Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi dolar AS

Ilustrasi dolar AS

Dolar AS Tergelincir Setelah Data Inflasi Lebih Rendah dari Perkiraan

Jumat, 1 Juli 2022 | 07:45 WIB
Indah Handayani (handayani@investor.co.id)

NEW YORK, investor.id - Dolar Amerika Serikat (AS) tergelincir pada akhir perdagangan Kamis (Jumat pagi). Karena pelaku pasar mempertimbangkan sejumlah data ekonomi AS dan angka inflasi Mei lebih baik dari perkiraan.

Indeks dolar, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama, melemah 0,40% menjadi 104,6860.

Advertisement

Pada akhir perdagangan New York, Euro naik menjadi US$ 1,0483 dari US$ 1,0444 di sesi sebelumnya. Pounsterling Inggris naik menjadi US$ 1,2182 dari US$ 1,2119 di sesi sebelumnya. Dolar Australia meningkat menjadi US$ 0,6907 dari US$ 0,6875.

Baca juga: Minyak Anjlok di Tengah Ketidakpastian Produksi OPEC+

Dolar AS dibeli 135,55 Yen Jepang, lebih rendah dari 136,54 Yen Jepang pada sesi sebelumnya. Dolar AS turun menjadi 0,9535 Franc Swiss dari 0,9552 Franc Swiss, dan turun menjadi 1,2871 dolar Kanada dari 1,2895 dolar Kanada.

Di sisi ekonomi, Departemen Perdagangan melaporkan pada Kamis (30/6/2022) bahwa inflasi pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) AS naik 0,6% pada Mei untuk kenaikan 6,3% tahun-ke-tahun, keduanya lebih baik dari ekspektasi pasar

Baca juga: Harga CPO Menguat Tipis

Indeks harga PCE inti, yang tidak termasuk makanan dan energi, naik 0,3% untuk kenaikan 4,7% tahun-ke-tahun, laporan tersebut menunjukkan.

Sementara itu, Departemen Tenaga Kerja mengatakan klaim pengangguran awal AS, cara kasar untuk mengukur PHK, tercatat 231 ribu dalam pekan yang berakhir 25 Juni, menyusul data revisi naik 233 ribu pada minggu sebelumnya. Ekonom yang disurvei oleh The Wall Street Journal memperkirakan klaim baru akan berjumlah 230 ribu.

Editor : Indah Handayani (indah.handayani26@gmail.com)

Sumber : ANTARA

BAGIKAN