Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Emas batangan. Foto ilustrasi: IST

Emas batangan. Foto ilustrasi: IST

Emas Rebound US 8,7 karena Kekhawatiran atas Virus Korona

Gora Kunjana, (elgor)  Jumat, 24 Januari 2020 | 08:07 WIB

CHICAGO, investor.id - Emas berbalik naik atau rebound pada akhir perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB), karena meningkatnya kekhawatiran atas wabah Virus Korona di Tiongkok dan dampaknya terhadap ekonomi global membebani sentimen untuk aset-aset berisiko, menopang permintaan terhadap aset-aset safe-haven seperti emas.

Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Februari naik US$ 8,7 atau 0,56%, menjadi ditutup pada US$ 1.565,40 per ounce. Emas berjangka turun US$ 1,2 atau 0,1% menjadi US$ 1.556,7 per ounce pada akhir perdagangan Rabu (22/1/2020).

Sementara itu harga spot emas menguat 0,4% menjadi diperdagangkan di US$ 1.564,13 per ounce pada pukul 1.48 sore waktu setempat (1848 GMT).

"Virus Korona telah membawa orang ke emas karena ada antisipasi dari banyak potensi gejolak dalam ekonomi yang terpengaruh," kata Jeffrey Sica, pendiri Circle Squared Alternative Investments.

"Ini menambah tingkat ketidakpastian pada pasar keseluruhan yang memaksa orang untuk mempertimbangkan lebih banyak tempat berlindung yang aman jika ini menjadi epidemi yang lebih besar."

Pemerintah Tiongkok menempatkan jutaan orang di dua kota dalam isolasi ketika jumlah kematian mencapai 18 orang, dan 634 orang terinfeksi.

Ketakutan virus korona menyebabkan kejatuhan terbesar di saham Tiongkok dalam lebih dari delapan bulan, yang pada gilirannya membebani pasar ekuitas global.

Lebih lanjut memetik manfaat dari daya tarik emas batangan, imbal hasil surat utang AS jatuh ke posisi terendah beberapa minggu. Imbal hasil obligasi yang lebih rendah mengurangi potensi kerugian memegang emas yang tanpa memberikan suku bunga.

"Ekuitas sedikit lebih lemah sehingga memicu minat pada logam," kata Bob Haberkorn, ahli strategi pasar senior di RJO Futures.

“Tapi tidak adanya risiko geopolitik dalam jangka pendek membuat harga emas terkendali. Pertemuan Bank Sentral Eropa (ECB) tidak terlalu banyak menggerakkan pasar.”

Bank Sentral Eropa mempertahankan suku bunga tidak berubah pada pertemuan kebijakan terbaru dan meluncurkan "tinjauan strategis" target inflasi dan alat-alatnya.

Emas, dianggap sebagai penyimpan nilai yang aman di saat ketidakpastian politik dan ekonomi, naik ke tertinggi tujuh tahun mendekati US$ 1.610,90 pada 8 Januari setelah meningkatnya ketegangan AS-Iran. Emas telah bertahan di atas US$ 1.550 untuk sebagian besar sejak itu.

Fokus sekarang akan beralih ke pertemuan pertama Federal Reserve (Fed) AS tahun ini yang dijadwalkan 28-29 Januari.

Harga spot emas bisa kembali ke terendah 21 Januari di US$ 1.545,96, tampak goyah di sekitar resistensi pada US$ 1.564, kata analis teknis Reuters Wang Tao.

Di antara logam mulia lainnya, harga spot paladium turun 0,6% menjadi US$ 2.457,51 per ounce, perak turun 0,1% menjadi US$ 17,80 dan platinum turun 0,7% menjadi US$ 1.004,83.

Di pasar berjangka, perak untuk penyerahan Maret naik US$ 0,1 atau 0,01%, menjadi ditutup pada US$ 17,829 per ounce. Platinum untuk penyerahan April turun US$ 14 atau 1,37%, menjadi menetap di US$ 1.007,3 per ounce.

Sumber : ANTARA

BAGIKAN