Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pengunjung melintas di depan layar elektrik yang menampilkan pergerakan IHSG pada perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), di Jakarta. Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Pengunjung melintas di depan layar elektrik yang menampilkan pergerakan IHSG pada perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), di Jakarta. Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Dipengaruhi Sentimen Global, IHSG Diprediksi Melemah Pekan Depan

Mashud Toarik, Sabtu, 4 April 2020 | 15:03 WIB

JAKARTA, investor.id – Setelah sempat mengalami akumulasi penguatan sebesar 1,75% dalam sepakan terakhir, pasar saham diyakini akan kembali mengalami pelemahan pada pekan depan. Pelamahan pasar akan kembali dipicu oleh penyebaran virus korona.

Direktur Anugerah Mega Investama, Hans Kwee mengatakan pelemahan IHSG akan terjadi pada awal pekan, kemudian di akhir pekan pasar diyakini akan menguat lagi.

“Pergerakan IHSG akan sangat dipengaruhi oleh pasar global dan regional yang masih terus mencermati perkembangan COVID-19,” urai Hans dalam riset mingguan yang diterima Majalah Investor, Sabtu (4/4/2020).

Berdasarkan asumsi itu, Hans memperkirakan pergerakan IHSG pada pekan depan ditargetkan dengan titik support di level 4.393 sampai 3.918 dan resistance di level 4.848 sampai 5.112.

Para investor disarankan memilih strategi buy on weakness (BOW) atau beli ketika terjadi pelemahan di pasar.

Sebagaimana disampaikan di atas, pada pekan ini pada pasar saham Indonesia sempat menguat karena merepon paket stimulus fiskal senilai Rp405,1 triliun yang diampkan Presiden Jokowi untuk melawan dampak negatif penyebaran pandemi Covid-19 terhadap perekonomian.

Tetapi perkiraan terburuk dampak Covid-19 terhadap perekonomian juga menekan pergerakan pasar. Perkiraan nilai tukar Rupiah terhadap USD dari Rp 17.500 - 20.000, Inflasi 3,9% – 5,1%, minyak US$ 38 – US$ 31 per barel, dan perumbuhan ekonomi 2,3% - minus 0,4%.

“Angka prediksi yang jelek akan menjadi kekuatan dan sentiment positif ketika data realisasi lebih baik dari perkiraan. Pasar menutup akhir pekan dengan kinerja positif akibat kenaikan harga minyak mentah dunia dan stimulus fiskal,” ujar Hans.

Kendati begitu, pada pekan ini pasar akan kembali merespon masalah Covid-19, terlebih kenaikan jumlah kasus yang cenderung lebih lambat di bandingkan Negara lain di kawatirkan akibat masih rendahnya jumlah test yang dilakukan. Kenaikan jumlah kasus ketika test di perbanyak menjadi indikasi bagus penangan kasus Covid-19.

Adapun pasar keuangan dunia pekan ini sempat positif akibat Presiden Donald Trump mengatakan telah bicara dengan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin dan Putra Mahkota Saudi Mohammad Bin Salman untuk mengurangi produksi minyak mentah. Trump memperkirakan kedua Negara akan mengurangi produksi hingga 10 juta barel.

Brent patokan internasional naik 21% dan West Texas Intermediate patokan Amerika juga naik 25%. Tahun ini minyak sudah turun lebih dari 58% yang berakibat pelaku pasar menjual aset keuangan lain untuk menutup kerugian kontrak minyak mentah. Penurnan ini juga memukul industry shale oil AS yang mendorong ekonomi dan menyerap banyak tenaga kerja di sana.

“Saya tidak percaya Rusia dan Anggota OPEC akan segera menurunkan pasokan minyak mentah mereka karena Arab baru saja menaikan produksinya. Selain itu tanpa partisipasi AS dalam menurunkan produksi Shale oil sulit menemukan penurunan produksi dalam waktu dekat,” paparnya.

Minyak cenderung tertekan akibat penurunan permintaan akibat aktivitas lockdown yang di pakai berbagai Negara untuk melawan Covid-19. Hanya Tiongkok yang mulai pulih dari Covid-19 dilaporkan mulai membeli minyak untuk cadangan darurat menjadi berita positif minyak mentah.

Wall Street menutup pekan ini dengan penurunan, setalah pelaku pasar kembali fokus Covid-19. Telah ada 1.098.762 kasus Covid-19 di dunia dengan 59.172 mengalami kematian. AS memimpin dengan 277.467 kasus dengan kematian 7.402.

“Pasar dalam dua pekan ke depan akan memperhatikan pernyataan Presiden Donald Trump yang mengatakan mereka bersiap dengan lonjakan kasus virus korona baru dalam dua pekan kedepan,” ujarnya.

Pejabat Gedung Putih memproyeksikan antara 100.000 dan 240.000 kematian di AS dengan perkiraan puncaknya selama dua minggu ke depan. Sebagian besar data yang keluar mengkonfirmasi dampak buruk covid 19 terhadap perekonomian AS dan Dunia.

Indeks manufaktur ISM turun menjadi 49,1 di Maret dari 50,1 pada Februari. Klaim awal tunjangan pengangguran naik menjadi 6,65 juta dari sebelumnya 3,3 juta pengangguran AS pada pekan terakhir Maret. Data ini kembali mencatatkan rekor tertinggi.

Sedangkan data lapangan kerja AS turun 701.000 pada Maret dan ini merupakan laporan pekerjaan terburuk sejak 2009. Tingkat pengangguran naik menjadi 4,4%. Lockdown di sebagian wilayah melawan Covid-19 membuat ekonomi USA menjadi berat dan ini akan di konfirmasi oleh data-data yang keluar. Ditambah dengan lonjakan kasus Covid 19 membuat kami perkirakan Indek- indek di Wall Street akan cenderung tertekan pekan depan.

Adapun bursa Eropa pada pekan lalu tercatat cukup berflutuasi setelah terangkat oleh kenaikan harga minyak. Tetapi besarnya data kasus Covid 19 di Italia, Spanyol, Jerman dan Prancis menekan pergerakan pasar keuangan.

Besarnya kasus di Italia, Spanyol dan Prancis di ikuti angka persentase kematian yang cukup tinggi di atas 10%. Italia memberikan harapan setelah mulai menunjukan kurva penuruna pada kasus baru, tetapi masih cukup awal menyimpulkan bahwa Covid 19 akan segera berlalu dari Negara tersebut.

Data ekonomi yang keluar mengkonfirmasi dampak Covid-19 terhadap perekonomian. Sebagian saham industri keuangan mengalami tekanan akibat menunda dan membatalkan pembagian dividen dan akan memilih melakukan buyback saham mengikut anjuran Bank Sentral Eropa (ECB).

ECB menganjurkan agar uang tunai yang dihasilkan harus digunakan untuk menopang perekonomian kawasan tersebut. Dalam jangka pendek terutama dalam periode ketidakpastian pelaku pasar lebih mementingkan kas. Karena itu pelaku pasar memilih menjual aset berisiko dan memegang kas. “Kami pikir pasar Europa akan cenderung fluktuasi cenderung tertekan,” urainya.

 

 

 

Sumber : Majalah Investor

BAGIKAN