Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Dampak Perang Dagang AS-Tiongkok Tidak Lama

Oleh Imam Suhartadi dan Tri Murti, Selasa, 27 Maret 2018 | 12:38 WIB

Menurut Kiswoyo, sentimen negatif perang dagang AS-Tiongkok yang telah memicu pelemahan indeks harga saham gabungan (IHSG) sebesar 10,52 poin atau 0,17% menjadi 6.200,17 pada penutupan pasar saham, Senin (26/3), diyakini hanya bersifat sesaat.


Isu perang dagang telah memicu sentimen negatif di bursa AS dan regional ditengarai juga menyeret IHSG ke zona merah, namun pasar saham diperkirakan segera rebound lagi.


“Harusnya besok pasar saham bisa positif lagi, apalagi kalau bursa Dow Jones dan regional juga sudah hijau,” papar Kiswoyo.


Sependapat dengan Kiswoyo, David Sumual juga memperkirakan dampak isu perang dagang AS-Tiongkok terhadap pasar finansial tidak akan lama.


“Dampaknya ke pasar uang dan saham, paling hitungan bulan saja, yakni tiga bulan dan paling lama enam bulan. Sentimen negatif itu memang sudah dimulai sekarang, meskipun AS dan Tiongkok masih sebatas saling gertak. Tarif bea masuk/impor terhadap produk-produk tertentu juga belum diterapkan,” kata David.


David mengakui, hal yang paling dikhawatirkan pasar adalah dampak perang dagang AS-Tiongkok bakal memicu perlambatan ekonomi global. Selain bisa memperlemah perekonomian global, perang dagang dikhawatirkan dapat membuat produk-produk Tiongkok akan membanjiri pasar Tanah Air, seperti produk baja Tiongkok yang telah di-dumping.


Namun demikian, David tidak terlalu yakin perang dagang antara dua kekuatan ekonomi dunia itu bakal menjadi kenyataan, mengingat perang dagang dipastikan akan merugikan kedua pihak. Tiongkok di antaranya telah menerapkan strategi untuk menerapkan bea masuk/impor untuk produk daging babi dan anggur yang notabene merupakan produk yang banyak diproduksi negara bagian yang didominasi oleh pendukung (voters) Presiden Donald Trump.


“Jadi, ada kemungkinan nantinya Presiden Trump bakal mendapatkan tekanan dari voters-nya sendiri, karena mereka dirugikan. Hal semacam ini yang mungkin membuat perang dagang tidak semudah itu menjadi kenyataan,” ujar dia.


Selain itu, David juga yakin masih terbuka peluang bagi AS dan Tiongkok untuk menyelesaikan perselisihan dagang mereka melalui kesepakatan bilateral. Penyelesaian permasalahan dagang AS dan Tiongkok juga bisa diselesaikan melalui mekanisme WTO, kendati itu memerlukan waktu lebih panjang. (*)

BAGIKAN