Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kebun Sawit. Foto ilustrasi: IST

Kebun Sawit. Foto ilustrasi: IST

Dukungan Kas dan Induk Usaha Untungkan Lonsum

Parluhutan Situmorang, Kamis, 14 Mei 2020 | 05:05 WIB

JAKARTA, investor.id - PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) atau Lonsum memiliki sejumlah keunggulan untuk menaikkan kinerja keuangan tahun ini. Keunggulan tersebut berupa dukungan perusahaan induk, kas yang besar, dan potensi kenaikan rata-rata harga jual minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO).

Analis SinarmasSekuritas Andrianto Saputra mengungkapkan,Lonsum merupakan satu perusahaan perkebunan kelapa sawit dan CPO yang memiliki keunggulan dibandingkan perusahaan sejenis. Sebab, perseroan didukung oleh indukusahanya, yaitu PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP), yang fokus pada bisnis hilirisasi perkebunan kelapa sawit.

“Sebesar 70% pendapatan perseroan sepanjang tahun 2019 bersumber dari perusahaanterkait, seperti Salim Ivomas Pratama, yang tercatat sebagai perusahaan hilir minyak sawit terbesar di Indonesia,” tulis Andrianto dalam risetnya, baru-baru ini.

Dia menambahkan, selama pandemi Covid-19, permintaan minyak goreng memang diproyeksikan turun. Namun, penurunan tersebut diperkirakan sejalan dengan ekspektasi pelemahan produksi perseroan, sehingga volume penjualan perseroan tetap bisa berlanjut ke depan.

Selain faktor tersebut, Lonsum didukung oleh neraca keuangan yang kuat dengan kas dan setara kas yang besar dan tidak memiliki utang.

Berdasarkan data laporan kinerja keuangan perseroan terungkap bahwa kas akhir tahun lalu sebesar Rp 1,13 triliun, turun dari tahun sebelumnya Rp 1,66 triliun.

Petani kebun sawit . Foto ilustrasi: IST
Petani kebun sawit . Foto ilustrasi: IST

Terkait ekspektasi berlanjutnya penanaman kembali lahan (replanting) tahun ini, Andrianto menyebutkan bahwa itu hanya berimbas terhadap penurunan volume produksi CPO tahun ini. Replanting tidak akan berpengaruh terhadap keuangan perseroan demi memenuhi kebutuhan belanja modal yang besar dalam jangka pendek dan menengah.

“Kami memperkirakan kebutuhan belanja modal bukan masalah bagi perseroan, karena hingga kini Lonsum tercatat tidak memiliki utang. Selain itu, kas akhir tahun masih besar mencapai Rp 1,1 triliun, sehingga perseroan diproyeksikan dengan mudah mengatasi kebutuhan belanja modal ke depan,” ungkap dia.

Tahun ini, Sinarmas Sekuritas memperkirakan peningkatan volume produksi tandan buah segar (TBS) sawit dan CPO Lonsum masing-masing 4% dan 3,7%.

Adapun rata-rata harga jual diharapkan meningkat sekitar 10,8% menjadi Rp 7.543 tahun ini, sehingga kinerja keuangan perseroan bisa bertumbuh pesat. Berbagai faktor tersebut mendorong Sinarmas Sekuritas untuk memperkirakan kenaikan laba bersih Lonsum menjadi Rp 391 miliar tahun ini dibandingkan realisasi tahun lalu sebesar Rp 254 miliar.

Pendapatan perseroan juga diharapkan meningkat dari Rp 3,69 triliun menjadi Rp 3,75 triliun. Saham LSIP juga direkomendasikan beli dengantarget harga Rp 1.050.

Permintaan CPO

Petani di kebun sawit. Foto ilustrasi: Gora Kunjana
Petani di kebun sawit. Foto ilustrasi: Gora Kunjana

Sementara itu, Andrianto juga mengungkapkan, perusahaan perkebunan kelapa sawit dan CPO menghadapi sejumlah tantangan sepanjang tahun ini. Tantangan tersebut berasal dari penurunan permintaan CPO di tengah pandemic Covid-19. Penurunan harga minyak dunia juga berimbas negatif terhadap bisnis CPO tahun ini.

“Sejak pandemi Covid-19, saham sektor perkebunan sawit dan CPO telah anjlok cukup dalam atau melampaui kondisi sebenarnya. Harga saham sektor CPO turun sekitar 37% terhitung sejak awal tahun 2020 hingga kini dibandingkan dengan penurunan IHSG yang mencapai 26,5%,” jelas Andrianto.

Dia menegaskan, penurunan harga saham sektor perkebunan telah mencapai titik terendah dan semua berita negatif sudah tercermin pada harga sekarang, sehingga ke cil kemungkinan penurunan lebih lanjut. Faktor tersebut mendorong Sinarmas Sekuritas untuk merekomendasikan netral saham perkebunan dan CPO.

Terkait prospek bisnis CPO, menurut Andrianto, cenderung melemah setelah pandemi Covid-19 melanda dunia. Produksi turun seperti yang diumumkan Pemerintah Malaysia bahwa produksi CPO negara tersebut telah turun sekitar 25% hingga akhir Maret 2020.

Sedangkan permintaan juga melemah akibat lockdown sejumlah negara bersamaan dengan penurunan konsumsi domestik.

“Penurunan konsumsi domestik dipengaruhi faktor pelarangan bepergian atau penutupan sejumlah wilayah yang berdampak terhadap bisnis kuliner dan hotel. Penurunan juga dipicu oleh lockdown sejumlah Negara sehingga ekspor CPO terganggu,” jelas dia.

Dia juga mengkhawatirkan bahwa program mandatori biodiesel 30 tertunda akibat penurunan harga minyak dunia. “Sejak pandemi Covid-19, kami khawatir bahwa mandatory B30 di Indonesia dan B20 di Malaysia kemungkinan diundur. Sebab, program tersebut menjadi tidak efisien, apabila dibandingkan dengan harga pasar minyak dunia saat ini,” ungkap dia.

Sampel minyak sawit untuk B20, B30, hingga B100. Foto ilustrasi: Investor Daily/Gora Kunjana
Sampel minyak sawit untuk B20, B30, hingga B100. Foto ilustrasi: Investor Daily/Gora Kunjana

Berdasarkan data GAPKI bahwa permintaan CPO untuk program B20 mencapai 5,8 juta ton. Apabila program tersebut dinaikkan menjadi B30 diperkirakan penyerapan CPO untuk B30 mencapai 8,8 juta ton tahun ini. Jika diasumsikan harga jual minyak Brent US$ 30 per berel atau US$ 220 per ton dan CPO mencapai MYR 2.300 per ton atau US$ 523 per ton, pemerintah harus mengeluarkan dana tambahan dana senilai US$ 2,9 miliar untuk membiayai implementasi B30 tersebut.

“Hal ini kemungkinan membuat pemerintah untuk berpikir ulang dalam menerapkan program B30 tahun ini atau setidaknya selama pandemic Covid-19,” sebut Andrianto.

Meski industri CPO menghadapi tantangan berat, harga jual CPO tahun ini diproyeksikan lebih baik dibandingkan tahun lalu. Hal itu didukung oleh ekspektasi lonjakan permintaan CPO setelah pandemi Covid-19 berakhir.

Sedangkan penurunan produksi tandan buah segar (TBS) diharapkan menjadi faktor pendorong peningkatan harga jual CPO.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN