Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Salah satu pabrik Grup Barito Pacific. Foto: PT Barito Pacific Tbk.

Salah satu pabrik Grup Barito Pacific. Foto: PT Barito Pacific Tbk.

Dahsyat, Begini Ekspansi Besar-besaran Barito Pacific Senilai US$ 8,3 Miliar

Senin, 8 Februari 2021 | 05:47 WIB
Farid Firdaus (farid.firdaus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – PT Barito Pacific Tbk (BRPT) fokus melanjutkan ekspansi senilai total US$ 8,32 miliar hingga lima tahun ke depan. Pendanaan proyek akan berasal dari mitra strategis, pinjaman bank, serta kas internal perseroan.

Direktur Keuangan Barito Pacific, David Kosasih mengatakan, tiga proyek utama perseroan yaitu Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Jawa 9 dan 10 berkapasitas 2x1.000 megawatt (MW) senilai US$ 3,28 miliar, kompleks pabrik Chandra Asri Petrochemical (CAP) II senilai US$ 5 miliar, serta Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Salak Binary senilai US$ 40 juta.

Keterlibatan Barito Pacific pada PLTU Jawa 9 dan 10, menurut David, tercatat dalam konsorsium PT Indo Raya Tenaga, hasil kerja sama dengan PT Perusahaan Listrik Negara/PLN (Persero). Proyek itu berlokasi di Suralaya, Banten. "Sejumlah bank telah berkomitmen dalam pendanaan proyek tersebut," kata David Kosasih dalam diskusi virtual di Jakarta, Sabtu (6/2).

Dia mengungkapkan, pendanaan proyek memiliki rasio utang terhadap ekuitas 75:25. Konstruksi PLTU telah dimulai sejak Oktober 2020 dan ditargetkan rampung pada 2023-2024. “Perseroan memiliki rencana pertumbuhan yang jelas. Untuk proyek Salak Binary, kami targetkan selesai pada 2022, sedangkan CAP II nanti selesai pada 2025-2026,” tutur dia.

Menurut David, CAP II yang berlokasi di Cilegon, Banten masih dalam tahap pra-final investment decision (FID). Secara desain, pabrik tersebut akan 15% lebih besar dari CAP I. Barito Pacific tetap optimistis bisa menggarap proyek sesuai jadwal, karena rekam jejak perseroan yang selalu menuntaskan proyek tepat waktu.

Sebelumnya, Barito Pacific secara grup mampu menyelesaikan tujuh proyek dengan total investasi US$ 4,31 miliar. Proyek-proyek tersebut dirampungkan pada 2015-2020.

CAP II kini semakin menegaskan anak usaha perseroan, yakni PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA), menjadi produsen petrokimia terbesar yang terintegrasi di Tanah Air. Di sisi lain, bisnis panas bumi atau geothermal yang dikelola anak usaha, Star Energy, terus melanjutkan eksplorasi.

“Saat ini, Star Energy masih dalah proses survei awal, seperti hak untuk menyamai penawaran tender terbaik sebagai lisensi mengembangkan area sumber daya di Hamiding (Halmahera Utara) dan Sekincau (Lampung Barat),” papar David.

Sementara itu, Presiden Direktur Barito Pacific, Agus Salim Pangestu mengatakan, selain ekspansi, kunci pertumbuhan perseroan ke depan adalah efisiensi. Sebagai contoh, perseroan mengundang mitra strategis pada ekspansi CAP II. Selain itu, biaya yang lebih rendah bisa diraih karena lokasi CAP II berdekatan dengan CAP I, yang sudah memiliki dermaga dan infrastruktur pendukung lain.

“Saat ini Chandra Asri memiliki sekitar 2.000 karyawan. Perkiraan kami, ketika CAP II beroperasi, total karyawan permanen sekitar 3.000. Hal-hal ini kami lihat sebagai efisiensi, tentunya CAP II akan produksi downstream lebih banyak lagi,” ujar dia.

Bisnis Berkelanjutan

Agus Salim menjelaskan, perseroan berkomitmen terus menjalankan prinsip-prinsip bisnis yang berbasis lingkungan, sosial dan tata kelola (environmental, social and governance/ESG). Misalnya perseroan banyak menggunakan sistem panel surya yang bisa mengurangi emisi Co2. Tak ketinggalan, Chandra Asri juga menggandeng perusahaan global, Ecolab dalam pengelolaan air.

Dia menambahkan, lewat upaya meningkatkan peringkat ESG, perseroan bisa meraih keuntungan di kemudian hari. Salah satunya adalah lebih mudah menggalang dana di pasar modal. Hal ini tercemin ketika Star Energy Star Energy Geothermal Salak Ltd dan Star Energy Geothermal Darajat II Limited menerbitkan green bond dengan peringkat investment grade senilai US$ 1,11 miliar tahun lalu.

Minat investor asing kala itu terhadap penawaran obligasi berwawasan lingkungan Star Energy cukup tinggi, meski penawaran terjadi saat pandemi. Green bond ini tercatat mengalami kelebihan permintaan sebanyak 3,5 kali.

Agus Salim juga memandang positif rencana pemerintah mengembangkan industri kendaraan listrik (electronic vehicle/EV). Itu akan berimbas positif bagi kinerja anak usaha, seperti Chandra Asri. Pasalnya, plastik merupakan salah satu material dalam produksi kendaraan listrik.

Secara terpisah, analis Binaartha Sekuritas, Muhammad Nafan Aji Gusta mengatakan, pihaknya merekomendasikan akumulasi beli saham BRPT dengan target harga jangka panjang secara teknikal Rp 2.330. Pada perdagangan Jumat (5/2), saham BRPT bertengger di posisi Rp 1.165, menguat Rp 50 (4,4%).

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN