Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Selah satu kegiatan di pabrik Astra International. Foto: BeritaSatu Photo/M Defrizal

Selah satu kegiatan di pabrik Astra International. Foto: BeritaSatu Photo/M Defrizal

Dampak Pengetatan PSBB bagi Astra International

Sabtu, 19 September 2020 | 09:26 WIB
Parluhutan Situmorang

JAKARTA, investor.id - PT Astra International Tbk (ASII) akan kembali menghadapi tekanan dalam penjualan mobil, meskipun realisasi pada Agustus 2020 melonjak. Tekanan tersebut muncul setelah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memperketat pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Selain itu, ekonomi yang masih melambat juga tetap menjadi tantangan bagi perseroan.  

Dengan kondisi tersebut, target penjualan mobil secara nasional yang ditetapkan oleh Gaikindo sebanyak 600 ribu unit tahun ini sulit tercapai. Penjualan mobil diproyeksi pulih tahun depan, seiring perbaikan ekonomi nasional.

Analis Trimegah Sekuritas Hasbie dan Willinoy Sitorus mengungkapkan, penjualan mobil wholesale menunjukkan peningkatan sebesar 47,4% menjadi 37,2 ribu unit pada Agustus 2020 dibandingkan bulan sebelumnya. Namun, dibandingkan Agustus 2019, penjualan tersebut turun 58,8%.

Sedangkan penjualan mobil oleh Astra pada Agustus tahun ini meningkat 65,4% menjadi 16,7 ribu unit dibandingkan bulan sebelumnya. Adapun dibandingkan Agustus tahun lalu, penjualan tersebut turun 64,3%.

Astra International. Foto: DEFRIZAL
Astra International. Foto: DEFRIZAL

Menurut Hasbie dan Willinoy, volume penjualan mobil memang menunjukkan perbaikan pada Agustus, namun pencapaian itu masih jauh dari kondisi normal yang ditunjukkan oleh anjloknya penjualan dibandingkan periode sama tahun lalu. Hal ini membuat volume penjualan mobil nasional sampai Agustus 2020 masih jauh dari target Gaikindo tahun ini.

“Dengan pencapaian penjualan hingga Agustus, pabrikan mobil membutuhkan usaha yang sangat keras untuk merealisasikan target penjualan mobil nasional sebanyak 600 ribu unit sampai akhir 2020. Target tersebut menggambarkan bahwa volume penjualan mobil bulanan harus mencapai 69-81 ribu unit,” tulis Hasbie dan Willinoy dalam riset terbaru. Tantangan terbesar datang dari pengetatan PSBB di Jakarta yang membuat aktivitas masyarakat kembali lebih banyak di rumah.

Hal tersebut akan membuat pembelian mobil sulit untuk dipacu dengan waktu yang tersisa tahun ini. Bahkan, kondisi tersebut membuat penjualan mobil lebih menantang dibandingkan bulan-bulan sebelumnya.

Sebelumnya, Kementerian Perindustrian mengusulkan pembebasan pajak untuk pembelian mobil baru sebagai stimulus di industri otomotif. Stimulus itu terdiri atas dua jenis pajak, yaitu pajak pertambahan nilai (PpnBM) dan bea balik nama (BBN).

Jika dua pungutan negara itu direlaksasi oleh Kementerian Keuangan, bisa menjadi sentimen positif terhadap penjualan mobil baru, karena bisa menurunkan harga jual mobil baru hingga 17%.

“Namun, relaksasi ini belum bisa dipastikan,” ungkap Has bie dan Willinoy. Karena itu, Trimegah Sekuritas merevisi turun volume penjualan mobil dan sepeda motor nasional tahun ini. Target penjualan mobil direvisi turun 21% menjadi 515 ribu unit dan sepeda motor dipangkas 23% menjadi 3,5 juta unit.

Salah satu aktivitas di pabrik Astra International. Foto: dok.
Salah satu aktivitas di pabrik Astra International. Foto: dok.

Trimegah juga merevisi turun target pendapatan Astra International menjadi Rp 171,41 triliun tahun ini dibandingkan perkiraan semula Rp 194,81 triliun. Laba bersih juga dipangkas dari perkiraan semula Rp 20,4 triliun menjadi Rp 16,29 triliun.

Begitu juga dengan perkiraan pendapatan perseroan tahun 2021 direvisi turun dari Rp 222,03 triliun menjadi Rp 194,81 triliun. Perkiraan laba bersih tahun 2021 dipangkas dari Rp 19,35 triliun menjadi Rp 15,17 triliun.

Berbagai fakor tersebut mendorong Trimegah Sekuritas merevisi turun target harga saham ASII dari Rp 6.000 menjadi Rp 5.200 dengan rekomendasi diturunkan menjadi netral.

Target harga tersebut telah mempertimbangkan perkiraan PE dan PBV ASII tahun 2021 masing-masing 12,9 kali dan 1,2 kali.

Pulih Tahun Depan

Di lain pihak, analis Danareksa Sekuritas Stefanus Darmagiri mengungkapkan, penjualan mobil nasional diperkirakan tetap melambat sampai akhir tahun ini, yang dipicu oleh pengetatan PSBB di Jakarta yang berimbas terhadap pembatasan aktivitas penjualan dealer mobil. Hal ini akan berimbas terhadap pemulihan penjualan mobil sepanjang tahun ini.

“Kami memperkirakan pengetatan PSBB akan berimbas terhadap penjualan mobil, sehingga pemulihan diharapkan baru bisa terlaksana tahun depan dengan target pertumbuhan 30%. Target tersebut didukung oleh ekonomi nasional yang diperkirakan membaik,” tulis Stefanus dalam risetnya.

Terkait realisasi penjualan mobil hingga Agustus, dia menyebutkan bahwa Astra International memang menunjukkan lonjakan sebesar 65,4% atau di atas pertumbuhan industri yang sebesar 47,4%.

Lonjakan tersebut membuat pangsa pasar penjualan mobil wholesale perseroan meningkat menjadi 45% pada Agustus dibandingkan Juli 2020 yang sekitar 40,1%. Hal ini membuat pangsa pasar penjualan mobil perseroan Januari- Agustus 2020 menjadi 51,4%.

“Melihat data tersebut, kami memperkirakan pangsa pasar penjualan mobil perseroan mencapai 53% sepanjang 2020,” jelas dia.

Dengan faktor-faktor tersebut, Stefanus mempertahankan rekomendasi beli saham ASII dengan target harga Rp 6.700. Target harga tersebut mengimplikasikan perkiraan PE tahun 2021 sekitar 15,5 kali. Target harga tersebut juga telah mempertimbangkan faktor perlambatan penjualan mobil sampai akhir tahun ini dan peluang pemulihan pasar mobil tahun 2021.

Dia memproyeksikan penurunan laba bersih Astra International menjadi Rp 16,17 triliun tahun ini dibandingkan 2019 yang sebesar Rp 21,7 triliun. Pendapatan perseroan juga diperkirakan turun menjadi Rp 188,66 triliun pada 2020 dibandingkan tahun lalu Rp 237,16 triliun.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN