Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE). Foto: Perseroan.

PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE). Foto: Perseroan.

Ekspansi di Tengah Pandemi, BSD Pangkas 'Capex'

Sabtu, 11 Juli 2020 | 16:16 WIB
Farid Firdaus (farid.firdaus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) menyiapkan belanja modal (capital expenditure/capex) sekitar Rp 2-2,5 triliun tahun ini. Nilai tersebut terpangkas 50% dari anggaran semula Rp 4-5 triliun lantaran penyesuaian ekspansi di tengah pandemi Covid-19.

Sekretaris Perusahaan Bumi Serpong Damai atau BSD Christy Grasella mengatakan, perseroan akan memotong separuh anggaran capex dengan mempertimbangkan faktor pandemi. Salah satu proyek perseroan yang tertahan pekerjaannya karena Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) adalah jalan tol Serpong-Balaraja.

“Jalan tol ini harusnya memakan capex Rp 700 miliar. Tapi karena PSBB, tim dari PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) sempat setop konstruksi. Jadi tentu capex tol juga berkurang tahun ini,” jelas dia saat pemaparan publik secara virtual, Jumat (10/7).

Menurut Christy, perseroan lebih waspada dalam pengeluaran capex selama pandemi, yakni dengan tidak melakukan pembelian tanah ataupun pembukaan lahan baru.

Hingga kuartal I-2020, BSD memiliki kas dan setara Rp 10,42 triliun yang mencerminkan terjaganya likuiditas. Sebanyak Rp 4,3 triliun dana yang ada di kas tersebut merupakan hasil dari emisi penerbitan global bond US$ 300 juta pada Januari lalu. Perseroan akan menggunakan hasil emisi untuk membayar surat utang yang jatuh tempo April 2021.

Posisi modal perseroan turut diperkuat dengan dana segar senilai Rp 1,23 triliun dari penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (non-HMETD). Aksi private placement tersebut dituntas Juni lalu. Namun, dana tersebut cenderung dimanfaatkan perseroan untuk rencana jangka menengah dan panjang.

Selama PSBB, lanjut Christy, manajemen mencari jalan terbaik bagi para penyewa ruang perkantoran dan pusat belanja yang dikelola perseroan. Semisal, adanya keringanan biaya sewa yang bisa saling mendukung keberlanjutan bisnis.

“Sementara dari sisi leverage. Kami berkomunikasi dengan pada kreditur supaya bisa menjaga cash flow. PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) telah memberikan kami dua kali keringanan floating rate,” jelas dia.

Sementara itu, perseroan juga mengkaji untuk merevisi target pra penjualan (marketing sales) tahun ini karena faktor pandemi. Namun, perseroan belum menetapkan revisi lantaran masih melihat perkembangan ke depan. Hingga kuartal I-2020, perseroan membukukan marketing sales sebanyak Rp 1,8 triliun, atus 25% dari target tahun ini Rp 7,2 triliun.

Christy menambahkan, sejak tahun lalu hingga saat ini, perseroan fokus pada penjualan rumah pada rentan harga Rp 1-2 miliar. Hunian ini menyasar pembeli rumah pertama dan kelompok usia milenial. “Sejak Maret kami melakukan promo move in quickly. Di sini kami menawarkan produk hunian yang masih under construction, respon pasar cukup baik, kami bisa membukukan penjualan hingga Rp 650 miliar,” ujar dia.

Duta Pertiwi

Sementara itu, anak usaha BSD, PT Duta Pertiwi Tbk (DUTI), juga memprioritaskan ekspansi pada proyek yang sudah berjalan ketimbang memulai proyek baru pada tahun ini.

Menurut Christy, proyek yang masih dijalankan adalah mixed use Southgate yang mencakup tiga menara apartemen, satu menara perkantoran, dan AEON Mall di Tanjung Barat, Jakarta Selatan. "Untuk Southgate Residence, berjalan sesuai komitmen dan kami upayakan serah terima atau hand over dipercepat," jelas dia.

Adapun AEON Mall ditargetkan beroperasi pada Maret 2021. Perseroan mengucurkan investasi sekitar Rp 1,1 triliun untuk pendirian mall, yang sebagian besar anggaran sudah terserap. Dari alokasi tersebut, anggaran tahun ini hanya sekitar Rp 200 miliar.

Direktur Utama Duta Pertiwi Teky Mailoa menambahkan, pusat perbelanjaan yang dimiliki oleh perseroan seperti kawasan ITC berpotensi mengalami penurunan pendapatan hingga 50% selama pemberlakuan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Pasalnya perseroan memberikan keringanan biaya service charge sekitar 30%-50%.

Hingga kuartal I-2020, perseroan mengantongi marketing sales Rp 276 miliar, sementara selama kuartal II-2020, manajamen cenderung pasif dalam memasarkan produknya karena PSBB. Sehingga target marketing sales yang diharapkan mencapai Rp 1,5 triliun tahun ini juga berpeluang direvisi.

RUPST Duta Pertiwi sepakat untuk membagikan dividen senilai Rp 555 miliar atau setara Rp 300 per saham. Nilai tersebut sebesar 50,32% dari laba bersih yang dibukukan pada tahun 2019.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN