Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT). Foto: Perseroan.

PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT). Foto: Perseroan.

Eagle High Plantations Targetkan Kinerja Positif

Kamis, 13 Agustus 2020 | 11:51 WIB
Farid Firdaus (farid.firdaus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT) menargetkan arus kas operasional positif dan perbaikan kinerja di akhir 2020. Emiten Grup Rajawali ini menerapkan strategi peningkatan kualitas produksi minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) dan pelunasan kembali utang (refinancing).  

Direktur Eagle High Plantation Henderi Djunaidi mengatakan, perseroan telah melakukan refinancing sejak akhir tahun lalu. Perseroan mengambil kebijakan mengkonversi utang dalam dolar Amerika Serikat (AS) ke rupiah guna mengantisipasi fluktuasi nilai tukar.

“Kami tidak ada loan baru, kalau ada hanya untuk refinancing. Saat Desember 2019, rupiah pernah di Rp 13.000-an per dolar AS. Lalu sempat menyentuh Rp 16.000 di tahun ini, dan sekarang di level Rp 14.000-an,” jelas dia dalam pemaparan publik di Jakarta, Rabu (12/8).

Eagle High tercatat meraih sindikasi senilai US$ 383,06 juta dari PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) pada Desember 2019. Kedua bank BUMN tersebut masing-masing mengucurkan sekitar US$ 191,53 juta.

Sementara itu, kas bersih dari aktivitas operasi Eagle High mengalami negatif Rp 31,29 miliar hingga semester I-2020, membaik dibanding periode sama tahun lalu yang negatif Rp 601,69 miliar.

Menurut Henderi, secara industri terjadi kentungan yang rendah pada bisnis CPO selama semester I-2020. Sebab, banyak perusahaan CPO fokus melakukan pemeliharaan tanaman semaksimal mungkin supaya siap dipanen pada semester II-2020. Alhasil, perseroan lebih optimistis pada kondisi di semester II tahun ini.

Dia menambahkan, faktor kenaikan harga CPO juga diharapkan menjadi momentum perbaikan kinerja perseroan. Kenaikan harga dipicu oleh meningkatnya permintaan CPO, utamanya dari pasar Tiongkok. Hal ini ditambah lagi dengan menurunnya stok produksi khususnya di Malaysia.

Selain itu, himbauan pemerintah dalam memanfaatkan CPO sebagai alternatif bahan bakar melalui kebijakan B30 dan dipercepat dengan B100 dinilai menjadi sentimen positif. Pasalnya, kebijakan tersebut mampu memberikan prospek jangka panjang terhadap industri CPO.

Tahun ini, lanjut Henderi, perseroan cenderung wait and see dalam menggelar ekspansi baru lantaran pandemi. Selama semester I-2020, belanja modal (capital expenditure/capex) perseroan hanya diserap untuk peremajaan dan pengeluaran yang berhubungan dengan produksi sehingga nilainya tidak besar.

Perusahaan fokus menjaga dan meningkatkan kualitas produksi tandan buah segar dan minyak kelapa sawit secara konsisten sehingga mendapatkan harga premium.

“Pengeluaran yang sudah kita habiskan hinga saat ini untuk kebutuhan alat berat, perbaikan pabrik dan perumahan karyawan sekitar Rp 50 miliar,” jelas Henderi.

Selama semester I-2020, Eagle High mengantongi pendapatan usaha Rp 1,21 triliun, mendatar dibanding periode sama tahun lalu sebesar Rp 1,20 triliun. Sementara rugi bersih perseroan sebesar Rp 416,8 miliar, dari rugi bersih semester I-2019 senilai Rp 491,09 miliar.

Per Juni 2020, total aset perseroan mencapai Rp 15,58 triliun, dari posisi per akhir tahun lalu Rp 15,79 triliun. Aset tersebut terdiri atas total liabilitas Rp 11,41 triliun, dan ekuitas Rp 4,17 triliun. Kas dan setara kas perseroan per Juni 2020 sebesar Rp 29,26 miliar.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN