Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Media Luncheon - President Director PT Sucor Asset Management Jemmy Paul Wawointana (kiri) dan Head of Wealth Management & Client Growth Bank Commonweath Ivan Jaya pada acara Media Luncheon di Jakarta, Rabu (11/12/2019). Beritasatu Photo/Uthan AR

Media Luncheon - President Director PT Sucor Asset Management Jemmy Paul Wawointana (kiri) dan Head of Wealth Management & Client Growth Bank Commonweath Ivan Jaya pada acara Media Luncheon di Jakarta, Rabu (11/12/2019). Beritasatu Photo/Uthan AR

Di Tengah Kisruh Reksa Dana, AUM Sucor Naik Dua Kali Lipat

Sabtu, 14 Desember 2019 | 16:00 WIB
komang

JAKARTA, investor.id - Di tengah kisruh  yang terjadi pada industri reksa dana, PT Sucor Asset Management masih mampu mempertahankan kinerjanya. Bahkan, selama tahun 2019, AUM (asset under management) perusahaan melonjak lebih dua kali lipat. "Alhamdulilah, meski ada beberapa isu negatif di industri ini, perkembangan kinerja reksa sana kami masih cukup baik. AUM Sucor meningkat, dari Rp 5,7 triliun awal tahun menjadi Rp 11,7 triliun per Desember," papar Presiden Direktur Sucor Asset Management Jemmy Paul Wawointana, menjawab Majalah Investor, pekan ini.

Belakangan, industri reksa dana memang diterpa isu tidak sedap, yang cukup mengganggu perkembangan industri ini. Ada kasus gagal bayar PT Narada Aset Manajpemen yang berujung pada sanksi OJK (Otoritas Jasa Keuangan) berupa penghentian penjualan (suspensi) dua reksa dana Narada. Ada kasus Minna Padi yang terkena sanksi pembubaran  6 reksa dananya.
Kasus Minna Padi paling menghebohkan karena nilainya cukup besar, mencapai Rp 6 triliun. Berikutnya, ada lagi kasus reksa dana Pratama dan diperkirakan masih ada lagi kasus lain yang belum terungkap.

Kasus di industri reksa dana itu antara lain dipicu adanya manajer investasi yang menawarkan reksa dana saham dengan imbal hasil yang telah ditetapkan di depan (fixed). Reksa dana ini diperkirakan sebagian underlying asset-nya berupa saham gorengan. Nah, ketika harga saham gorengan itu jatuh dan terjadi redemption, manajer investasi juga ikut menjual saham-saham big caps  yang menjadi underlying asset. Inilah yang memicu kejatuhan indeks harga saham.

Tindakan OJK menutup sejumlah produk reksa dana yang menyalahi aturan itu sempat memicu terjadinya aksi jual paksa (forced sell) saham-saham yang menjadi underlying asset. Apalagi, kemudian terungkap ada  MI yang menggunakan skema margin, padahal praktik ini tidak diperbolehkan. Hal itu semakin memperburuk kondisi pasar.

Terkait penilaian terhadap kinerja reksa dana yang bermasalah, Jemmy Paul mewanti-wanti para investor agar berhati-hati jika ada koreksi yang tajam pada sebuah produk reksa dana saham. "Kalau ada koreksi tajam, misalnya dalam sehari jatuh lebih dari 5%, maka bisa dipastikan ada pengelolaan yang salah pada manajer investasi tersebut," urainya. Selain itu, praktik berutang atau skema margin juga sama sekali tidak diperbolehkan dalam pengelolaan reksa dana.

Masih Prospektif

Jemmy memperkirakan, produk reksa dana saham masih prospektif pada tahun depan. Pasalnya, selama ini IHSG (indeks Harga Saham Gabungan) tidak pernah tumbun negatif  dua tahun berturut-turut. Pada tahun 2008 IHSG turun, tapi kemudian melesat hingga 2011. Tahun 2015 IHSG turun, tapi kemudian melesat hingga tahun 2017.

Optimisme senada dikemukakan Head of Wealth Management Commonwealth Bank Ivan Jaya. Menurut dia, kepercayaan investor asing terhadap pasar modal dan pasar keuangan Indonesia masih cukup tinggi. Terbukti, ketika di pasar saham terjadi net sell dan ada gejala capital outflow, ternyata di pasar obligasi terjadi pembelian hingga Rp 110 triliun. "Ini menunjukkan bahwa sebagian dana asing hanya switching dan asing menilai investasi di Indonesia masih prospektif," ujarnya.

 

Editor : Komang (komang_99@yahoo.com )

Sumber : Majalah Investor

BAGIKAN