Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi pasar surat utang. (Foto:  Pixabay)

Ilustrasi pasar surat utang. (Foto: Pixabay)

Dampak Covid Varian Baru Omicron terhadap Pasar SUN

Minggu, 28 November 2021 | 22:38 WIB
Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Harga surat utang negara (SUN) berpotensi menurun dalam sepekan ke depan. Hal tersebut seiring adanya tekanan di pasar obligasi akibat munculnya varian baru Covid-19, Omicron.

Associate Director, Head of Fixed Income PT Anugerah Sekuritas Indonesia Ramdhan Ario Maruto menjelaskan, varian Omicron sudah menjalar ke beberapa negara di Eropa. Apabila hal ini terus berlanjut, maka ketidakpastian di pasar SUN akan meningkat sehingga bisa menekan harga SUN. "Bisa menurun (harga SUN), tapi masih landai ke level 6,2-6,3%" kata dia kepada Investor Daily, Minggu (28/11).

Kemudian, Associate Director of Fixed and Income PT Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan, investor asing masih wait and see dengan situasi dan kondisi yang tengah terjadi saat ini. Pasalnya, varian Omicron mendorong kekhawatiran terhadap prospek pemulihan ekonomi yang akan terjadi pada tahun depan. 

Oleh sebab itu, Nico melihat pelaku pasar dan investor asing akan mencoba untuk bersikap defensif dan tidak akan ragu untuk keluar dari pasar SUN apabila Omicron ternyata tidak bisa dikendalikan. "Sejauh ini, kami merekomendasikan aksi jual sebagai keharusan di tengah situasi dan kondisi saat ini, sembari menunggu gejolak di pasar mulai mereda," kata dia.

Apalagi imbal hasil (yield) obligasi dengan tenor 10 tahun juga sudah berada di titik terendahnya sehingga membutuhkan sedikit koreksi. Karenanya, Nico melihat harga SUN pekan ini akan menurun dengan yield yang meningkat ke level 6,05-6,15% untuk tenor 10 tahun dan 4,9-5% untuk tenor 5 tahun.

Head of Fixed Income PT Sucor Asset Management Dimas Yusuf mengungkapkan, volatilitas kemungkinan akan meningkat seiring adanya ketakutan terhadap varian Omicron. Dimas menyebutkan, hingga saat ini kenaikan kasus di Afrika Selatan masih minim dan spread ability dari varian Omicron juga cukup tinggi. 

Karena itu, yield SUN dalam jangka panjang masih bisa menurun mengikuti pergerakan di Amerika Serikat (AS). Namun tampaknya masih akan sulit terjadi pada minggu ini sehingga untuk bertahan di level saat ini juga sudah cukup baik. "Ada kemungkinan turun, namun menurun saya lebih mungkin stay. Kalaupun turun, yield SUN maksimal bisa naik ke level 6,25%," kata dia.

Lebih lanjut, Wealth Management Head PT Bank OCBC NISP Tbk Juky Mariska menjelaskan, sebelum terjadinya tapering, pasar obligasi terus mengalami penguatan. Yield obligasi pemerintah dengan tenor 10 tahun menurun dari 6,26% pada September 2021 ke 6,06% pada Oktober 2021. “Penguatan tersebut dipengaruhi oleh dukungan berkelanjutan dari bank sentral dengan skema pembagian beban dan berkurangnya pasokan obligasi serta penguatan nilai tukar rupiah bulan lalu," kata dia.

Namun, pengumuman yang dibuat oleh The Fed untuk mulai mengurangi pembelian aset secara bertahap sebelum akhir November telah menjadi tekanan untuk pasar obligasi. Pada awal November 2021, pemerintah juga mengumumkan untuk menghentikan pelelangan obligasi karena target 2021 telah tercapai. Dengan memperhatikan berbagai sentimen tersebut, Juky menilai obligasi pemerintah untuk tenor 10 tahun akan diperdagangkan di level 6-6,3% sampai akhir tahun.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN