Menu
Sign in
@ Contact
Search
Salah satu pesawat PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA). (Foto: Ist)

Salah satu pesawat PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA). (Foto: Ist)

Disiapkan, Tiga Skenario dalam Rights Issue Garuda (GIAA)

Selasa, 27 September 2022 | 00:15 WIB
Muawwan Daelami (muawwan@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) telah mendapat restu untuk melangsungkan penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue. Perseroan siap melepas sebanyak 225 miliar saham baru atau setara 871,44%.

Direktur Jenderal Kekayaan Negara Kementerian Keuangan Rionald Silaban menyebutkan, harga pelaksanaan dibanderol Rp 50-150 per saham. Dalam pelaksanaan aksi korporasi tersebut, tiga skenario telah disiapkan untuk memberikan pemahaman terhadap risiko yang muncul selepas rights issue.

Baca juga: Tak Kira-kira! Garuda (GIAA) Cetak Laba Bersih Rp 57 Triliun, kok Bisa?

“Skenario pertama, dalam hal pemegang saham minoritas atau publik yang tidak mengambil haknya dengan rentang harga pelaksanaan Rp 50-150 per saham, maka kepemilikan negara setelah rights issue berada dalam rentang 53,12% hingga 54,08%,” kata Rionald dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI di Jakarta, Senin (26/9/2022).

Lalu, skenario kedua, apabila pemegang saham minoritas mengambil haknya dengan rentang harga pelaksanaan Rp 50-150 per saham, maka kepemilikan negara akan berada pada kisaran 51,43% sampai 52,7%.

Baca juga: Direstui, PMN Rp 7,5 Triliun untuk Garuda Indonesia (GIAA)

Artinya, jika pemegang saham minoritas mengeksekusi haknya, maka akan terhimpun dana sebesar US$ 358 juta. Jika ditambahkan dengan Penyertaan Modal Negara (PMN) sebesar US$ 505 juta, maka total dana yang bisa dihimpun mencapai US$ 863 juta.

Kemudian, skenario ketiga adalah jika pemegang saham minoritas tidak mengambil haknya dengan harga pelaksanaan antara Rp 50-150 per saham, maka kepemilikan negara akan berada dalam rentang 66,43% sampai 65,51%.

Baca juga: Rights Issue Disetujui, Waskita (WSKT) Incar Dana Rp 980 Miliar

“Jadi, kita memang membuat simulasi hanya untuk memastikan bahwa kita mengerti risikonya. Kalau misalnya kurang dari US$ 863 juta, jadi yang sudah dibicarakan antara perusahaan dan pemerintah Rp 7,5 triliun dalam rangka perseroan bisa bangkit. Tapi dana tambahannya untuk pengembangan rencana bisnis selanjutnya,” papar Rionald.

Mengenai waktu pelaksanaan rights issue dan konversi saham, Rionald menargetkan akan selesai pada akhir Desember 2022 dan RUPSLB direncanakan berlangsung pada 14 Oktober 2022.

Rights Issue II

Dalam kesempatan tersebut, Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra menambahkan bahwa apabila rights issue kali ini tidak terserap, maka perseroan mempertimbangkan untuk melaksanakan rights issue kedua pada tahun depan.

Baca juga: Jelang Rights Issue, Begini Prospek Saham Adhi Karya (ADHI)

“Kami sepakat bila nanti subscribe, kami bersyukur. Tapi bila tidak, kami ada pemikiran untuk rights issue kedua tahun depan,” tuturnya.

Meski demikian, kata Irfan, kemungkinan perseroan menggelar rights issue kedua itu perlu lebih dulu dilakukan review mendalam, terutama menyangkut terpenuhi atau tidak rencana bisnis perseroan ke depan.

“Apabila rencana bisnis itu konservatif, maka mungkin tidak diperlukan tambahan dana. Tapi, kemungkinan akan rights issue (kedua). Jadi, kepemilikan pemerintah akan turun dan harus dilihat dari hasil rights issue yang pertama,” ujarnya.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com