 sampai 6.075 dalam sepekan ke depan.

Pergerakan penguatan IHSG masih dibayangi oleh ketidakpastian pasar yang masih besar akibat pandemi. Karena itu, para pelaku pasar diharapkan mencermati situasi dan kondisi yang terjadi ke depannya. Apalagi, dalam sepekan ke depan cukup banyak data ekonomi yang menjadi tolok ukur dalam memproyeksikan ekonomi Indonesia.

“Tentu harapannya data ekonomi Indonesia menjadi sentimen positif yang mampu menahan pelemahan IHSG dan berbalik bergerak menguat meskipun hanya sementara,” papar dia.

Nico merekomendasikan saham-saham di sektor consumer goods. Investor bisa menggunakan strategi wait and see, apabila masih ragu untuk menunggangi volatilitas di pasar.

Selain itu, saham perbankan dapat menjadi pilihan yang menarik lantaran sedang mengalami penurunan, dengan strategi investasi jangka menengah dan panjang. Begitu juga dengan saham-saham blue chips berharga murah yang berpotensi memberikan valuasi jangka panjang yang baik.

Di sisi lain, dalam sepekan ke depan, ada beberapa rilis data global yang bisa mempengaruhi pergerakan IHSG. Salah satunya, PMI Manufacturing yang diproyeksi naik dan Initial Jobless Claims Amerika Serikat (AS) yang saat ini menunjukan penurunan.

Sementara itu, analis Binaartha Sekuritas M Nafan Aji Gusta mengatakan, IHSG dalam sepekan ke depan diproyeksikan bergerak mixed dengan potensi penguatan. Adapun sejumlah saham yang dapat menjadi pertimbangan investor adalah BBNI dengan strategi akumulasi beli di area Rp 5.725-5.825. Kemudian, hold atau maintain buy BBCA di area Rp 30.900-31.100, akumulasi beli BBRI di area Rp 4.150-4.170, akumulasi beli BMRI di area Rp 6.050-6.150, dan akumulasi beli BBTN di area Rp 1.555-1.575.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN