Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
CEO PT Integra Indocabinet Tbk Halim Rusli dalam 60 Minutes di BeritasatuTV, Kamis (15/4/2021). Sumber: BSTV

CEO PT Integra Indocabinet Tbk Halim Rusli dalam 60 Minutes di BeritasatuTV, Kamis (15/4/2021). Sumber: BSTV

Di Tengah Gempuran Perang Dagang dan Covid, Emiten Ini Malah Kebanjiran Order Rp 1,80 Triliun!

Jumat, 16 April 2021 | 07:30 WIB
Tri Listyarini (tri_listiyarini@investor.co.id)

JAKARTA, Investor.id – Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok tak selamanya menjadi bencana. Buktinya, emiten yang satu ini malah mendapat berkah. PT Integra Indocabinet Tbk (WOOD) justru kebanjiran order hingga Rp 1,80 triliun pada Februari lalu, di tengah gempuran perang dagang dan pandemi Covid-19.

Rupanya, perang dagang AS dan Tiongkok menjadi pemicu (trigger) meningkatnya pesanan produk furnitur perusahaan berbasis di Sidoarjo, Jawa Timur (Jatim) tersebut. Mayoritas order berasal dari pasar luar negeri karena 80-85% produk Integra diekspor.

Pada 2020, emiten yang melantai di papan utama sejak 21 Juni 2017 itu juga membukukan kinerja yang cukup mengesankan. Integra mencetak kenaikan pendapatan sebesar 39% dari target awal, yakni dari Rp 2,65 triliun menjadi Rp 2,95 triliun.

Chief Executive Officer (CEO) & Founder Integra Indocabinet, Halim Rusli mengungkapkan, ketika banyak perusahaan manufaktur furnitur terpuruk, bahkan merugi pada 2020, Integra justru meraup berkah.

“Kami memperoleh order  Rp 1,8 triliun pada Februari lalu. Ini fenomena yang tidak pernah terjadi dalam 32 tahun Integra berdiri. Kami pikir,  trigger -nya  perang dagang,” tutur Halim dalam acara 60 Minutes with Halim Rusli di BeritaSatu TV yang dipandu Direktur Pemberitaan Berita Satu Media Holdings (BSMH), Primus Dorimulu, Kamis (15/4).

Menilik kondisi pasar saat ini dan proyeksi ke depan, Halim Rusli optimistis penjualan Integra bakal tumbuh  setidaknya 25% pada 2021. “Berdasarkan pengamatan kami, Tiongkok sebagai pesaing sudah penuh kapasitasnya, begitu pula Vietnam. Jadi, kami berkeyakinan tahun ini penjualan kami tumbuh hingga 25%," ujar dia.

Dia menjelaskan, saat ini sejumlah negara produsen furnitur berupaya merebut pasar produk kayu, khususnya di AS. Negara-negara tersebut di antaranya Vietnam dengan pangsa pasar 35%, Tiongkok 15%, dan Malaysia 15%. Sedangkan pangsa pasar Indonesia baru 4,60%.  Integra saat ini menyasar pasar ekspor di 40 negara, dengan pasar utama AS, Eropa, dan Asia.

Halim mengungkapkan, Indonesia memiliki peluang yang sangat besar untuk memperbesar pangsa pasar ke AS. Soalnya, Indonesia memiliki bahan baku yang melimpah dan jarang dimiliki negara lain. Juga sumber daya manusia atau tenaga kerja yang kompetitif. "Kami yakin order yang sudah kami peroleh akan berkelanjutan," ucap dia.

Obligasi Rp 600 Miliar

Untuk mendukung target-target tersebut, kata Halim Rusli, emiten yang melantai di bursa dengan sandi saham WOOD itu bakal mengandalkan dana belanja modal (capital expenditure/capex) yang salah satu sumbernya berasal dari emisi obligasi. Baru-baru ini, Integra merilis surat utang senilai Rp 600 miliar.

"Obligasi kami mengalami oversubscribed 1,60 kali. Ini tentunya prestasi dari seluruh tim kami. Kami akan gunakan dana hasil emisi obligasi tersebut untuk meningkatkan kinerja kami, untuk restrukturisasi, tambahan modal kerja, dan mengantisipasi pertumbuhan yang kami targetkan di masa depan," papar dia.

Halim menuturkan, kunci utama kesuksesan Integra adalah teamwork yang solid di sisi hulu maupun hilir bisnis perusahaan. “Tentunya juga karena berkah dan kemurahan Tuhan,” tegas dia.

Saat ini, menurut Halim Rusli, Integra Indocabinet merupakan perusahaan mebel terbesar di Indonesia yang melakukan integrasi penuh dari sisi hulu hingga hilir. Integra mengolah bahan baku dari hutan di Kalimantan Timur (Kaltim).

"Kami pastikan bahan baku kayu kami telah memenuhi prinsip keberlanjutan yang dibuktikan oleh berbagai sertifikasi internasional. Selain mengolah bahan baku kayu hutan, kami mengolah bahan kombinasi lain, seperti rotan," jelas dia.

Halim mengakui, pandemi Covid-19 membawa berkah pada pangsa pasar ekspor, namun menyebabkan pasar dalam negeri terpuruk. Penjualan Integra di pasar domesik pada 2020 turun drastis mengingat aktivitas banyak dilakukan di rumah sehingga transaksi sangat minim. Transaksi Integra lewat proyek-proyek e-katalog pemerintah juga sangat terbatas.

"Jadi, pada 2020 pasar luar negeri meningkat tajam, tapi tidak untuk pasar dalam negeri. Pandemi membuat penjualan kami di pasar domestik turun drastis, tapi kami bersyukur hal itu terisi oleh pasar ekspor,” ujar dia.

Halim Rusli mengemukakan, tahun ini pasar domestik mulai meningkat meski belum pulih total. Itu sebabnya, ia optimistis penjualan perseroan di pasar domestik tahun ini meningkat sekitar 5%.

Halim  menjelaskan, pihaknya memiliki sejumlah strategi jangka pendek dan menengah-panjang atau 5-10 tahun ke depan. Strategi tersebut di antaranya melakukan pengontrolan bahan baku, mendekatkan diri ke pasar dengan lebih mengekspos perusahaan, membenahi operasional untuk meningkatkan produktivitas agar makin kompetitif di pasar internasional, serta terus fokus dalam ikut mengatasi isu perubahan iklim dan pemanasan global.

“Integra juga bertekad menjadi zero emission company sebagai concern dan kepedulian perusahaan terhadap isu lingkungan dan persaingan dunia. Kami pun akan meningkatkan prestasi di Indonesia dan kancah internasional. Ini memungkinkan karena Indonesia punya kekayaan alam dan SDM luar biasa," tandas dia.

Peduli Lingkungan

Halim Rusli memastikan pihaknya sangat peduli pada isu lingkungan dan keberlanjutan. Apalagi 80-85% pasar Integra adalah ekspor. Sejak menjadi perusahaan terbuka, investor Integra juga banyak berasal dari AS dan Eropa yang sangat peduli pada isu lingkungan dan keberlanjutan.

"Tentu kami akan comply terhadap tuntutan pasar, terutama terkait isu perubahan iklim, lingkungan, dan keberlanjutan. Isu perubahan iklim merupakan tujuan jangka panjang Integra. Sebagai perusahaan yang berkecimpung dalam penggunaan bahan baku yang berkaitan dengan kayu hutan maka ini akan menjadi rule dan concern kami untuk comply terhadap kebutuhan atau tren dunia saat ini," jelas Halim.

Perihal  penerapan prinsip-prinsip pelestarian lingkungan, tanggung jawab sosial, dan tata kelola yang baik (environmental, social, and governance/ESG) bagi perusahaan yang sahamnya tercatat di bursa (listed company), Halim Rusli mengemukakan, pihaknya akan mulai mempersiapkan diri secara serius karena hal itu merupakan tuntutan pasar.

"Soal itu akan menjadi komitmen kami untuk terus dijalankan. Misalnya kami sekarang mengelola bahan baku dari kayu hutan maka kami pastikan kayu tersebut telah tersertifikasi green,” tutur dia.

Integra, kata Halim, telah mendapat pengakuan pengelolaan hutan secara hijau atau berkelanjutan dari  Forest Stewardship Council (FSC) yang merupakan standar tertinggi di Eropa.

“Operasional kami akan terus mengikuti aturan yang diminta buyer. Ke depan, kami pikir isu-isu lingkungan tidak hanya menjadi persyaratan, tapi keharusan," tegas dia.

Editor : Abdul Aziz (abdul_aziz@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN