Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi pertumbuhan ekonomi. FOTO : Afriadi Hikmal/JAKARTA GLOBE

Ilustrasi pertumbuhan ekonomi. FOTO : Afriadi Hikmal/JAKARTA GLOBE

Ekonomi Kuartal IV Diperkirakan Melambat, Ini Kata Danareksa Research Institute

Jauhari Mahardhika, Kamis, 21 November 2019 | 17:50 WIB

JAKARTA, investor.id – Danareksa Research Institute (DRI) memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal IV tahun ini berpotensi melambat, tetapi mendekati level 5% seiring dengan sejumlah tekanan dari dalam maupun luar negeri, serta pelaku pasar yang masih menunggu (wait and see) iklim usaha kondusif.

Head of Danareksa Research Institute Moekti Prasetiani Soejachmoen mengatakan, saat ini terjadi penurunan impor, terutama impor barang modal dan bahan baku. Ini berarti dalam 3-6 bulan ke depan, perekonomian Indonesia masih melambat.

Neraca perdagangan yang surplus pada Oktober lalu, juga dinilai bukan berarti pertanda yang baik karenabisa jadi surplus tersebut terjadi karena adanyapenurunan impor yang lebih dalam dari ekspor.

“Hal ini memberikan sinyal pada kuartal IV ini pertumbuhan ekonomi Indonesia lebih rendah dan sepanjang 2019 pertumbuhan ekonomi lebih mendekati 5%. Untuk mencapai 5,05% dirasa berat karena pengaruh impor yang terus menurun,” kata Moekti dalam keterangan resmi, Kamis (21/11).

Badan Pusat Statistik (BPS) sudah mengumumkan ekspor periode Oktober 2019 yang terkontraksi 6,13% year on year (yoy) dan impor turun 16,39% yoy. Ini membuat neraca perdagangan RI surplus US$ 160 juta. Selain itu, katanya, faktor perlambatan ekonomi juga dipengaruhi banyaknya pihak yang masih wait and see dengan iklim usaha di Indonesia.

Sebab itu, dia menegaskan, yang paling cepat dapat mendorong perekonomian Indonesia pada kuartal IV ini adalah belanja pemerintah (government spending), seperti bantuan sosial langsung ke masyarakat kelas bawah.

“Namun, saat ini nilainya tidak banyak, karena hingga Oktober 2019, realisasi bantuan sosial sudah mencapai 95%, sehingga dirasa tidak terlalu berdampak signifikan. Apalagi, ditambah dengan nilai impor yang turun lagi, sehingga dirasa berat,” jelas Moekti.

Sebagai informasi, pada kuartal III-2019, pertumbuhan ekonomi yang dilihat dari produk domestik bruto (PDB) Indonesia tumbuh 5,02% yoy. PDB tersebut melambat dari kuartal I dan II-2019 yang tumbuh masing-masing 5,07% dan 5,05%. PDB kuartal III bahkan menjadi yang terendah sejak kuartal II-2017.

Moekti menjelaskan bahwa perlambatan ekonomi Indonesia saat ini merupakan dampak dari perlambatan ekonomi global. Itu artinya, permintaan dunia terhadap barang-barang produksi negara-negara juga turun, yang pada akhirnya berdampak pada sektor manufaktur dan komoditas. Saat ini, ekspor komoditas Indonesia secara volume naik, tetapi karena harganya turun, maka nilai ekspor Indonesia juga turun.

Danareksa pun optimistis ekonomi pada 2020 akan lebih baik dibandingkan 2019 karena efek perang dagang AS-Tiongkok sudah mulai mereda, adanya kepastian Brexit (keluarnya Inggris dari Uni Eropa), dan dampak dari penurunan suku bunga BI yang akan mulai terasa pada awal 2020.

“Sehingga, suku bunga pinjaman turun dan diharapkan bisnis sektor mulai meminjam dana modal ke bank, sehingga produksi meningkat dan berdampak pada pertumbuhan ekonomi Indonesia,” ungkapnya.

Suku Bunga BI

Sementara itu, Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan BI-7 Day Reserve Repo Rate yang sebesar 5%. Terakhir, BI menurunkan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5% pada 24 Oktober silam.

Menurut Moekti, dampak penurunan suku bunga BI baru dapat dirasakan sekitar awal tahun depan. “Penurunan suku bunga BI harus di-adopt ke bank-bank, biasanya transmisinya butuh waktu hingga 9 bulan,” katanya.

Selain itu, meskipun bank-bank memiliki uang berlebih untuk menyalurkan kredit, namun saat ini mereka lebih berhati-hati untuk memberikan kredit, lantaran sejak beberapa tahun lalu NPL atau tingkat kredit bermasalah di beberapa bank cukup tinggi.

Sebelumnya, BI sudah empat bulan beruntun menurunkan suku bunga acuan, masing-masing 25 basis poin (bps). Ini menjadi penurunan paling agresif sejak 2016.

Tak hanya suku bunga, Moekti juga menyoroti beberapa sektor di tengah belum kondusifnya pasar modal Tanah Air. Sektor yang paling terdampak dengan adanya perlambatan ekonomi adalah sektor manufaktur dan komoditas.

Di sektor komoditas, apabila harganya turun (harga komoditas dunia), maka akan berdampak ke sektor pendukung lain, misalnya untuk minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO), lalu akan berimbas ke petani sawit, pemilik kapal tongkang, logistik, serta dapat berdampak pula ke kredit macet di perbankan dan lainnya.

“Pada kuartal IV ini harga komoditas dunia masih turun, jadi saat ini rasanya masih susah untuk dapat lebih baik. Dan, untuk memperbaiki neraca transaksi berjalan (current account deficit/CAD) saat ini adalah menaikkan investasi yang untuk sektor ekspor,” tutur dia.

Moekti menegaskan, sektor consumer mikro tidak terlalu berpengaruh atas perlambatan ekonomi. “Konsumen sektor mikro adalah kelas menengah ke bawah. Selama daya beli kelas menengah ke bawah tidak berkurang, maka sektor mikro tidak terlalu berpengaruh,” katanya.

Apalagi, sektor mikro yang memproduksi makanan atau kebutuhan sehari-hari. Biasanya apabila terjadi perlambatan ekonomi, sektor makanan dan minuman tidak banyak menurun karena sebagai kebutuhan pokok.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA