Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pengerjaan timah. Foto: Investor Daily/DEFRIZAL

Pengerjaan timah. Foto: Investor Daily/DEFRIZAL

Ekspansi Smelter, Finnvera Bantu Timah

Farid Firdaus, Selasa, 27 Agustus 2019 | 18:11 WIB

JAKARTA, investor.id – PT Timah Tbk (TINS) menyiapkan ekspansi fasilitas pengolahan dan pemurnian mineral (smelter) berteknologi ausmelt senilai US$ 80 juta. Pendanaan proyek ini akan dibantu oleh export credit agency asal Finlandia, Finnvera.

Direktur Keuangan Timah Emil Ermindra mengatakan, perseroan telah mengantongi persetujuan prinsip untuk pembiayaan melalui skema export credit agency. Nantinya, persetujuan final tergantung dari hasil Finnvera yang kini sedang melakukan verifikasi terhadap uji lingkungan proyek smelter.

“Finnvera sudah menyatakan bersedia membiayai 100%. Nanti, September mereka mau datang ke sini, mudah-mudahan ada kesepakatan final,” jelas dia di Jakarta, Selasa (27/8).

Menurut Emil, smelter ausmelt ini akan dibangun di lahan yang sudah tersedia, yakni komplek pabrik Timah di Muntok, Bangka Belitung. Rencananya, kapasitas pengolahan smelter mencapai 45 ribu ton Sn. Perseroan telah mencanangkan proyek ini sejak akhir 2018. Sementara target konstruksinya diproyeksikan rampung pada akhir 2020. Alhasil, smelter bisa berproduksi pada 2021.

Perseroan belum dapat mengungkap detail pendanaan dari Finnvera termasuk tenor pinjaman, sebelum adanya kesepakatan final. Sementara dari sisi teknologi, Timah akaan menggandeng perusahaan teknologi Outotec Pty Ltd pada smelter ini.

Sebagai informasi, Outotec Pty Ltd menguasai teknologi ausmelt setelah perseroan mengakuisisi perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Australia, Ausmelt Ltd pada 2010.

Menurut Sekretaris Perusahaan Timah Abdullah Umar Baswedan, dengan teknologi ausmelt, smelter ini dinilai lebih baik dan cenderung efisien dibanding smelter Timah sebelumnya. Tak ketinggalan, smelter juga jauh lebih ramah lingkungan.

“Smelter ini nantinya bisa mengolah Timah dengan kadar yang rendah, dan dimungkinkan batubara kelas menengah untuk bahan bakarnya, sehingga menjadi irit dan efisien,” jelas dia.

Proyek Nigeria

Lebih lanjut, Timah juga memastikan proyek di Nigeria, Afrika tetap berjalan. Sejak 2017, perseroan telah melakukan eksplorasi untuk mengetahui cadangan yang ada di tambang tersebut. Sebagai informasi, proyek smelter ini merupakan hasil dari perusahaan patungan antara Timah dengan Topwide Venture Ltd. Masing-masing memiliki komposisi saham sebesar 50%.

Emir menjelaskan, perseroan berharap segera melanjutan ekspansi tersebut ke tahap pembangunan smelter. Untuk sementara, perseroan memperkirakan, produksi awal bakal sebanyak 5.000 ton per tahun. Nilai investasinya pun masih di bawah US$ 20 juta.

“Saat ini, eksplorasinya hampir selesai. Nanti kalau cadangannya bisa ditemukan lebih banyak lagi, tentu kami akan melakukan pengembangan selanjutnya,” kata dia.

Timah pun optimistis mampu mengejar target penjualan timah sebanyak 60 ribu metrik ton sepanjang tahun ini.Angka tersebut jauh lebih tinggi dari Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) 2019 sebesar 38 ribu metrik ton.

Hingga semester I-2019, penjualan perseroan mencapai 31,6 ribu metrik ton, melonjak signifikan dibanding periode sama tahun lalu 12,7 ribu metrik ton. Harga penjualan rata-rata hingga Juni 2019 sebesar US$ 20.322 per metrik ton, turun dibanding periode sama tahun lalu US$ 21.389 per metrik ton.  

Sementara itu, produksi logam timah perseroan mencapai 37,7 ribu ton per Juni 2019, atau naik lebih dari tiga kali lipat dibanding periode sama tahun lalu 12,3 ribu metrik ton. Produksi bijih timah juga bertambah menjadi 47,4 ribu ton Sn, dari semester I-2018 yang mencapai 15,1 ribu ton Sn.

Seiring meningkatnya penjualan, pendapatan perusahaan juga turut melonjak 108% menjadi Rp 4,23 triliun dari realisasi semester I-2018 sebesar Rp 2,03 triliun. Peningkatan ini membuat laba bersih meroket 447% menjadi Rp 301 miliar, dibandingkan semester I-2018 sebesar Rp 55 miliar.

Salah satu strategi perseroan untuk memperluas basisi pelangga tahun ini adalah menggandeng BUMN lain yang bergerak dalam bidang pergudangan yaitu PT Bhanda Ghara Reksa (BGR), untuk melakukan perdagangan komoditas timah batanga di PT Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) atau Jakarta Futures Exchange (JFX).

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA