Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Purbaya Yudhi Sadewa.

Purbaya Yudhi Sadewa.

Distribusi Simpanan Mulai Merata, DPK Bank Kecil Kembali Naik

Rabu, 28 Oktober 2020 | 18:55 WIB
Nida Sahara ( nida.sahara@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menilai distribusi simpanan perbankan di kuartal ketiga 2020 sudah merata di semua kelompok, baik bank besar maupun bank kecil. Likuiditas bank-bank kecil masih memadai untuk mendukung penyaluran kredit ke depan.

Ketua Dewan Komisioner LPS Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, ketika awal Covid-19 masuk ke Indonesia, masyarakat memindahkan simpanan yang ada di bank kecil ke bank lebih besar. Hal tersebut karena nasabah khawatir bank kecil tidak bisa bertahan di masa pandemi Covid-19. Namun, memasuki semester kedua 2020, dana pihak ketiga (DPK) pada bank kecil berangsur kembali meningkat.

"Kami menilai ada perbaikan kinerja dan risiko membaik, pada April sampai Juni lalu memang ada tendensi DPK lari ke bank-bank besar. Tapi bulan Agustus 2020 keadaan berubah, kami lihat dana kembali ke bank kecil, DPK BUKU 1 lebih baik dari awal tahun ini," ujar Purbaya dalam konferensi pers, Selasa (27/10).

Purbaya mengungkapkan, kembali longgarnya likuiditas pada bank-bank kecil tak lepas dari berbagai kebijakan yang diberikan oleh pemerintah dan Bank Indonesia (BI). "Industri finansial sudah stabil tak lepas dari kebijakan fiskal dan moneter. Saya percaya dengan membaiknya likuiditas di segala lini, harusnya mereka siap menyalurkan kredit ke sektor riil," ucap dia.

Hingga Agustus 2020, DPK kelompok BUKU I sebesar Rp 33,66 triliun, membaik dari posisi April 2020 senilai Rp 32,98 triliun, di mana mulai terjadi perpindahan sebagian dana masyarakat ke bank-bank besar. Hal ini terjadi pada Mei, Juni, dan Juli lalju, di mana DPK bank BUKU I masih mengalami penurunan akibat dampak Covid-19.

"Sejak Agustus 2020, selain kelompok BUKU I, DPK BUKU II juga mengalami perbaikan yang mencapai Rp 668,45 triliun. Penghimpunan dana tersebut bahkan lebih tinggi dari Januari 2020 yang sebesar Rp 624,04 triliun sebelum adanya Covid-19. Peningkatan DPK pada kelompok bank kecil menunjukkan kepercayaan masyarakat mulai kembali pada industri perbankan, tak terkecuali bank kecil," imbuhnya.

Perpindahan dana simpanan masyarakat dari kelompok bank kecil ke bank besar pada awal Covid-19, juga tercermin dari DPK BUKU IV pada bulan Mei lalu yang mengalami peningkatan menjadi Rp 3.608,61 triliun. Padahal, pada bulan Januari hingga April 2020 kelompok BUKU IV tidak pernah menghimpun dana lebih dari Rp 100 triliun dalam sebulan.

Namun, pada Mei 2020, terjadi peningkatan hampir Rp 200 triliun dibandingkan dengan bulan April lalu yang sebesar Rp 3.413,98 triliun. Ini karena adanya perpindahan DPK dari bank kecil, di mana masyarakat merasa aman menempatkan dananya di bank besar di tengah krisis seperti ini.

Ke depan, Purbaya mengatakan masih akan membuka ruang penurunan tingkat bunga penjaminan LPS. Dengan begitu, diharapkan perbankan juga bisa cepat memangkas suku bunga deposito dan bunga kreditnya untuk mendukung penyaluran kredit.

"LPS dalam menurunkan tingkat bunga penjaminan, kami hati-hati, kalau bisa kami turunkan lebih lanjut untuk mendukung pertumbuhan sektor riil. Kalau bunga kami turunkan, bunga deposito dan bunga pinjaman juga akan turun, itu akan mendorong pertumbuhan kredit," tutur Purbaya.

Per September, LPS menjamin simpanan nasabah dari 335 juta rekening dengan nilai simpanan mencapai Rp 3.418,95 triliun, yang memenuhi ketentuan satu rekening maksimal Rp 2 miliar. Jumlah dana yang dijamin LPS mencapai 99,91% dari total DPK perbankan.


Pihaknya meyakini kondisi perekonomian pada kuartal IV ini akan lebih baik dibandingkan dengan kuartal sebelumnya. Untuk itu, LPS akan mendukung dengan kebijakan penurunan tingkat bunga penjaminan dengan mengamati situasi ekonomi terkini.

Di sisi lain, hingga saat ini LPS belum menerima laporan adanya bank gagal berukuran menengah atau besar yang harus ditangani. Namun, LPS memang akan memproses sejumlah bank berskala kecil yakni Bank Perkreditan Rakyat (BPR) untuk dilikuidasi.

Penanganan BPR ini bukan hal yang luar biasa, karena setiap tahunnya memang LPS menangani likuidasi 6-7 BPR bermasalah. "Ada bank kecil yang masuk 6-7 BPR kecil, tapi belum menimbulkan atau membahayakan. Setiap tahun kami memang terima 6-7 BPR yang kami tangani, walaupun ada yang gagal, tapi masih dalam batas normal," urai Purbaya.

Ke depan, LPS akan terus melakukan monitoring berkala terhadap perkembangan dan risiko perbankan dari sisi likuiditasnya.

"Untuk saat ini, belum ada bank umum yang bermasalah. Kami waspadai kalau ada bank gagal lagi, tapi trennya belum berubah, ini belum terlalu membahayakan saat ini," papar Purbaya. 

Editor : Esther Nuky (esther@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN