Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Salah satu proyek Adhi Karya. Foto: Joanito

Salah satu proyek Adhi Karya. Foto: Joanito

Dampak Pandemi terhadap Kinerja Adhi Karya

Kamis, 7 Mei 2020 | 18:41 WIB
Parluhutan Situmorang

JAKARTA, investor.id - PT Adhi Karya Tbk (ADHI) diproyeksikan mengalami perlambatan kinerja keuangan akibat ekonomi Indonesia yang terkena dampak pandemi Covid-19. Peluang perlambatan telah terlihat dalam realisasi kinerja keuangan perseroan pada kuartal I-2020.

Danareksa Sekuritas menargetkan penurunan laba bersih Adhi Karya menjadi Rp 570 miliar tahun ini dibandingkan perolehan tahun lalu yang sebesar Rp 664 miliar. Pendapatan juga diproyeksi turun dari Rp 15,31 triliun menjadi Rp 14,83 triliun. EBITDA juga diperkirakan turun menjadi Rp 1,83 triliun dari Rp 1,95 triliun.

Analis Danareksa Sekuritas Maria Renata mengungkapkan, Adhi Karya memasuki masa sulit akibat pandemi Covid-19. Wabah tersebut telah mulai berimbas terhadap performa perseroan yang ditandai dengan penurunan laba bersih kuartal I-2020. Penurunan laba juga dipengaruhi oleh peningkatan beban umum dan kenaikan beban bunga.

LRT PT Adhi Karya Tbk. Foto: Perseroan.
LRT PT Adhi Karya Tbk. Foto: Perseroan.

Adhi Karya membukukan penurunan laba bersih sebesar 80,7% dari Rp 76 miliar pada kuartal I-2019 menjadi Rp 15 miliar pada kuartal I-2020. Sedangkan pendapatan justru meningkat dari Rp 2,32 triliun menjadi Rp 3,06 triliun. Namun, margin kotor (gross margin) perseroan turun dari 13,7% menjadi 13,5%.

Begitu juga dengan margin laba bersih (net margin) anjlok dari 3,2% menjadi 0,5%. “Perolehan laba bersih tersebut hanya merefleksikan sekitar 2,6% dari target total laba bersih tahun ini. Pencapaian tersebut di bawah performa dalam beberapa tahun ini dengan sumbangan laba bersih kuartal I mencapai 11% terhadap total laba bersih tahunan.

Sedangkan pencapain pendapatan tersebut mencerminkan sebesar 20,7% dari perkiraan tahun ini berdasarkan proyeksi Danareksa Sekuritas,” tulis Maria dalam risetnya, baru-baru ini.

Selain kinerja keuangan yang turun drastis, tekanan yang dialami perseroan ditunjukkan data penurunan perolehan kontrak baru perseroan menjadi Rp 2,5 triliun hingga kuartal I-2020. Realisasi tersebut baru mencerminkan 7,1% dari total target kontrak baru yang telah ditetapkan manajemen senilai Rp 35 triliun untuk tahun 2020.

Biasanya laba bersih kuartal satu menyumbang sebesar 11% terhadap total laba bersih tahunan perseroan. Tekanan yang bagi perseroan juga datang dari penerapan pembatasan sosial (social distancing) ditambah pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di sejumlah daerah yang telah berimbas terhadap penundaan pengerjaan beberapa proyek perseroan.

Proyek Adhi Karya. Foto: B1photo/Danung
Proyek Adhi Karya. Foto: B1photo/Danung

Tekanan juga ditambah keputusan pemerintah untuk merelokasi sebagian anggaran infrastruktur ke bidang lain. Berbagai indikator tersebut mendorong Danareksa Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham ADHI dengan target harga direvisi turun dari Rp 1.300 menjadi Rp 900. Target tersebut juga telah mempertimbangkan ekspektasi membaiknya kinerja keuangan perseroan setelah memasuki semester II tahun ini atau setelah kebijakan social distancing dihapuskan.

Sementara itu, analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Joshua Michael mengungkapkan, Adhi Karya hanya mampu mencetak kontrak baru sebesar Rp 2,5 trliun hingga Maret 2020 atau mencapai 13% dari total target yang ditetapkan Mirae Asset Sekuritas sebanyak Rp 19 triliun.

“Kami memperkirakan bahwa tahun 2020 tidak akan lebih baik bagi perseroan, dibandingkan pencapaian tahun 2019. Apalagi, setelah pemerintah merelokasi anggaran senilai Rp 24 triliun untuk penanganan  virus corona. Oleh karena itu, kami memilih merevisi turun target kinerja keuangan perseroan tahun ini,” jelas Joshua dalam risetnya.

Hal tersebut mendorong Mirae Asset Sekuritas untuk merevisi turun target laba bersih Adhi Karya tahun ini dari Rp 573 miliar menjadi Rp 311 miliar. Begitu juga dengan perkiraan pendapatan tahun ini direvisi turun dari Rp 14,20 triliun menjadi Rp 12,97 triliun. Berbagai faktor tersebut mendorong Mirae Asset Sekuritas memangkas target harga saham ADHI dari Rp 875 menjadi Rp 475 per saham.

Sekretaris Perusahaan Adhi Karya Parwanto Noegroho sebelumnya mengatakan, Adhi Karya menerapkan beberapa strategi untuk menopang pertumbuhan kinerja keuangan di tengah pandemi Covid-19.

Beberapa strategi tersebut disesuaikan dengan scenario penanganan dengan mempertimbangkan kondisi keuangan dan operasional perusahaan. Dia mengatakan, pengelolaan keuangan akan dilakukan secara konservatif dengan mempertimbangkan kondisi keuangan perseroan.

Sedangkan kegiatan konstruksi di lapangan tetap berjalan dengan mengikuti ketentuan penanggulangan wabah Covid-19.

“Investasi untuk proyek konstruksi disesuaikan dengan skenario penanganan Covid-19. Selain itu, perseroan mengajukan perpanjangan kepada perbankan atas cash loan dan non-cash loan yang jatuh tempo pada periode pandemi,” jelasnya.

Dia menegaskan, Adhi Karya menargetkan pendapatan sebesar Rp 22,7 triliun dan laba bersih Rp 704 miliar tahun ini. Hingga kuartal I-2020, perseroan telah membukukan pendapatan sebesar Rp 3,06 triliun, naik 31,89% dibandingkan periode sama tahun lalu yang sebesar Rp 2,32 triliun. Laba bersih tercatat sebesar Rp 14,55 miliar, turun 80,73% dari Rp 75,54 miliar.

Berdasarkan laporan keuangan, total pendapatan Adhi Karya ditopang oleh pendapatan dari jasa konstruksi yang berkontribusi sebesar Rp 2,48 triliun, naik 37,01% dari sebelumnya sebesar Rp 1,81 triliun. Pendapatan dari konsultasi manajemen dan rekayasa industri (engineering, procurement, and construction/ EPC) tercatat Rp 93,40 miliar, terkoreksi 21,9% dari pendapatan EPC sebelumnya sebesar Rp 119,60 miliar.

Pendapatan perseroan juga berasal dari bisnis properti dengan sumbangan sebesar Rp 322 miliar atau naik 9,39% dari sebesar Rp 294,41 miliar. Pendapatan investasi infrastruktur naik 63,97% menjadi Rp 164,83 miliar dari Rp 100,52 miliar.

Sementara itu, beban pokok pendapatan perseroan meningkat 31,84% menjadi Rp 2,65 triliun dari Rp 2,01 triliun. Adapun laba bruto naik 30,09% menjadi Rp 413,75 miliar dari Rp 318,04 miliar.

Parwanto menambahkan, beberapa rencana aksi korporasi seperti penerbitan obligasi dan proses IPO anak perusahaan tengah berjalan, namun tetap memperhatikan kondisi ekonomi dan pasar modal.

“Antisipasinya dengan beberapa skenario waktu, sedang proses dikaji,” pungkasnya/

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN