Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Teller BNI menghitung mata uang dolar AS di Jakarta   Foto ilustrasi: Investor Daily/DAVID GITA ROZA

Teller BNI menghitung mata uang dolar AS di Jakarta Foto ilustrasi: Investor Daily/DAVID GITA ROZA

Dipicu Kekhawatiran Resesi, Rupiah Ditutup Melemah 29 Poin di 14.274

Kamis, 15 Agustus 2019 | 19:19 WIB

JAKARTA, investor.id- Dipicu kekhawatiran semakin meningkatnya potensi terjadinya resesi ekonomi di Amerika Serikat, nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antar bank di Jakarta pada Kamis sore ditutup melemah 29 poin atau 0,2% menjadi Rp14.274 per dolar AS dari sebelumnya Rp14.245 per dolar AS.

"Risk appetite investor sedang sangat rendah, aset-aset berisiko di negara berkembang akan kesulitan menjaring peminat. Penyebabnya adalah persepsi risiko resesi yang semakin tebal," kata Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi seperti dilansir Antara.

Sinyal ke arah resesi terlihat dari inversi imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor dua dan sepuluh tahun, alias yang jangka pendek lebih tinggi ketimbang jangka panjang.

Yield obligasi pemerintah AS tenor dua tahun adalah 1,98% sementara yang 10 tahun berada di 1,58%. Hal seperti ini kali terakhir terjadi pada Juni 2007, beberapa bulan sebelum meletusnya krisis keuangan global.

Inversi menunjukkan bahwa risiko dalam jangka pendek lebih tinggi ketimbang jangka panjang. Oleh karena itu, inversi kerap dikaitkan dengan pertanda resesi, sehingga investor meminta jaminan lebih untuk instrumen jangka pendek karena merasa ada risiko besar di depan mata.

"Jadi, jangan berharap banyak pasar keuangan Indonesia bakal kedatangan arus modal yang deras hari ini. Akibatnya, sangat sulit bagi rupiah untuk kembali menguat," ujar Ibrahim.

Dari domestik, neraca perdagangan pada Juli 2019 mengalami defisit US$ 63,5 juta. Realisasi tersebut lebih rendah dibanding bulan lalu yang mengalami surplus US$ 196 juta.

Menurut Ibrahim, defisit neraca perdagangan Juli akan menjadi beban dalam mengarungi perekonomian kuartal III-2019.

"Kalau sepanjang kuartal III neraca perdagangan terus-terusan tekor, maka defisit transaksi berjalan bakal semakin dalam dan menyulitkan Bank Indonesia untuk melakukan penurunan suku bunga," ujar Ibrahim.

Rupiah pada pagi hari dibuka melemah Rp14.271 dolar AS. Sepanjang hari, rupiah bergerak di kisaran Rp14.265 per dolar AS hingga Rp14.305 per dolar AS.

Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia pada Kamis ini menunjukkan, rupiah melemah menjadi Rp14.296 per dolar AS dibanding hari sebelumnya di posisi Rp14.234 per dolar AS. (gr)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN