Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi Investasi. Foto: Goumbik (Pixabay)

Ilustrasi Investasi. Foto: Goumbik (Pixabay)

Dana Kelolaan Reksa Dana Kembali Tembus Rp 500 Triliun

Senin, 3 Agustus 2020 | 21:52 WIB
Farid Firdaus (farid.firdaus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – Dana kelolaan industri reksa dana mencapai Rp 503,2 triliun per 31 Juli 2020, meningkat 4,3% dibandingkan per 30 Juni 2020 yang senilai Rp 482,5 triliun. Sementara itu, tren penguatan indeks reksa dana saham selama Juli berlanjut.

Head of Investment Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana mengatakan, posisi dana kelolaan industri reksa dana yang kembali menembus Rp 500 triliun per akhir Juli, lebih cepat dari perkiraan semula. Selain terbantu oleh penguatan indeks harga saham gabungan (IHSG) maupun obligasi, posisi tersebut juga mencerminkan kepercayaan investor yang menempatkan investasinya pada reksa dana.

“Awalnya, kami perkirakan baru bisa kembali ke posisi Rp 500 triliun pada kuartal IV, tapi ternyata lebih cepat karena Juni-Juli pun IHSG sudah menguat cukup banyak,” kata Wawan kepada Investor Daily, Senin (3/8).

Adapun data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan, dana kelolaan sempat mencapai Rp 537,3 triliun pada akhir Januari 2020, kemudian menjadi Rp 525,2 triliun pada akhir Februari, lalu turun signifikan menjadi Rp 471,87 triliun akibat pandemi Covid-19 pada akhir Maret. Selanjutnya, secara perlahan naik tipis menjadi Rp 475,6 triliun pada April dan tak banyak bergerak pada akhir Mei pada posisi Rp 474,2 triliun.

Sementara itu, data Infovesta menunjukkan, indeks reksa dana saham masih menjadi jawara dalam hal mencetak tingkat pengembalian (return) investasi secara bulanan dibandingkan reksa dana jenis lain. Indeks reksa dana saham menguat sebesar 2,98% selama Juli. Penguatan tersebut diakui tidak sebanyak penguatan IHSG yang hampir 5%.

“Hal ini kemungkinan karena reksa dana saham cenderung mencerminkan penguatan saham-saham blue chips, sedangkan IHSG mencerminkan seluruh saham, termasuk kontribusi dari kenaikan saham-saham second liner,” jelas Wawan.

Secara bulanan, terdapat 134 produk reksa dana saham yang memberikan return mulai dari 5,13% hingga tertinggi 24,28%. Jika diseleksi lagi, setidaknya terdapat 12 produk reksa dana saham yang mampu mencetak return di atas 9%.

Selama Januari-Juli, indeks reksa dana saham masih terkoreksi 19,8%, sedikit lebih dalam dibandingkan koreksi IHSG yang sebesar 18,25%. Menurut Wawan, IHSG diprediksi masih dapat menguat, meskipun berakhir negatif 15% jika dibandingkan tahun lalu. Pihaknya memprediksi, IHSG bertengger pada level 5.400-5.500 pada akhir tahun ini.

Pendapatan Tetap

Selama Januari-Juli, indeks reksa dana pendapatan (fixed income) tetap memimpin dengan mempertahankan return sebesar 4,43%. Return jenis reksa dana ini diperkirakan positif hingga menembus level 7%-8% hingga akhir 2020. Proyeksi tersebut dengan asumsi masih terjadinya penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI). Selain itu, faktor kembali masuknya investor asing ke pasar obligasi, khususnya Surat Utang Negara (SUN).

Adapun indeks reksa dana pendapatan tetap mengalami kenaikan 1,97% secara bulanan. Dalam daftar 10 produk teratasnya, kelompok reksa dana ini menghasilkan return antara 3,17%-5,14% secara bulanan. Tak ketinggalan, indeks reksa dana campuran dan pasar uang masing-masing mencetak kenaikan 2,43% dan 0,39% secara bulanan.

Secara terpisah, Direktur Panin Asset Management Rudiyanto mengatakan, pihaknya menangkap peluang ke depan dengan rencana peluncuran dua hingga tiga produk reksa dana terproteksi, yang memiliki underlying asset obligasi korporasi. “Kami melihat reksa dana terproteksi masih punya pasar. Sebetulnya resiko utama produk ini adalah gagal bayar korporasi. Oleh karena itu, kami akan mencari obligasi dengan peringkat dan perusahaan yang bagus supaya investor nyaman,” jelas dia.

Rudiyanto menambahkan, pihaknya juga menaruh optimisme pada pasar saham lantaran posisi wajar IHSG masih di sekitar 5.500-6.000. Kalaupun ke depan pasar saham bergerak volatile dan terjadi koreksi, hal ini dapat menjadi momentum untuk akumulasi beli pada sejumlah saham dengan valuasi menarik.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN