Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG). Foto: Perseroan.

PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG). Foto: Perseroan.

Ekspansi, Tower Bersama Alokasikan Dana Hingga Rp 2 Triliun

Farid Firdaus, Selasa, 18 Februari 2020 | 22:35 WIB

JAKARTA, investor.id – PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) menyiapkan belanja modal (capital expenditure/capex) sekitar Rp 1-2 triliun tahun ini. Anggaran tersebut akan diserap perseroan untuk menambah 3.000 penyewa (tenant) baru sepanjang 2020.

Sekretaris Perusahaan Tower Bersama Infrastructure Helmy Yusman Santoso mengatakan, sebagian besar ekspansi menara telekomunikasi untuk menambah tenant akan dilakukan di luar Jawa. Pihaknya menilai, semua perusahaan telekomunikasi saat ini terus menambah jaringan, sehingga secara organik peluang perusahaan menara lebih baik tahun ini.

“Penambahan 3.000 tenant ini di luar rencana anorganik. Kami fokus terlebih dulu pada organic growth. Sepanjang tahun lalu, kami berhasil mendapatkan lebih dari 3.000 tenant baru,” kata Helmy kepada Investor Daily di Jakarta, baru-baru ini.

Dia menegaskan, perseroan juga membuka peluang anorganik atau aksi akuisisi, jika memang ada pihak yang menawarkan penjualan menara tahun ini. Strategi tersebut kerap masuk dalam daftar perseroan, setidaknya dalam dua tahun terakhir.

Seperti diketahui, meskipun tak menjadi pemenang, perseroan konsisten menjadi peserta  lelang penjualan menara telekomunikasi  PT Indosat Tbk (ISAT) pada Oktober 2019 dan lelang PT XL Axiata Tbk (EXCL) pada awal tahun ini.

Pada bagian lain, Tower Bersama juga merealisasikan akuisisi saham perusahaan menara selama 2018-2019, seperti PT Gihon Telekomunikasi Indonesia Tbk (GHON) dan PT Visi Telekomunikasi Infrastruktur Tbk (GOLD). Per 31 Januari 2020, kepemilikan Tower Bersama pada dua perusahaan menara tersebut masing-masing sebanyak 50,43% dan 51,09%.

Tahun ini, perseroan akan melanjutkan program pembiayaan kembali (refinancing) utangn. Menurut Helmy, pihaknya akan mencari pendanaan untuk refinancing utang melalui emisi obligasi rupiah. “Saat ini, jumlah obligasi yang akan diterbitkan masih kita diskusikan,” jelas dia.

Perseroan tercatat masih memiliki program Penawaran Umum Berkelanjutan (PUB) III dengan sisa plafon sekitar Rp 5 triliun, dari total target emisi Rp 7 triliun. Perseroan telah melangsungkan tahap satu dan tahap dua pada 2018 dengan nilai masing-masing Rp 608 miliar dan Rp 628 miliar. Sementara pada 2019, perseroan melakukan penerbitan tahap III senilai Rp 750 miliar.  

Sebelumnya, perseroan berhasil merilis senior notes US$ 350 juta bertenor lima tahun dengan tingkat suku bunga 4,25% pada Januari 2020. Dana hasil emisi senior notes 2020 digunakan untuk membayar seluruh saldo terutang dan fasilitas revolving senilai US$ 300 juta atau disebut fasilitas B. Perseroan juga membayar sebagian saldo terutang dari fasilitas pinjaman revolving senilai US$ 200 juta, yang merupakan revolving loan fund (RLF) tahun 2017.

Setelah pelunasan utang, total pinjaman bruto Tower Bersama per 30 September 2019 yang dicatatkan menjadi Rp 23,59 triliun atau setara US$ 1,66 miliar. Sedangkan kas setara kas perseroan menjadi Rp 996,30 miliar atau US$ 70,2 juta.

Perhitungan tersebut telah memasukkan pelunasan obligasi rupiah oleh perusahaan sebesar Rp 628 miliar atau sekira US$ 44,3 juta dan pinjaman perseroan yang timbul sejak 30 September 2019 sampai 13 Januari 2020.

Hingga kuartal III-2019, Tower Bersama berhasil mencatat pendapatan dan EBITDA masing-masing sebesar Rp 3,46 triliun dan Rp 2,95 triliun. Jika pencapaian kuartal III ini disetahunkan, maka total pendapatan dan EBITDA perseroan mencapai Rp 4,76 triliun dan Rp 4,06 triliun.

Likuiditas Saham

Pada Januari lalu, saham emiten berkode TBIG ini masuk ke anggota LQ45, setelah Bursa Efek Indonesia (BEI) merombak konstituen penghuni LQ45 untuk periode Februari 2020-Juli 2020. Saham TBIG masuk ke daftar tersebut bersama saham PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) dan PT Ace Hardware Indonesia Tbk (ACES) per 3 Februari 2020.

Sebelumnya, perseroan memutuskan untuk melaksanakan pemecahan nilai nominal saham (stock split) dengan rasio 1:5 pada November 2019. Akibat aksi ini, jumlah saham beredar entitas Grup Saratoga itu pun akan meningkat dari 4,53 miliar saham menjadi 22,65 miliar saham.

Analis Binaartha Sekuritas Nafan Aji Gusta merekomendasikan hold saham TBIG dengan target harga jangka panjang Rp 1.385. Pada penutupan Selasa (18/2), TBIG bertengger di posisi Rp 1.205.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN