Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi dana asing. Foto: Pixabay

Ilustrasi dana asing. Foto: Pixabay

Dana Asing Rp 218 Triliun Masuk ke Pasar Modal RI

Gita Rossiana, Minggu, 29 Desember 2019 | 18:32 WIB

JAKARTA, investor.id – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, aliran modal asing yang masuk ke pasar modal Indonesia hingga 20 Desember 2019 mencapai Rp 218,8 triliun. Hal ini seiring sentimen positif dari kesepakatan dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok.

Deputi Komisioner Manajemen Strategis dan Logistik OJK Anto Prabowo mengatakan, sentimen eksternal banyak mempengaruhi pergerakan modal asing ke pasar modal Indonesia. Selain kesepakatan dagang antara AS-Tiongkok, kemenangan Perdana Menteri Boris Johnson dalam pemilu Inggris juga mempengaruhi pergerakan modal asing.

"Selain itu, berlanjutnya kebijakan dovish oleh beberapa bank sentral negara maju juga mendorong penguatan pasar keuangan global," kata Anto dalam keterangan tertulis yang diterima Investor Daily.

Berdasarkan data OJK, total aliran modal asing (non-residen) yang masuk ke surat berharga negara (SBN) sebesar Rp 171 triliun dan pasar saham sebesar Rp 47,8 triliun. "Untuk aliran modal asing ke pasar SBN, penguatan disebabkan oleh penurunan yield sebesar 94,2 bps (year to date/ytd)," jelas dia.

Untuk pasar saham, peningkatan aliran modal asing seiring penguatan indeks harga saham gabungan (IHSG) sebesar 4,53% secara month to date (mtd) atau 1,45% ytd menjadi 6.284,4.

Khusus untuk SBN, penguatan tidak hanya disebabkan oleh aliran modal investor asing, tapi juga oleh investor di jasa keuangan. Sampai dengan 20 Desember 2019, kepemilikan SBN oleh perbankan tercatat bertambah sebesar Rp 193,2 triliun secara ytd. Sementara itu, pertambahan kepemilikan SBN oleh dana pensiun sebesar Rp 43,9 triliun dan asuransi sebesar Rp 13,6 triliun secara ytd.

Lebih lanjut, sampai dengan 23 Desember 2019, penghimpunan dana melalui pasar modal telah mencapai Rp 166 triliun. Adapun jumlah emiten baru pada periode tersebut mencapai 54 perusahaan dengan total indikasi penawaran sebesar Rp 15,6 triliun. 

Ke depan, OJK akan memantau perkembangan ekonomi global dan  memitigasi potensi risiko yang ada terhadap kinerja sektor jasa keuangan. "OJK juga terus memperkuat koordinasi dengan para stakeholder dalam rangka menjaga stabilitas sistem keuangan," kata dia.

Sementara itu, Investment Specialist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia Krizia Maulana juga melihat sentimen global mempengaruhi perkembangan pasar modal Indonesia. Salah satunya adalah perkembangan konflik dagang antara AS dan Tiongkok dan kebijakan bank sentral AS dalam menopang pertumbuhan ekonomi. 

Di Eropa, meski ekonomi masih berada dalam fase konsolidasi, namun mulai menunjukkan adanya potensi untuk menjadi stabil. Sinyal stabilisasi pada sektor manufaktur juga terlihat di Tiongkok. "Harapannya akan tercipta kesepakatan dagang dan relaksasi moneter di kawasan Asia dan negara berkembang untuk menurunkan suku bunga sehingga mendorong investasi di sektor finansial ke negara tersebut," tutur dia.

Di pasar domestik, pasar obligasi Indonesia meningkat 13,6% sampai dengan akhir November 2019. Hal ini didorong oleh imbal hasil yang masih tinggi dan kebijakan moneter akomodatif bank sentral global. "Bank Indonesia pun tahun ini sudah menurunkan suku bunga sebanyak empat kali dan juga didorong oleh percepatan reformasi kebijakan, stabilitas politik dan perbaikan earning perusahaan, sehingga bisa mendorong  investasi untuk pasar keuangan Indonesia," papar dia.

Ke depan, hal yang masih menjadi tantangan bagi perekonomian Indonesia adalah defisit neraca berjalan. Pasalnya, arus modal asing belum bisa menutupi defisit pada neraca berjalan ini.

Krizia berharap perekonomian Indonesia akan pulih secara gradual pada 2020. Hal ini seiring mulai meredanya ketegangan antara AS dan Tiongkok dan adanya kebijakan pelonggaran fiskal. "Peningkatan daya saing, khususnya untuk area non komoditas menjadi sangat krusial untuk meningkatkan investasi yang diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi lebih tinggi lagi," papar dia.

Dia berpesan kepada investor untuk bisa mengevaluasi investasi pada akhir tahun ini untuk memastikan investasi yang dimiliki saat ini sesuai dengan tujuan keuangan yang ingin diraih. "Jangan membiarkan volatilitas jangka pendek membatasi kita untuk berinvestasi, karena tidak melakukan investasi juga memiliki risiko," ujar dia.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA