Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pengunjung berada di depan layar pergerakan saham, gedung BEI, Jakarta. Foto ilustrasi: BeritasatuPhoto/Uthan AR

Pengunjung berada di depan layar pergerakan saham, gedung BEI, Jakarta. Foto ilustrasi: BeritasatuPhoto/Uthan AR

Dampak Virus Korona, Dana Asing Keluar dari Saham dan SBN Capai Rp 104 Triliun

Gita Rosiana, Jumat, 27 Maret 2020 | 19:22 WIB

JAKARTA, investor.id - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai, besarnya sentimen negatif terkait penyebaran virus Korona berpengaruh signifikan terhadap kondisi pasar saham dan surat berharga Indonesia (SBN) di Indonesia. Sejak awal Maret hingga 24 Maret 2020, dana investor asing yang keluar dari pasar saham dan SBN mencapai Rp 104,39 triliun.

Deputi Komisioner Humas dan Logistik OJK Anto Prabowo mengatakan, pada semester I-2020, kondisi perekonomian global diperkirakan akan terkontraksi cukup dalam akibat penyebaran virus corona. Kondisi ini diperkirakan baru akan pulih pada semester II-2020.

Anto menjelaskan, perekonomian Amerika Serikat (AS) dan Eropa baru akan mengalami kontraksi pada kuartal II-2020, karena penyebaran virus Korona baru akan mencapai puncaknya pada April dan Mei. Sementara perekonomian Tiongkok akan membaik pada kuartal II-2020 karena penyebaran virus corona sudah mulai melambat pada periode tersebut.

Besarnya sentimen negatif tersebut juga berpengaruh terhadap kinerja pasar modal dan SBN di pasar domestik. Sejak awal Maret hingga 24 Maret 2020, dana investor asing yang tercatat keluar dari pasar saham dan SBN mencapai Rp 104,39 triliun. Nilai ini terdiri atas dana yang keluar dari pasar saham sebesar Rp 6,11 triliun dan SBN sebesar Rp 98,28 triliun.

Dengan kondisi tersebut, pasar saham melemah signifikan sebesar 27,79% month to date (mtd) atau 37,49% year to date (ytd) menjadi 3.937,6. Pelemahan ini juga terjadi di pasar SBN dengan peningkatan yield sebesar 118,8 bps mtd atau 95 bps ytd. 

"Pelemahan ini disebabkan karena kekhawatiran investor terhadap virus Korona yang berdampak pada kinerja emiten di Indonesia," ujar Anto dalam keterangan resmi di Jakarta, Jumat, (27/3).

Untuk meredam volatilitas pasar modal tersebut, OJK telah mengambil berbagai kebijakan seperti pelarangan short sellingassymmetric auto rejection, trading halt 30 menit untuk penurunan indeks 5%, buyback saham tanpa melalui RUPS dan perpanjangan penggunaan laporan keuangan untuk IPO dari 6 bulan menjadi 9 bulan.

Selain itu, OJK juga mengeluarkan kebijakan lainnya seperti merelaksasi batas waktu penyampaian laporan keuangan dan penyelenggaraan RUPS, memperkenankan emiten untuk dapat melakukan RUPS melalui sistem elektronik (e-RUPS).

“Serta, merelaksasi berlakunya laporan keuangan dan laporan penilaian di pasar modal serta merelaksasi masa penawaran awal dan penawaran umum,” tambah dia.

Di sektor investasi, OJK juga merelaksasi nilai haircut untuk perhitungan collateral dan Modal Kerja Bersih Disesuaikan (MKBD), memberikan stimulus dan relaksasi kepada industri pengelolaan investasi, mempersingkat jam perdagangan di bursa efek di penyelenggara pasar alternatif dan waktu operasional penerima laporan transaksi efek, serta menyesuaikan waktu penyelesaian transaksi perdagangan efek. 

 

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN