Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pengunjung melintas di depan layar elektronik yang menampilkan pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta, . Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Pengunjung melintas di depan layar elektronik yang menampilkan pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta, . Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Edukasi Jadi Kunci Pertumbuhan Jumlah Emiten

Senin, 10 Agustus 2020 | 13:26 WIB
Nabil Alfaruq (nabil.alfaruq@beritasatumedia.com) ,Farid Firdaus (farid.firdaus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Pengamat pasar modal, Budi Frensidy mengatakan, menjaring lebih banyak perusahaan untuk melantai di bursa domestik merupakan dilemma tersendiri. Soalnya, perusahaan tertutup (private) yang sudah sukses biasanya enggan mencatatkan saham di bursa karena merasa tidak memiliki kepentingan dari segi modal usaha.

Selain itu, para pemilik perusahaan besar menganggap menjadi perusahan terbuka akan disibukkan oleh berbagai macam administrasi.

“Untuk itu, otoritas perlu lebih giat lagi mendorong perusahaan-perusahan private untuk IPO dengan meawarkan berbagai macam insentif, baik insentif pajak maupun insentif lainnya, termasuk perizinan, sebagai sweetener,” ujar dia.

Pengamat pasar modal dari Universitas Indonesia (UI) Budi Frensidy. Foto: iaiglobal.or.id
Pengamat pasar modal dari Universitas Indonesia (UI) Budi Frensidy. Foto: iaiglobal.or.id

Untuk meningkatkan jumlah emiten, menurut Budi Frensidy, otoritas justru harus lebih intens mendorong badan usaha milik negara (BUMN) atau badan usaha milik daerah (BUMD) agar menjadi perusahaan tercatat di bursa (listed company). “Itu justru lebih mudah karena dimiliki pemerintah,” tandas dia.

Budi Frensidy mengakui, selama ini investor kerap dikejutkan oleh kasus pelanggaran di pasar modal. Kasus terbaru adalah PT Jouska Indonesia yang menghimpun dana masyarakat untuk diinvestasikan di saham-saham emiten berisiko tinggi dan berfundamental kurang bagus.

“Fokusnya masih pada kuantitas. Ke depan, kualitaslah yang harus dikejar agar market cap bursa kita meningkat signifikan dan pasar modal kita lebih tahan gejolak,” ucap dia.

Dia menambahkan, tidak masalah jika bursa menyasar perusahaan berskala usaha kecil dan menengah (UKM). Yang terpenting adalah bagaimana otoritas bursa menjadikan saham-saham small cap lebih likuid melalui berbagai mekanisme.

“Entah itu dengan menggunakan market maker atau mendorong jumlah investor. Intingnya, jangan sampai setelah mendapatkan dana hasil IPO, emitennya menghilang begitu saja,” tegas dia.

Menurut Budi Frensidy, untuk melindungi investor dari kasus kecurangan (fraud) di pasar modal, otoritas perlu memberikan proteksi lebih kepada para investor. “Otoritas bursa juga diharapkan lebih tegas menegakkan peraturan,” tutur dia.

Dalam soal edukasi, Budi menyarankan agar para emiten membuat tradisi memberi bonus atau insentif kepada karyawannya dalam bentuk saham.

“Ini dapat menjadi edukasi yang baik agar para karyawannya lebih melek investasi. Mereka akan tertarik berinvestasi di saham-saham lainnya. Ini juga dapat meningkatkan jumlah rekening saham,” papar dia.

Budi Frensidy mengapresiasi berbagai program yang digalakkan BEI dan OJK untuk meningkatkan jumlah investor dan jumlah emiten, misalnya program Yuk Nabung Saham. “Program seperti ini perlu terus digalakkan,” ucap dia.

Hal senada dikemukakan pengamat pasar modal, Fendy Susiyanto. Me nurut dia, otoritas bursa perlu me ng efektifkan edukasi agar jumlah investor pasar modal domestik terus meningkat.

“Dibandingkan Singapura yang memiliki jumlah investor hingga 30% dari populasi, jumlah investor di pasar modal kita terbilang kecil, baru mencapai 1%,” papar dia.

Fendy menjelaskan, kelas menengah Indonesia yang berjumlah 75-80 juta sangat potensial menjadi investor pasar modal. Yang perlu dilakukan adalah meyakinkan mereka dan memberikan pemahaman yang cukup tentang investasi di pasar modal, khususnya pasar saham.

“Kalangan milenial juga bisa menjadi investor potensial. Intinya ada pada literasi,” tegas dia.

Dia mengakui, BEI sudah memiliki berbagai macam mekanisme untuk mencegah pelanggaran dan kecurangan yang dapat merugikan investor, seperti unusual market activity (UMA) atau aktivitas perdagangan secara tidak wajar, suspensi sementara, dan penghentian perdagangan otomatis (auto rejection). OJK dan BEI juga sudah punya berbagai regulasi.

“Namun itu belum cukup karena tidak semua bisa dideteksi langung, misalnya cornering saham yang praktiknya sudah semakin canggih. Untuk menghindari hal ini, investor sebaiknya melakukan screening terlebih dahulu sebelum berinvestasi pada saham tertentu,” papar dia. (git/der/fur)  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN