Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Produk Indofood di sebuah gerai. Foto: Investor Daily/DAVID

Produk Indofood di sebuah gerai. Foto: Investor Daily/DAVID

Di Balik Gurihnya Kinerja Indofood

Parluhutan Situmorang, Sabtu, 22 Februari 2020 | 07:20 WIB

JAKARTA, investor.id - Pertumbuhan konsumsi masyarakat dan tren kenaikan harga jual minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) diharapkan menjadi faktor utama penguat pertumbuhan kinerja keuangan PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) tahun ini.

Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Mimi Halimin mengungkapkan, perkiraan pertumbuhan kinerja keuangan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) dan divisi agribisnis, PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP) dan PT PP London Sumatera Tbk (LSIP), diproyeksikan menjadi faktor utama pendongkrak kinerja keuangan Indofood sepanjang tahun ini.

Diproyeksikan pertumbuhan pendapatan dan laba bersih Indofood CBP masing-masing 10,6% dan 14,3% pada 2020.

“Kami memperkirakan kontribusi Indofood CBP bisa mencapai 76% terhadap total kinerja keuangan Indofood tahun ini, sehingga dengan ekspektasi peningkatan tersebut, diharapkan rata-rata peningkatan tahunan (CAGR) laba bresih Indofood mencapai 13,7% periode 2015-2020. CAGR tersebut lebih baik, dibandingkan CAGR perseroan tahun 2013-2018 mencapai 10,7%,” tulis Mimi dalam risetnya, baru-baru ini.

Indofood. Foto: IST
Indofood. Foto: IST

Berlanjutnya pertumbuhan kinerja keuangan Indofood, ungkap dia, didukung kuatnya brand perseroan di bisnis penjualan mi dalam negeri. Hal ini terlihat dari data pangsa pasar penjualan mie perseroan mencapai 70%. Meski sudah tinggi, perseroan masih memiliki ruang untuk mencetak pertumbuhan volume penjualan sejalan dengan peningkatan permintaan masyarakat.

Pertumbuhan penjualan mie bermerek perseroan, ungkap dia, juga didukung berlanjutnya inovasi produk dan peluncuran produk baru. Pertumbuhan penjualan brand mi premium juga ikut menopang pertumbuhan kinerja keuangan, karena produk ini menawarkan margin keuntungan lebih besar, dibandingkan penjualan mi biasa. Hal ini menjadikan Indofood CBP tetap bisa lanjutkan pertumbuhan ke depan.

Terkait bisnis CPO, menurut Mimi, harga jual komoditas ini telah menunjukkan peningkatan sejak kuartal IV-2019. Berdasarkan data Bloomberg, ratarata harga jual CPO meningkat 29,7% pada kuartal IV-2019.

“Kami memperkirakan sumbangan divisi agribisnis akan meningkat dengan perkiraan pertumbuhan pendapatan divisi ini mencapai 20% tahun ini,” terangnya.

Indofood CBP. Foto: IST
Indofood CBP. Foto: IST

Mirae Asset Sekuritas memperkirakan bahwa divisi lainnya dapat mencetak kinerja keuangan yang tetap stabil tahun ini. Di antaranya, kinerja keuangan Bogasari diperkirakan tetap stabil tahun ini dengan perkiraan margin EBIT sekitar 6%. Sedangkan ratarata pertumbuhan pendapatan tahunan (CAGR) Bogasari periode 2015-2020 diperkirakan mencapai 4,7%, dibandingkan realisasi CAGR tahun 2013-2018 mencapai 2,6%.

“Kami memperkirakan bahwa produk Bogasari memiliki keunggulan dibandingkan kompetitornya didukung kuatnya brand perseroan dan skala ekonomi pabrik perseroan yang sudah besar,” jelas Mimi.

Berbagai faktor tersebut mendorong Mirae Asset Sekuritas Indonesia mempertahankan rekomendasi beli saham INDF dengan target harga Rp 9.500. Target harga tersebut merefleksikan  perkiraan PE tahun 2020 sekitar 11,1 kali.

Target tersebut juga mempertimbangkan ekspektasi berlanjutnya belanja konsumsi dalam negeri. Target harga tersebut juga mempertimbangkan peluang kenaikan laba bersih perseroan menjadi Rp 5,64 triliun tahun 2020, dibandingkan perkiraan tahun 2019 senilai Rp 4,73 triliun dan realisasi 2018 mencapai Rp 4,16 triliun. Pendapatan diproyeksikan meningkat menjadi Rp 85,28 trililiun pada 2020, dibandingkan estimasi tahun 2019 sebesar Rp 78,51 triliun dan perolehan tahun 2018 mencapai Rp 73,39 triliun.

Pandanan hampir senada diungkapkan analis Samuel Sekuritas Indonesia Suria Dharma. Menurut dia, Indofood diproyeksikan lanjutkan pertumbuhan kinerja keuangan tahun ini didukung ekspektasi kenaikan harga jual CPO dan peningkatan jaminan sosial bagi masyarakat kurang mampu oleh pemerintah.

Indofood. Foto: DEFRIZAL
Indofood. Foto: DEFRIZAL

Indofood memiliki empat usaha bisnis, yaitu PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (INDF) memasarkan produk bermerek, produksi dan pemasaran tepung terigu melalui PT Bogasari Flour Mills, bisnis perkebunan kelapa sawit melalui PT Salim Ivomas Tbk (SIMP) dan PT PP London Suamtera Tbk (LSIP), dan distribusi produk.

“Kami memperkirakan kenaikan harga CPO tahun ini dengan rata-rata mencapai 15,3% ke level RM 2.500 per ton. Kenaikan tersebut akan ditopang pertumbuhan permintaan India, Tiongkok, dan inplementasi biodisel Indonesia. Hal ini diharapkan berimbas terhadap peningkatan kontribusi agribisnis terhadap perseroan,” jelas Suria dalam risetnya.

Sedangkan implementasi kebijakan B30 di Indonesia dan B20 di Malaysia, menurut dia, juga diharapkan berimbas positif terhadap kenaikan harga jual komoditas ini. Program tersebut diharapkan berimbas terhadap penyerapan CPO mencapai 3 juta ton di Indonesia dan sebanyak 500 ribu ton di Malaysia sepanjang tahun 2020.

Selain faktor tersebut, peningkatan permintaan produk perseroan didukung atas kebijakan pemerintah menaikkan anggaran bantuan sosial menjadi Rp 58,1 triliun tahun ini. Prioritas bantuan sosial tersebut untuk bantuan kepada 10 juta program keluarga harapan (PKH) dan kartu sembako sebanyak 15,6 juta.

“Dana yang diperoleh dari PKH tersebut akan menjadi penopang dari konsumsi domestik. Kami memperkirakan bantuan PKH itu akan dikonsumsikan untuk produkproduk, seperti mi instan, sigaret, dan pulsa telepon. Hal tersebut sudah terlihat pada 2019, dimana volume penjualan mie instan perseroan meningkat sekitar 7% dan sigaret naik 2%,” ungkap Suria.

Berbagai faktor tersebut mendorong Samuel Sekuritas Indonesia untuk mempertahapan rekomendasi beli saham INDF dengan target harga Rp 9.500. Bahkan, saham INDF dijadikan sebagai pilihan teratas untuk sektor konsumsi dalam negeri.

Taget harga tersebut merefleksikan perkiraan PER Indofood tahun ini mencapai 14,1 kali. Target ini juga mempertimbangkan perkiraan kenaikan laba bersih perseroan menjadi Rp 4,94 triliun tahun ini, dibandingkan perkiraan tahun 2019 senilai Rp 4,56 triliun dan realisasi tahun 2018 mencapai Rp 4,16 triliun.

Pendapatan diproyeksikan meningkat menjadi Rp 85,20 triliun pada 2020 dibandingkan perkiraan tahun 2019 senilai Rp 79,23 triliun dan tahun 2018 sebesar Rp 73,39 triliun.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN