Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Teller menghitung dolar AS di salah satu money changer, Jakarta Foto: Investor Daily/DAVID

Teller menghitung dolar AS di salah satu money changer, Jakarta Foto: Investor Daily/DAVID

Dolar AS Melemah di Tengah Berita Perang Dagang yang Beragam

Gora Kunjana, Selasa, 12 November 2019 | 07:34 WIB

NEW YORK, investor.id  - Kurs dolar AS melemah terhadap sekeranjang mata uang lainnya pada akhir perdagangan Senin (Selasa pagi WIB), setelah Presiden Donald Trump mengatakan pada akhir pekan bahwa pembicaraan perdagangan dengan Tiongkok berjalan "sangat baik," tetapi bahwa Amerika Serikat (AS) hanya akan membuat kesepakatan dengan Beijing jika itu tepat untuk Amerika.

Trump pada Sabtu (9/11/2019) mengatakan kepada wartawan di Pangkalan Bersama Andrews bahwa perundingan telah bergerak lebih lambat dari yang dia inginkan, tetapi Tiongkok menginginkan kesepakatan lebih dari yang dia lakukan.

Presiden juga mengatakan bahwa ada pelaporan yang salah tentang kesediaan AS untuk mencabut tarif barang-barang Tiongkok. Pejabat dari Tiongkok dan AS pekan lalu mengatakan kedua negara telah sepakat untuk menurunkan tarif yang sudah ada dalam kesepakatan perdagangan "fase satu".

Presiden Tiongkok Xi Jinping (kanan) berjabat tangan dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sebelum pertemuan bilateral yang diadakan di sela-sela pertemuan puncak kelompok G-20 di Osaka, Jepang, pada 29 Juni 2019. AFP / Brendan Smialowski
Presiden Tiongkok Xi Jinping (kanan) berjabat tangan dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sebelum pertemuan bilateral yang diadakan di sela-sela pertemuan puncak kelompok G-20 di Osaka, Jepang, pada 29 Juni 2019. AFP / Brendan Smialowski


Indeks dolar AS turun 0,18% terakhir pada 98,176. Terhadap euro, dolar AS melemah 0,14% menjadi 1,103 dolar AS.

Berita utama perang dagang yang beragam telah membuat investor frustrasi dan bingung, kata Craig Erlam, analis pasar senior di OANDA Corp. "Kami berayun dari optimisme ke pesimisme setiap hari dan tidak pernah merasa lebih bijaksana."

"Kali ini giliran Trump 'menuangkan air dingin' (membuat sesuatu kurang menarik) tentang pernyataannya bahwa tidak hanya kesepakatan sebentar lagi, tetapi ia datang dengan 'ceri di atasnya' (sesuatu yang kecil tapi istimewa) yaitu penghapusan tarif. Sulit untuk mengatakan siapa yang akan mengalami kerugian lebih banyak dari kesepakatan ini yang berantakan, tetapi berdesak-desakan di menit terakhir ini tidak menginspirasi kepercayaan," kata Erlam.

Meskipun dolar AS sering beroperasi sebagai aset safe haven di saat-saat ketidakpastian politik dan ekonomi, dolar AS melemah pada Senin terhadap yen Jepang dan franc Swiss, mata uang safe havens tradisional lainnya.

Dolar melemah 0,27% terhadap mata uang Jepang, pembelian terakhir 108,98 yen, dan 0,36% lebih lemah terhadap franc, pada 0,994 per dolar AS. Mata uang safe haven itu disukai karena para pelaku pasar bereaksi terhadap respons kekerasan terhadap protes di Hong Kong, di mana polisi menembakkan peluru tajam ke arah para pengunjuk rasa, dengan televisi kabel dan media lainnya melaporkan setidaknya satu orang terluka.

Yuan Tiongkok melemah 0,36% menjadi 7,011 per dolar AS dalam perdagangan di luar negeri.

Data ekonomi yang mengecewakan juga menekan sentimen terhadap yuan, karena harga-harga produsen Tiongkok turun terbesar dalam lebih dari tiga tahun pada Oktober, data Biro Statistik Nasional menunjukkan pada Sabtu (9/11/2019), sementara harga-harga konsumen negara itu naik pada laju tercepat mereka dalam hampir delapan tahun.

Pound Inggris naik 0,84% pada 1,288 dolar AS meskipun ada peringatan yang dikeluarkan oleh Moody's Investors Service pada Jumat (8/11/2019) bahwa lembaga pemeringkat itu mungkin akan kembali memangkas peringkat utang Inggris.

Sumber : ANTARA

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA