Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Surat utang. Foto ilustrasi: DAVID

Surat utang. Foto ilustrasi: DAVID

Duh, Investor Surat Utang Masih Cemas

Senin, 5 Juli 2021 | 13:54 WIB
Ghafur Fadillah

JAKARTA, investor.id - Harga surat utang negara (SUN) diperkirakan melemah pada pekan ini. Para investor mengkhawatirkan peningkatan jumlah kasus Covid-19 di Tanah Air dan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) darurat.

Senior Economist Samuel Sekuritas Fikri C Permana mengatakan, pada pekan ini, asing juga berpotensi melakukan pemindahan dana dari emerging market seperti Indonesia. Ini sejalan dengan menurunnya data pengangguran meningkatkan ekspektasi pemulihan ekonomi di AS. Adapun pada pekan depan imbal hasil 10 tahun diperkirakan pada level 6,7%. “Selain itu, penguatan mata uang AS terhadap rupiah juga memberikan tekanan terhadap harga SUN Indonesia,” ujar Fikri kepada Investor Daily.

Dia menjelaskan, jumlah kasus terpapar Covid-19 dan PPKM akan menurunkan jumlah pendapatan pemerintah dari pajak, sehingga otomatis ruang fiskal Indonesia akan lebih sempit ke depan. Terlebih, PPKM ini dibarengi dengan pemberian stimulus berupa Bantuan Langsung Tunai (BLT).

“BLT ini dapat memberatkan neraca fiskal pada akhir tahun, sehingga memberikan risiko pada yield SUN jangka pendek semakin bertambah. Harga SUN bisa saja kembali menguat asal pemerintah mampu menjaga data neraca dagang dan stabilitas dari rupiah, dengan itu yield bisa relatif lebih stabil,” tegas Fikri.

Sementara itu, pada Selasa (6/7), Pemerintah Indonesia berencana melakukan lelang SUN dalam mata uang rupiah untuk memenuhi sebagian dari target pembiayaan dalam APBN 2021. Lelang ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan pemerintah terkait penanganan pandemi.

Dalam lelang tersebut pemerintah akan mengeluarkan sebanyak 7 seri yaitu, SPN-12211007, SPN 12220707, FR0090, FR0091, FR0088, FR0092 dan FR0089 30, dengan target indikatif mencapai Rp 33 triliun dan maksimal Rp 49,5 triliun.

Menurut Fikri, pemerintah akan mendapatkan total penawaran yang masuk pada kisaran Rp 70-80 triliun dengan dominan investor domestik baik dari perbankan dan dapen. Pasalnya, likuiditas dalam negeri saat ini dinilai masih sangat besar karena inflasi yang masih rendah dan juga kondisi sektor riil yang belum bertumbuh.

“Pemerintah diproyeksikan menyerap hingga Rp 40 triliun dengan seri yang diminati yakni seri jangka pendek bertenor 1,5, sampai 10 tahun. Dengan ruang fiskal yang masih terbatas diharapkan pemerintah dapat menyerap sebanyak-banyaknya penawaran yang masuk,” ujar dia.

Daya Tarik Pasar

Secara terpisah, analis Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan, imbal hasil untuk 10 tahun pada rentang 6,60% hingga 6,70%, sedangkan untuk rentang 15 tahun pada rentang 6,40% sampai 6,50% dan tenor 20 tahun pada kisaran 7,25%-7,35%.

Menjelang lelang, kata Nico, pemerintah akan mengalami kesulitan untuk meyakinkan para investor dan pelaku pasar, lantaran tingginya jumlah kasus Covid-19 saat ini, yang berpotensi menghambat pemulihan ekonomi yang sedang berjalan. Sebab itu menjadi alasan bagi para pelaku pasar untuk meminta imbal hasil yang lebih tinggi.

Kendati demikian, berkurangnya daya tarik pelaku pasar dan investor kemungkinan dapat tertutupi oleh kehadiran Bank Indonesia yang berkomitmen untuk menopang kebutuhan utang pemerintah.

“Imbal hasil obligasi yang akan diminta meskipun mengalami kenaikkan namun tetap masih dalam rentang toleransi pemerintah. Oleh sebab itu pelaku pasar dan investor tentu akan kesulitan apabila meminta imbal hasil yang lebih tinggi,” kata Nico.

Nico menilai, pelaku pasar dan investor cenderung berhati-hati, menunggu hasil pertemuan The Fed yang akan terjadi pada bulan Juli dan Agustus nanti. Selain itu, para pelaku pasar juga sedang mencermati kenaikan inflasi yang mulai konsisten dan proyeksi IMF yang mengatakan Taper Tantrum akan dimulai pada akhir tahun 2022 atau awal 2023.

“Untuk para investor, dengan ketidakpastian yang masih tinggi, wait and see bisa menjadi pilihan. Oleh sebab itu, pelaku pasar dan investor tetap memilih pada obligasi jangka pendek untuk meredam volatilitas. Obligasi 5 tahun-10 tahun mungkin akan cenderung disukai dengan total penawaran yang masuk diperkirakan akan berkisar Rp 40-50 triliun,” pungkas Nico.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN