Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
BTN. Foto: UTHAN A RACHIM

BTN. Foto: UTHAN A RACHIM

Dampak Penempatan Dana Pemerintah dan Tapera bagi BTN

Rabu, 8 Juli 2020 | 04:30 WIB
Parluhutan Situmorang

JAKARTA, investor.id - Penempatan dana murah dari pemerintah senilai Rp 5 triliun ditambah ekspektasi perolehan dana Tapera mulai tahun depan menjadi sentimen positif terhadap kinerja keuangan dan saham PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN). Namun, realisasi kinerja keuangan hingga Mei 2020 masih di bawah harapan.

Analis Danareksa Sekuritas Eka Savitri mengungkapkan, BTN telah mendapatkan injeksi dana dari pemerintah senilai Rp 5 triliun sesuai dengan PMK No 70 Tahun 2020. Selain itu, perseroan diperkirakan mendapatkan dukungan dana dari Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera).

“Dua faktor tersebut menjadi sentimen positif terhadap kinerja keuangan BTN dan pergerakan harga saham bank pelat merah ini. Hal itu mendorong kami untuk mempertahankan rekomendasi beli saham BBTN dengan target harga Rp 1.500,” tulis Eka dalam risetnya, baru-baru ini.

Kementerian Keuangan telah menerbitkan beleid yang mengatur mekanisme penempatan uang negara pada bank umum dalam pemulihan ekonomi nasional (PEN), yaitu Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No 70/PMK.05/2020. Sedangkan bank mitra yangdijadikan tempat untuk penempatanuang negara harus memberikan remunerasi atau bunga kepada pemerintah.

Menurut Eka, BTN merupakan bank umum yang paling diuntungkan dengan penempatan dana pemerintah tersebut. Perolehan dana ini akan berimbas terhadap penurunan biaya dana (cost of fund), karena tingkat bunga dana pemerintah tersebut hanya mencapai 3,4% atau di bawah tingkat sukubunga acuan BI yang mencapai 4,25%.

“Perolehan dana murah tersebut bisa berimbas terhadap kenaikan NIM perseroan mencapai 20 bps menjadi 3,3%. Sedangkan CoF diperkirakan turun 60 basis poin menjadi 5,4% tahun ini,” jelas dia.

Bank BTN. Foto: UTHAN
Bank BTN. Foto: UTHAN

Terkait realisasi kinerja keuangan BTN hingga Mei 2020, dia mengakui masih di bawah ekspektasi Danareksa Sekuritas. BTN membukukan laba bersih senilai Rp 515 miliar yang didukung oleh penurunan biaya dana sekitar 20 bps menjadi 5,7%.

Pertumbuhan kredit masih mendatar akibat penerapan PSBB. Tahun ini, Eka memperkirakan peningkatan laba sebelum provisi (PPOP) BTN menjadi Rp 4,67 triliun dibandingkan perolehan tahun lalu senilai Rp triliun. Sedangkan laba bersih diestimasi melonjak dari Rp 209 miliar pada 2019 menjadi Rp 1,13 triliun pada 2020.

Sebelumnya, analis Sinarmas Sekuritas Evan Lie Hadiwidjaja mengungkapkan, BTN memiliki sejumlah sentiment penopang pertumbuhan kinerja keuangan dan saham hingga akhir tahun ini. Salah satunya adanya program Tapera. “Likuiditas perseroan akan didukung Tapera,” tulis dia dalam risetnya.

Sentimen positif lainnya adalah relaksasi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terkait restrukturisasi kredit perbankan dan BTN tergolong sebagai institusi strategis bagi pemerintah dalam pemenuhan rumah. Perseroan juga didukung oleh paket stimulus yang digelontorkan pemerintah senilai Rp 1,5 triliun sebagai subsidi bunga kredit kepemilikan rumah (KPR) tahun ini. Dana tersebut akan menyubsidi sebanyak 172 ribu rumah yang sebagian besar atau mencapai 146 ribu dibiayai lewat BTN.

Selain itu, menurut Evan Lie, manajemen BTN menunjukkan sikap lebih optimistis terhadap kinerja operasional dan keuangan di tengah pandemi Covid-19 dibandingkan emiten perbankan lainnya. Optimisme tersebut didukung oleh peningkatan rasio coverage perseroan menjadi 105,7% pada kuartal I-2020 dibandingkan periode sama tahun lalu mencapai 45,1%.

Bank BTN. Foto: IST
Bank BTN. Foto: IST

Manajemen perseroan juga memperkirakan peningkatan margin bunga bersih (net interest margin/NIM) dalam beberapa kuartal mendatang yang didukung oleh penurunan biaya pendanaan (cost of fund), seiring dengan penurunan deposito berjangka menjadi pendanaan di luar dana pihak ketiga (DPK) atau pendanaan berskala besar (wholesale funding).

Sedangkan kredit yang direstrukturisasi akibat pandemi Covid-19, ungkap dia, diproyeksikan sebesar 17,6% dari Rp 112,8 triliun sebagai kredit kepemilikan rumah bersubsidi dan mencapai 28,2% dari total kredit kepemilikan rumah tanpa subsidi yangn senilai Rp 80 triliun kemungkinan masuk dalam program ini.

Seluruh kredit tersebut berasal dari debitur dengan tingkat risiko tinggi. Hal ini mendorong manajemen perseroan untuk merevisi turun target laba bersih perseroan tahun ini dari Rp 2,5 triliun menjadi sekitar Rp 1,2-1,3 triliun.

Meski perseroan menghadapi sejumlah tantangan, Sinarmas Sekuritas memilih untuk menaikkan rekomendasi saham BBTN dari netral menjadi beli dengan target harga Rp 1.340. Target harga tersebut mengimplikasikan PBV tahun 2021 sekitar 0,9 kali.

Saat ini, harga BBTN masih ditransaksikan di level BV 0,5 kali atau sama dengan level dimana belum adanya program pembangunan satu juta rumah. Target harga tersebut juga menggmbarkan ekspektasi pertumbuhan PPOP BTN menjadi Rp 4,32 triliun tahun ini dibandingkan realisasi tahun lalu senillai Rp 4 triliu.

Begitu juga dengan laba bersih diharapkan melonjak menjadi Rp 763 miliar pada 2020 dibandingkan realisasi tahun 2019 senilai Rp 209 miliar.

Sedangkan PPOP dan laba bersih perseroan tahun depan diharapkan kembali melonjak masing-masing menjadi Rp 6,56 triliun dan Rp 2,44 triliun.

Penawaran Obligasi

BTN tengah menjajaki penawaran obligasi senilai Rp 1,5 triliun. Direktur Finance, Planning, & Treasury BTN Nixon L. P. Napitupulu mengatakan, perseroan sudah menunjuk sejumlah penjamin emisi (underwriter) yang akan menangani penerbitan obligasi, namun pihaknya belum dapat menyebut rinci para sekuritas tersebut.

Aksi ini akan menjadi Penawaran Umum Berkelanjutan (PUB) baru. BTN sebelumnya telah menuntaskan program PUB III yang dijalankan selama periode Juni 2017-Juni 2019.

Ketika itu, jumlah dana yang dihimpun selama PUB III mencapai Rp 9,14 triliun dari rencana Rp 10 triliun. PUB III ini dilaksanakan sebanyak dua tahap.

Penawaran surat utang rupiah tahun ini akan menambah daftar penggalangan dana eksternal BTN. Januari lalu, perseroan berhasil meraih US$ 300 juta dari penerbitan junior global bond dengan kupon 4,2% dan bertenor 5 tahun. Aksi ini dinilai membuat rasio kecukupan modal BTN terus menguat.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN