Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Orang-orang mengenakan masker pelindung saat berbelanja di sebuah pasar swalayan di Shenyang, provinsi Liaoning, timur laut Tiongkok. Foto: STR / AFP

Orang-orang mengenakan masker pelindung saat berbelanja di sebuah pasar swalayan di Shenyang, provinsi Liaoning, timur laut Tiongkok. Foto: STR / AFP

FOKUS PASAR:

Dongkrak Ekonomi, PBOC Pangkas Suku Bunga Pinjaman

Ghafur Fadillah, Jumat, 21 Februari 2020 | 12:26 WIB

JAKARTA, investor.id — People’s Bank Of China (PBOC) telah memangkas suku bunga pinjamannya, hal ini dilakukan karena adanya perlambatan ekonomi yang terjadi di Tiongkok dampak dari penyebaran virus korona.

“Ini merupaka upaya Tiongkok untuk mendongkrak pertumbuhan ekonominya akibat wabah virus korona yang melanda di negara tersebut. Hal ini memberikan dampak pada jaringan pasokan global dan penurunan kondisi bisnis serta aktivitas pabrikan,” tulis Pilarmas Sekuritas dalam riset harian di Jakarta, Jumat (21/2).

POBC memangkas suku bunga loan prime rate 1 tahun sebesar 10 bps menjadi 4,05% dari sebelumnya 4,15%. Sementara loan prime rate untuk 5 tahun turun sebanyak 5 bps, dari sebelumnya 4,8% menjadi 4,75%.

PBOC berusaha untuk menggabungkan upaya biaya pinjaman yang lebih rendah dengan likuiditas yang jauh lebih besar untuk meredam implikasi dari penyebaran virus korona.

“Sejauh ini kami melihat bahwa pertemuan politbiro yang dilakukan pada tanggal 12 Februari lalu mulai memberikan hasil. Pertemuan tersebut mengisyaratkan bahwa pihak berwenang akan mencoba untuk mengubah kebijakan moneter agar menjadi lebih flexible, dan menunjukkan pelonggaran moneter lebih lanjut harus dilakukan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi,” ujar Pilarmas Sekuritas.

Sementara itu, Bank Indonesia juga menurunkan BI 7 Days Reverse Repo Rate menjadi 4,75% dari sebelumnya ada di posisi 5%. Deposit Facility juga turun sebanyak 25 bps menjadi 4%, dan suku bunga lending facility turun 25 bps jadi 5,5%

Gubernur BI Perry Warijyo mengatakan, kebijakan tersebut telah disesuaikan dengan kondisi ekonomi global dan domestik. Kebijakan moneter tetap akomodatif dan konsisten dengan prakiraan inflasi yang terkendali, stabilitas eksternal yang aman serta langkah pre-emtive untuk menjaga momentum ekonomi domestik di tengah tertahannya ekonomi global sehubungan terjadinya Covid 19 (korona) dan untuk transmisi kebijakan yang akomodatif.

Menurut dia, penyebaran virus tersebut dapat mengganggu pemulihan perekonomian global, termasuk Indonesia dan wabah ini berpotensi membawa beberapa dampak terhadap perekonomian Indonesia melalui tiga jalur yaitu pasar keuangan, sektor riil, dan sektor pemerintah. Dan dampak dari virus ini akan lebih terasa oleh perekonomian Indonesia di bulan Februari dan Maret 2020.

Perry juga mengatakan bahwa hasil assessment Bank Indonesia, dampak yang ditimbulkan akan berpola V-shape yaitu mengalami penurunan signifikan pada kuartal I-2020, namun akan pulih secara berangsur-angsur selama enam bulan ke depan. Artinya, dampak secara keseluruhan masih akan terasa selama enam bulan ini.

Dari sisi sektor pariwisata, pihaknya memperkirakan akan ada penurunan devisa pariwisata mencapai kurang lebih US$ 1,3 miliar. Sementara di sektor perdagangan internasional, gangguan logistik dan distribusi dalam proses ekspor dan impor akan berpengaruh mengurangi devisa, masing-masing sebesar US$ 300 juta dan US$ 700 juta. Dari sisi investasi, Bank Indonesia juga memperhitungkan potensi terjadinya penundaan realisasi investasi khususnya dari Tiongkok sebesar kurang lebih US$ 400 juta.

Kemudian pihaknya juga menyampaikan bahwa GDP Indonesia diprediksikan akan berada dibawah 5% di akhir kuartal I – 2020. Sejauh ini Bank Indonesia terus aktif melakukan bauran kebijakan moneter dan makroprudensial yang akomodatif ditambah lagi dengan kebijakan fiskal Pemerintah dengan percepatan belanja atau frontloading, sehingga Bank Indonesia optimistis GDP akan bangkit pada kuartal III dan kuartal IV. Atas dasar hal ini, pihaknya melihat bahwa pertumbuhan Indonesia pada tahun 2021 akan berada dikisaran 5.2% - 5.6%.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN